alexametrics
28C
Probolinggo
Wednesday, 27 January 2021

Kapal Jonggrang Tak Khawatir La Nina, Cuma Butuh Stok BBM Cukup

MAYANGAN, Radar Bromo – Mendekati musim hujan di era La Lina, nelayan diminta waspada saat melaut. Apalagi saat ini ada badai La Nina, yang kian tak bisa diprediksi datangnya.

Walau ada La Nina, nelayan di Kota Probolinggo khususnya yang menggunakan kapal jonggrang, tidak khawatir. Terbukti, hingga saat ini kapal jonggrang dengan kapasitas 30 GT tetap berlayar. Mereka baru akan menepi, bila cuaca tiba-tiba berubah ekstrem.

Seperti yang diungkapkan Zainul Fatoni, salah satu pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Kota Probolinggo. Menurutnya, cuaca yang diakibatkan La Nina tidak begitu berpengaruh pada sejumlah nelayan kapal jonggrang. Saat ini kapal jonggrang masih tetap berlayar seperti sedia kala.

“Cuaca memeng mempengaruhi hasil tangkapan, tetapi untuk La Nina ini tidak begitu berpengaruh di Selat madura. Lebih lagi, jika memang terjadi perubahan cuaca yang ekstrem, maka kapal akan menepi,” tandas pria yang akrab disapa Zen.

Disinggung masalah izin agar kapal jonggrang yang menggunakan cantrang tetap bisa berlayar, Zainul mengatakan, saat ini untuk kapal cantrang masih ada toleransi. Terlebih ada peraturan menteri yang menggantikan peraturan sebelumnya soal larangan cantrang.

“Saat ini perubahan peraturan menteri ini sudah masuk di Kemenkum HAM untuk dimintakan nomor registrasinya. Harapan kami, terlepas dari kasus di KKP, perubahan peraturan tersebut dapat segera teregistrasi. Sehingga secara prinsip, kapal cantrang legal,” bebernya.

Selain itu juga mengenai stok BBM yang ada, menurutnya pihak wali kota sudah berkoordinasi dengan Pertamina. Sehingga ada penambahan stok. Mengingat jika dikalkulasikan untuk kapal yang tergabung dari HNSI sendiri, sekitar 90 kapal bahan bakar yang diperlukan sebanyak 200 ton perbulannya. Sementara stok saat ini 150 ton per bulannya.

“Jika dihitung stok memang kurang. Tetapi itu teratasi lantaran tidak semua kapal beroperasi dari total 90 kapal yang ada. Ada yang perbaikan, ada yang terkendala modal, sehingga belum berlayar dan sebagainya. Jika memang semuanya berlayar, maka yang tidak kebagian masih menunggu satu dua hari untuk tetap mendapatkan solar subsidi,” tandas Zen. (rpd/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU