Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Duh, Temukan 20 Pasangan LGBT di Kota Probolinggo Positif HIV, Ini Langkah Pemkot-DPRD

Arif Mashudi • Selasa, 24 Juni 2025 | 15:42 WIB

 

 

Ilustrasi logo HIV
Ilustrasi logo HIV

KANIGARAN, Radar Bromo– Kasus pasangan sejenis (LGBT) kini jadi sorotan di Kota Probolinggo. Sebab, ada 20 pasangan sejenis yang ditemukan positif HIV.

Ironisnya, mayoritas pasangan sejenis itu masih remaja. Bahkan, ada yang statusnya masih pelajar SMP.

Hal ini terungkap saat Komisi III DPRD Kota Probolinggo menggelar rapat bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) membahas rencana Perubahan APBD 2025, Senin (23/6).

Anggota Komisi III Eko Purwanto mengatakan, dirinya menemukan fakta bahwa penyebaran HIV di kota banyak yang disebabkan karena pergaulan bebas sesama jenis atau LGBT.

”Saya kaget karena tidak pernah diinformasikan ke kami ada kasus HIV yang penyebabnya karena (pergaulan bebas) pasangan sejenis. Ternyata, tidak ada anggaran juga untuk relawan pendamping penderita HIV ini,” katanya.

Eko menerangkan, dia berusaha melakukan pendekatan untuk menggali informasi tersebut.

Ini dilakukan karena sulit sekali masuk dalam komunitas LGBT ini. Dari sana Eko mengetahui, ada 20 pasangan sesama jenis di kota.

”Mendadak terdeteksi, di Kota Probolinggo ada 20 pasangan remaja (sesama jenis). Bahkan, mereka terjangkit (HIV) semua,” terangnya.

Dengan kondisi itu, Eko meminta agar pemerintah hadir dengan sejumlah program.

Mulai dari program pendampingan terhadap penderita HIV, hingga pencegahan terjadinya kasus pasangan sesama jenis.

Eko juga menekankan agar pemkot fokus pada progam penanganan dan pencegahan LGBT. Sehingga, perilaku LGBT ini tidak terus meluas.  

”Sekarang sudah berkembang ke Kota Probolinggo dan saya tahu lokasinya. Kasus LGBT ini ternyata paling banyak di usia 17 tahun. Sementara yang terdeteksi 20 pasang dan semuanya positif HIV. Kondisi ini harus segera disikapi dan pemerintah harus hadir,” tegasnya.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo Nunung Toha menambahkan, perlu ada perhatian dari pemerintah terhadap kasus ini sebagai bentuk pemerintah hadir.

Paling tidak, harus ada upaya pencegahan dari pemerintah, melalui sosialisasi atau kegiatan lain.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Kota Probolinggo Rey Suwigtyo menerangkan, program khusus penanganan kasus LGBT atau penderita HIV memang tidak ada. Namun, dirinya akan berkoordinasi dengan Polres lebih lanjut.

Pihaknya juga akan melakukan asesmen dengan psikolog untuk pemulihan jiwa para pelaku LGBT.

Sehingga, mereka bisa kembali ke habitatnya sebagai laki-laki atau perempuan sejati.

”Tidak mudah untuk penanganan ini. Harus pendekatan dari segala sisi. Karena itu, kami bisanya bayar psikolog,” ujarnya.

Tyok–panggilannya–menambahkan, pihaknya juga akan segera melakukan sosialisasi tentang HIV.

Termasuk sosialisasi penanganan dan pencegahannya. Sasarannya yaitu anak-anak usia 15 tahun ke atas dan orang tuanya.

”Untuk pasangan sejenis, kami sudah melakukan deteksi dini dengan teman-teman polisi. Kami masih carikan solusi dan memulihkan psikologi para pelakunya,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes-P2KB Kota Probolinggo Nurul Hidayati Hasanah mengaku, pihaknya belum dapat memastikan apakah kasus LGBT yang dimaksud anggota DPRD merupakan penderita HIV seluruhnya atau tidak.

Juga belum dapat dipastikan apakah mereka sudah masuk dalam data penderita HIV yang dimiliki Dinkes P2KB.

”Kalau yang dimaksud Pak Eko (anggota Komisi III), saya belum konfirmasi datanya ke Beliau. Apakah termasuk data (penderita HIV) yang ada di kami atau bukan. Nanti akan ditelusuri lebih lanjut,” terangnya. (mas/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#hiv #aids #lgbt #pasangan sejenis #probolinggo