Pandemi Korona, Ini Keluhan UMKM-Pedagang di Probolinggo

MAKIN SEPI: Sejumlah PKL di Alun-alun Kota Probolinggo menunggu pembeli untuk mengais rezeki. Sejak adanya wabah korona, pendapatan sejumlah pelaku UMKM makin menurun. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KADEMANGAN, Radar Bromo – Merebaknya wabah korona berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat. Terutama yang bergerak di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Mereka sudah merasakan pesanan dan penjualannya menurun. Pendapatan mereka pun merosot.

Pemilik Griya Srikandi Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo Katerina S. Triningrum mengatakan, usahanya sempat mendapat orderan untuk event yang diselenggarakan Pemkot Probolinggo. Karena event tidak jadi dilaksanakan karena ada wabah virus korona, pesanannya juga tidak dilanjutkan. “Padahal, sudah disablon untuk barang yang dipesan. Terpaksa dibatalkan karena kegiatannya juga batal,” ujar penyedia suvenir ini.

Hal senada diungkapkan pedagang makanan, Nur Rahmad. Ia mengaku merasakan betul dampak adanya wabah korona terhadap penjualan. Apalagi, setelah sekolah diliburkan, padahal konsumennya rata-rata pelajar. “Saya biasa jualan di SD-SD, sehari kotor bisa dapat Rp 400 ribu. Sekarang SD libur, jualan akhirnya di sembarang tempat. Hasilnya cuma dapat Rp 100 ribu, bahkan pernah ndak sampai,” ujarnya.

Warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan ini juga mengetahui imbauan pemerintah untuk tetap berada di rumah selama adanya korona. Namun, Nur mengaku, tidak bisa mematuhinya karena harus menghidupi tiga anaknya yang masih kecil. “Istri sudah meninggal. Anak saya tinggal sama adik saya. Saya satu-satunya tulang punggung keluarga. Kalau ndak jualan, dapat penghasilan dari mana untuk makan di rumah,” ujarnya.

Nur berharap wabah virus korona segera tuntas. Wabah ini tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan warga, tapi juga perekonomian masyarakat kecil.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, hampir lebih dari sepekan sejak penetapan tanggap darurat wabah bencana korona, aktivitas pertokoan di Kota Probolinggo tidak seramai biasanya. Sejumlah toko juga terlihat memilih tutup. Sejumlah rumah makan yang memilih tetap buka, hanya melayani pembelian online dan dibungkus.

Mendapati kasus ini, Pemkot Probolinggo memprediksi akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di Kota Probolinggo selama wabah virus korona. Karenanya, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP); Dinas Sosial; dan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan, diminta mendata warga miskin untuk mendapat program bantuan sosial.

“Pasti akan ada penurunan pertumbuhan ekonomi jika melihat situasi seperti ini. Namun, Wali Kota telah menyampaikan instruksi kepada OPD terkait seperti Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) serta Dinas Sosial untuk mengambil langkah menyikapi hal ini,” ujar Sekda Kota Probolinggo Ninik Ira Wibawati.

Diketahui, pertumbuhan perekonomian Kota Probolinggo pada 2019 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Saat itu pertumbuhan perekonomian mencapai 5,08 persen, sedangkan nasional hanya 5,01 persen. (put/rud)