alexametrics
26.3 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Keluarga Korban Kecelakaan Minta Tanggung Jawab Vendor Bus Karyawan KTI

KANIGARAN, Radar Bromo– Kecelakaan lalu lintas antara bus karyawan PT Kutai Timber Indonesia (KTI) dengan seorang pemotor, Fredy Darmawan, 40, terus jadi perhatian. Kamis (27/1), Komisi II DPRD Kota Probolinggo menggelar rapat dengar pendapat (RDP) membahas permasalahan ini.

Selain dari pihak vendor bus yang terlibat kecelakaan, DPRD juga menghadirkan perwakilan dari keluarga korban. Serta, dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo dan Satlantas Polres Probolinggo Kota.

Dalam rapat itu, kakak ipar korban, Siti Latifah mengaku kecewa terhadap pihak vendor. Sebab, sejauh ini belum ada keputusan terkait tanggung jawabnya terhadap korban.

Sementara, kini korban sangat membutuhkan duit untuk biaya perawatan medisnya. Bahkan, sejauh ini biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi saja butuh Rp 40 juta.

“Saat masuk rumah sakit harus ada uang DP Rp 4,5 juta. Mengingat saat itu dari BPJS dan Jasa Raharja belum cair,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihak keluarga tidak punya uang cukup banyak untuk memenuhinya. Karenanya, istri korban kebingungan mencari pinjaman uang untuk DP. “Saat itu juga ada dari pihak vendor, tapi diam saja,” ujarnya sembari menitikan air mata.

Ifa mengungkapkan, selama ini kondisi perekonomian korban memang pas-pasan. Korban sebagai tulang punggung keluarga saban hari mengais rezeki dengan berjualan buah. Ia memiliki tanggungan seorang istri dan dua anak yang masih kecil.

Karenanya, Ifa berharap, selain pihak vendor bus karyawan, PT KTI juga membuka hati untuk membantu keluarga korban. Misalkan, memberikan pekerjaan terhadap istri korban. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan cicilan rumah subsidinya bisa teratasi.

“Karena ini jangka panjang, harapan keluarga, selain ada tanggung jawab, termasuk biaya oleh pihak vendar, dari KTI juga diharapkan bisa membantu. Agar istrinya (korban) bisa dimasukan ke perusahaan,” harapnya.

Menyikapi itu, salah satu perwakilan dari PT Sumber Harapan Cemerlang (SHC) Citra mengaku bersedia membantu keluarga korban. Namun, menurutnya tidak bisa semua biaya perawatan terhadap korban dibebankan kepada perusahaannya.

“Nanti ayo dirembuk bersama. Sebab, ini kan musibah. Jika semua kebutuhannya dibebankan kepada kami, kami juga berat. Jadi dikomunikasikan saja,” ujarnya.

Citra mengakui, ketika salah satu busnya bertabrakan dengan motor korban, ia sempat datang ke lokasi kejadian. Bahkan, sempat menjenguk korban di rumah sakit. “Namun, saat itu memang kami belum bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Kesediaan untuk membantu keluarga korban juga disampaikan Asisten Manajer HRD PT KTI Rahmad Mardianto. Katanya, sesuai kontrak, berkaitan dengan segala peristiwa yang terjadi menjadi tanggung jawab vendor. Namun, ia mengaku juga punya hati.

PT KTI akan mempertimbangkan agar istri korban bisa bekerja di perusahaan. Sesuai kualifikasi di perusahaan. “Kami tetap akan membantu dan tidak lepas tangan. Kami akan upayakan istrinya bisa masuk sesuai kriteria perusahaan,” janjinya.

Adanya kesanggupan para pihak ini, membuat Komisi II DPRD Kota Probolinggo sedikit lega. Namun, mereka tetap meminta adanya kesepakatan ini dituangkan dalam perjanjian tertulis. Disaksikan Dishub dan Satlantas.

