PROBOLINGGO, Radar Bromo – Akibat terjangan air dan sampah, Dam Kelep atau Dam Sumber Kareng di Kelurahan Pohsangit Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, jebol.
Dam yang berdiri sejak tahun 1900-an ini jebol sekitar pukul 02.30, Rabu (15/1) dini hari.
Kejadian itu menyebabkan aliran irigasi ke lahan persawahan di wilayah sekitar terganggu. Air sungai yang mengairi sekitar 194 hektare sawah sempat terhenti.
Suraji, 63, warga sekitar mengaku, mendengar suara gemuruh pada Rabu dini hari. Namun, ia tidak menyangka bahwa Dam Kelep saat itu jebol.
Dia baru tahu Dam Kelep jebol setelah subuh. “Habis subuh saya keluar rumah. Baru saya melihat dam sudah jebol,” ujarnya.
Begitu dam jembol, menurut Suraji, ratusan hektare sawah di sekitar tak teraliri air.
Para petani sempat kelimpungan sebentar. Namun, mereka segera memanfaatkan sumber air yang lain untuk sementara. Yaitu, sumur bor dan tadah hujan.
“Saat ini, air hujan dan sumur bor masih bisa membantu. Tapi untuk jangka panjang, kami sangat membutuhkan perbaikan dam,” katanya.
Menurut Rusaji, penggunaan sumur bor membutuhkan biaya lebih tinggi. Sebab, mesin bor membutuhkan solar sebagai bahan bakar.
Sementara dengan irigasi dari sungai, para petani relatif tidak mengeluarkan biaya untuk pengairan.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Probolinggo Nurkholiq membenarkan jebolnya Dam Kelep.
Menurutnya, dam jebol diduga sebagai akumulasi terjangan air dan material. Seperti balok kayu yang terbawa arus air.
Sebab, pada malam sebelum dam jebol, sebenarnya air dam tidak sedang tinggi.
Karena saat itu dam sudah dikuras. Sehingga, kondisi air dam agak rendah. Namun, memang ada banyak material sampah yang terbawas arus air. Seperti balok kayu.
“Banjir sebelumnya tidak tinggi, tapi kerusakan ini kemungkinan akumulasi dari beberapa kejadian sebelumnya. Bahkan, dudukan engselnya sampai jebol,” tambah Nurkholiq.
BPBD sendiri, menurut Nurkholiq, langsung melakukan asesmen di lokasi dam yang jebol. Akar pohon besar masih menyangkut di pintu air.
Untuk memastikan keamanan warga sekitar, BPBD memasang garis pembatas di lokasi. Lalu, akses jalan di atas pintu air ditutup sementara untuk mengantisipasi warga melintas.
“Sebab, jalan di atas dam sering dilewati warga sebagai jalan pintas. Ini sementara kami tutup karena takut membahayakan,” jelasnya.
Sampai kemarin siang, arus dan ketinggian air terpantau aman dan lancar. Namun, material sampah masih menumpuk.
Kepala Dinas PUPR PKP Kota Probolinggo Setyorini Sayekti menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan UPT Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Timur untuk perbaikan dam.
“Sebagai langkah sementara, kami menutup dam dengan skot balok agar air tetap bisa mengalir ke saluran irigasi. Namun, jika terjadi banjir, skot harus diangkat,” tuturnya.
Koordinator Operasi Wilayah Kota/Kabupaten Probolinggo dari PU SDA Jatim Joko Slamet menjelaskan, kondisi pintu Dam Kelep tidak stabil akibat besarnya debit air Sungai Legundi pada 9 Januari.
Ditambah, debir air itu membawa material pohon yang saat ini tersangkut di pintu air dam.
“Karena kondisi itu, Dekzerk pintu retak dan pintu bendung (pintu klep) jebol,” terangnya.
Joko menegaskan, perbaikan permanen atas dam yang jebol akan segera dilakukan.
“Kami mengecek pada Minggu (12/1). Sebenarnya perbaikan sudah direncanakan, tetapi kami masih mencari bahan yang sesuai. Seperti besi yang sesuai,” katanya.
Menurutnya, sebelum dam jebol, pintu penguras dam sempat dibuka penuh. Sehingga, material seperti kayu gelondongan dan sampah tertumpuk di tengah dam. Hal ini mengurangi tekanan air yang dibutuhkan untuk membuka klep.
“Ketika air datang, dorongannya kurang kuat karena material sudah menumpuk. Akhirnya, kerusakan ini terjadi,” ungkapnya.
Kayu gelondongan yang tampak di Dam Kelep berasal dari hulu sungai. Yakni, sekitar 300 meter ke arah timur.
“Kayu ini cukup besar. Kami mencoba mengangkatnya dengan ekskavator kecil, tetapi tidak kuat. Jika menggunakan excavator long arm, ada risiko menyangkut kabel listrik di sekitar lokasi,” tambah Joko. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi