alexametrics
27.8 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

Istirja

BAGI sebagian orang, Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum reda hanya dilihat dari aspek kesehatan. Mereka merespons dengan menerapkan protokol kesehatan superketat. Mereka lupa bahwa apa yang terjadi di muka bumi ini sudah ada yang mengaturnya. Yakni, Allah SWT.

Sehingga, kadang mereka abai untuk memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT. Mereka yakin apa yang dilakukan akan menyelesaikan musibah yang menimpanya. Padahal, apa yang diinginkan bisa terjadi jika ada kehendak-Nya.

Karena itu, bagi muslim yang beriman, tidak cukup memberlakukan protokol kesehatan. Tapi, juga banyak berdoa kepada Allah SWT agar musibah Covid-19 ini segera selesai dan kehidupan kembali normal.

Salah satu yang diajarkan oleh Allah SWT dalam merespons sebuah musibah dengan membaca kalimat Istirja seperti yang tertera dalam Q.S. Al Baqarah 156, yang artinya:

“……Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yakni) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)’. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, bawah mereka menghibur dirinya dengan mengucapkan kalimat tersebut jika mereka tertimpa musibah. Mereka yakin bahwa dirinya milik Allah SWT. Dia akan memberlakukan hamba-hamba-Nya, seperti yang Dia kehendaki. Mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pahala di sisi-Nya seberat biji sawi pun kelak di hari kiamat.

Maka, ucapan istirja tersebut menanamkan di dalam hati mereka suatu pengakuan yang menyatakan bahwa diri mereka adalah hamba-Nya dan mereka pasti akan kembali kepada-Nya di hari akhirat nanti.

Karena itulah, maka Allah SWT memberitahukan tentang pahala yang akan diberikan-Nya kepada mereka sebagai imbalan dari hal tersebut dalam Q.S. Al Baqarah 157 yang artinya:

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya. Maksudnya, mendapat pujian dari Allah SWT. Sedangkan, menurut Sa’id ibnu Jubair, yang dimaksud adalah aman dari siksa Allah SWT.

Selain itu, dalam menghadapi sebuah musibah, tidak menyalahkan siapapun. Tapi, menerima dengan ikhlas dan tidak menyesali atau membenci musibah yang diberikan Allah SWT kepadanya. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda;

“Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang rida atas ujian itu, maka Allah akan meridainya. Dan siapa yang membencinya, maka Allah akan membencinya.” (HR Tirmizi).

Kisah Nabi Yunus A.S. bisa menjadi ibroh dalam menyikapi sebuah musibah. Saat itu Nabi Yunus dimakan ikan di tengah laut. Nabi Yunus berada di tiga lapis kegelapan. Kegelapan dalam perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam.

Tapi apa yang dilakukan Nabi Yunus. Apakah menyalahkan Allah SWT atas musibah yang diterimanya. Tidak. Malah sebaliknya. Dia memohon ampun kepada Allah SWT dan menyalahkan dirinya sebagai orang yang zalim.

Nabi Yunus lantas berdoa, “Laa ilaaha illaa Anta Subhaanaka. Innii kuntu minazh-zhaalimiin (Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim).” (Q.S. al-Anbiya’: 87). Allah SWT kemudian mengabulkan doanya dan mengeluarkannya dari perut ikan.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan doa kepada umatnya jika tertimpa musibah; “Allaahumma’jurnii fii mushiibatii, wa akhliflii khairan minhaa. (Ya Allah, berikanlah aku pahala dari musibahku dan gantilah dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya).” (HR Muslim).

Untuk itu, sebesar apapun musibah yang diterima, menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, Allah SWT selalu menyelamatkan hamba-Nya yang beriman. Seperti dalam Q.S. Al Anbiya’ ayat 88 Allah SWT berfirman, “Maka Kami kabulkan (doa)-nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Q.S. al-Anbiya’: 88). Wallahu A’lam. (*)

 

BAGI sebagian orang, Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum reda hanya dilihat dari aspek kesehatan. Mereka merespons dengan menerapkan protokol kesehatan superketat. Mereka lupa bahwa apa yang terjadi di muka bumi ini sudah ada yang mengaturnya. Yakni, Allah SWT.

