alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

SMPN 5 Tiga Kali Beruntun Rebut Juara Pertama MBS Award

“Di sini rebutan. Soalnya memang aktif semua. Akhirnya saya minta agar rembukan sendiri,” ujar perempuan yang sudah lima tahun menakhodai SMPN 5 ini.

Faktor yang tak kalah pentingnya, kata Subaidah adalah kerja keras dan kekompakan. Sehingga, apa yang diinginkan bisa terwujud. Termasuk menjuarai MBS Award 2021 gelaran Disdikbud Kota Probolinggo. “Selain MBS, kami juga juara satu Inobel dan SRA (Sekolah Ramah Anak),” ujarnya.

Menurutnya, manajemen sekolah sangat dibutuhkan. Bukan hanya karena akan mengikuti lomba. Dari perencanaan yang baik dan dilaksanakan dengan baik, dapat menghasilkan yang baik juga. “Siapa pun pemimpinnya, jika melakukan hal tersebut, sekolah pasti sukses,” ujar ibu dua anak itu.

Ia berharap masyarakat dan orang tua siswa selalu mengawasi anak-anaknya. Terlebih di masa pandemi Covid-19, karena sebagian siswa masih mengikuti pembelajaran secara daring. Agar anak-anak tidak dikontrol oleh handphone.

“Kami punya rasa khawatir jika tidak ada pantauan dari orang tua, mereka yang tidak bisa berpikir cerdas dikuasai oleh IT. Contohnya, game online. Ini bisa membuat anak kecanduan. Sehingga, HP yang dipegang tidak untuk proses pembelajaran, tapi game online,” ujarnya. (rud)

“Di sini rebutan. Soalnya memang aktif semua. Akhirnya saya minta agar rembukan sendiri,” ujar perempuan yang sudah lima tahun menakhodai SMPN 5 ini.

Faktor yang tak kalah pentingnya, kata Subaidah adalah kerja keras dan kekompakan. Sehingga, apa yang diinginkan bisa terwujud. Termasuk menjuarai MBS Award 2021 gelaran Disdikbud Kota Probolinggo. “Selain MBS, kami juga juara satu Inobel dan SRA (Sekolah Ramah Anak),” ujarnya.

Menurutnya, manajemen sekolah sangat dibutuhkan. Bukan hanya karena akan mengikuti lomba. Dari perencanaan yang baik dan dilaksanakan dengan baik, dapat menghasilkan yang baik juga. “Siapa pun pemimpinnya, jika melakukan hal tersebut, sekolah pasti sukses,” ujar ibu dua anak itu.

Ia berharap masyarakat dan orang tua siswa selalu mengawasi anak-anaknya. Terlebih di masa pandemi Covid-19, karena sebagian siswa masih mengikuti pembelajaran secara daring. Agar anak-anak tidak dikontrol oleh handphone.

“Kami punya rasa khawatir jika tidak ada pantauan dari orang tua, mereka yang tidak bisa berpikir cerdas dikuasai oleh IT. Contohnya, game online. Ini bisa membuat anak kecanduan. Sehingga, HP yang dipegang tidak untuk proses pembelajaran, tapi game online,” ujarnya. (rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/