Sunaryono, tokoh warga Tengger yang juga Kades Ngadisari, Kecamatan Sukapura, menjelaskan, secara filosofi tidak sembarang orang bisa memakai Udeng Tengger ini. Sebab, pemakaiannya berarti siap menerapkan filosofi yang terkandung pada udeng tersebut.
“Tidak sembarang orang bisa memakai udeng ini. pemakainya harus faham dengan maknanya. Kalau tidak paham lalu memakai, ya akhirnya asal memakai saja,” katanya, Kamis (8/6).
Salah satu filosofi yang kuat dalam udeng itu, yaitu dua segitiga yang ada di bagian depan udeng. Ada segitiga terbalik yang memiliki arti kekuatan api, air, dan angin dalam diri manusia. Maksudnya, pemakainya harus menyeimbangkan ketiga unsur tersebut dalam dirinya.
“Apabila apinya terlalu tinggi, sedikit-sedikit marah. Harus diimbangi kekuatan air. Begitupun apabila airnya terlalu besar, maka cenderung diam atau pasif. Apabila kekuatan anginnya besar, kita mudah terombang-ambing,” terangnya.
Selain itu, udeng secara harfiah berasal dari kata untunge seng mudeng atau beruntung orang yang mengerti. Sementara Tengger dari kata anteng dan seger. Artinya, masyarakat yang tenang dan segar secara kepribadian, menggambarkan kepribadian masyarakat Tengger.
“Maknanya secara umum bahwa pada dasarnya perbuatan yang baik, berasal dari perkataan yang baik. Perkataan yang baik bermuara dari pikirin yang baik. Dan pikiran yang baik ada dari hati yang baik,” ujarnya.
Dengan filosofi yang penuh kebaikan itu, diharapkan Udeng Tengger menjadi pengingat dan pengendali diri dari perbuatan buruk. Itulah mengapa, warga Tengger biasa memakai udeng ini saat acara adat dan keagamaan.
“Pentingnya tahu makna dari udeng ini ya seperti itu. Jadi apabila memakai Udeng Tengger, tidak boleh melakukan hal negatif,” ujarnya. (mu/hn) Editor : Ronald Fernando