Sehingga, kadang mereka abai untuk memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT. Mereka yakin apa yang dilakukan akan menyelesaikan musibah yang menimpanya. Padahal, apa yang diinginkan bisa terjadi jika ada kehendak-Nya.

Karena itu, bagi muslim yang beriman, tidak cukup memberlakukan protokol kesehatan. Tapi, juga banyak berdoa kepada Allah SWT agar musibah Covid-19 ini segera selesai dan kehidupan kembali normal.

Salah satu yang diajarkan oleh Allah SWT dalam merespons sebuah musibah dengan membaca kalimat Istirja seperti yang tertera dalam Q.S. Al Baqarah 156, yang artinya:

“……Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yakni) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)’. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, bawah mereka menghibur dirinya dengan mengucapkan kalimat tersebut jika mereka tertimpa musibah. Mereka yakin bahwa dirinya milik Allah SWT. Dia akan memberlakukan hamba-hamba-Nya, seperti yang Dia kehendaki. Mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pahala di sisi-Nya seberat biji sawi pun kelak di hari kiamat.

Maka, ucapan istirja tersebut menanamkan di dalam hati mereka suatu pengakuan yang menyatakan bahwa diri mereka adalah hamba-Nya dan mereka pasti akan kembali kepada-Nya di hari akhirat nanti.

Karena itulah, maka Allah SWT memberitahukan tentang pahala yang akan diberikan-Nya kepada mereka sebagai imbalan dari hal tersebut dalam Q.S. Al Baqarah 157 yang artinya:

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya. Maksudnya, mendapat pujian dari Allah SWT. Sedangkan, menurut Sa’id ibnu Jubair, yang dimaksud adalah aman dari siksa Allah SWT.

Selain itu, dalam menghadapi sebuah musibah, tidak menyalahkan siapapun. Tapi, menerima dengan ikhlas dan tidak menyesali atau membenci musibah yang diberikan Allah SWT kepadanya. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda;

“Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang rida atas ujian itu, maka Allah akan meridainya. Dan siapa yang membencinya, maka Allah akan membencinya.” (HR Tirmizi).

Kisah Nabi Yunus A.S. bisa menjadi ibroh dalam menyikapi sebuah musibah. Saat itu Nabi Yunus dimakan ikan di tengah laut. Nabi Yunus berada di tiga lapis kegelapan. Kegelapan dalam perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam.

Tapi apa yang dilakukan Nabi Yunus. Apakah menyalahkan Allah SWT atas musibah yang diterimanya. Tidak. Malah sebaliknya. Dia memohon ampun kepada Allah SWT dan menyalahkan dirinya sebagai orang yang zalim.

Nabi Yunus lantas berdoa, “Laa ilaaha illaa Anta Subhaanaka. Innii kuntu minazh-zhaalimiin (Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim).” (Q.S. al-Anbiya’: 87). Allah SWT kemudian mengabulkan doanya dan mengeluarkannya dari perut ikan.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan doa kepada umatnya jika tertimpa musibah; “Allaahumma’jurnii fii mushiibatii, wa akhliflii khairan minhaa. (Ya Allah, berikanlah aku pahala dari musibahku dan gantilah dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya).” (HR Muslim).

Untuk itu, sebesar apapun musibah yang diterima, menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, Allah SWT selalu menyelamatkan hamba-Nya yang beriman. Seperti dalam Q.S. Al Anbiya’ ayat 88 Allah SWT berfirman, “Maka Kami kabulkan (doa)-nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Q.S. al-Anbiya’: 88). Wallahu A’lam. (*)

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/