“Permintaan pihak keluarga yang telah diamini PT KTI dan vendor ini, nanti akan dibuat kesepakatan secara tertulis. Saya pikir jika wewenang karyawan baru ada di HRD atau ada di tangan Pak Anton, saya minta welasnya lah. Sehingga istri korban ini bisa masuk,” ujar Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo Sibro Malisi.  

Diketahui, Fredy mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Cokroaminoto, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Sabtu (22/1) sore. Sepeda motor yang dikendarainya bertabrakan dengan bus pengangkut karyawan PT KTI. Bus berpelat hitam itu milik PT SHC.

Akibatnya, kaki kanan korban patah dan harus diamputasi. Kini, korban masih menjalani perawatan di rumah sakit. (rpd/rud)

 

KANIGARAN, Radar Bromo– Kecelakaan lalu lintas antara bus karyawan PT Kutai Timber Indonesia (KTI) dengan seorang pemotor, Fredy Darmawan, 40, terus jadi perhatian. Kamis (27/1), Komisi II DPRD Kota Probolinggo menggelar rapat dengar pendapat (RDP) membahas permasalahan ini.

Selain dari pihak vendor bus yang terlibat kecelakaan, DPRD juga menghadirkan perwakilan dari keluarga korban. Serta, dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo dan Satlantas Polres Probolinggo Kota.

Dalam rapat itu, kakak ipar korban, Siti Latifah mengaku kecewa terhadap pihak vendor. Sebab, sejauh ini belum ada keputusan terkait tanggung jawabnya terhadap korban.

Sementara, kini korban sangat membutuhkan duit untuk biaya perawatan medisnya. Bahkan, sejauh ini biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi saja butuh Rp 40 juta.

“Saat masuk rumah sakit harus ada uang DP Rp 4,5 juta. Mengingat saat itu dari BPJS dan Jasa Raharja belum cair,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihak keluarga tidak punya uang cukup banyak untuk memenuhinya. Karenanya, istri korban kebingungan mencari pinjaman uang untuk DP. “Saat itu juga ada dari pihak vendor, tapi diam saja,” ujarnya sembari menitikan air mata.

Ifa mengungkapkan, selama ini kondisi perekonomian korban memang pas-pasan. Korban sebagai tulang punggung keluarga saban hari mengais rezeki dengan berjualan buah. Ia memiliki tanggungan seorang istri dan dua anak yang masih kecil.

Karenanya, Ifa berharap, selain pihak vendor bus karyawan, PT KTI juga membuka hati untuk membantu keluarga korban. Misalkan, memberikan pekerjaan terhadap istri korban. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan cicilan rumah subsidinya bisa teratasi.

“Karena ini jangka panjang, harapan keluarga, selain ada tanggung jawab, termasuk biaya oleh pihak vendar, dari KTI juga diharapkan bisa membantu. Agar istrinya (korban) bisa dimasukan ke perusahaan,” harapnya.

Menyikapi itu, salah satu perwakilan dari PT Sumber Harapan Cemerlang (SHC) Citra mengaku bersedia membantu keluarga korban. Namun, menurutnya tidak bisa semua biaya perawatan terhadap korban dibebankan kepada perusahaannya.

“Nanti ayo dirembuk bersama. Sebab, ini kan musibah. Jika semua kebutuhannya dibebankan kepada kami, kami juga berat. Jadi dikomunikasikan saja,” ujarnya.

Citra mengakui, ketika salah satu busnya bertabrakan dengan motor korban, ia sempat datang ke lokasi kejadian. Bahkan, sempat menjenguk korban di rumah sakit. “Namun, saat itu memang kami belum bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Kesediaan untuk membantu keluarga korban juga disampaikan Asisten Manajer HRD PT KTI Rahmad Mardianto. Katanya, sesuai kontrak, berkaitan dengan segala peristiwa yang terjadi menjadi tanggung jawab vendor. Namun, ia mengaku juga punya hati.

PT KTI akan mempertimbangkan agar istri korban bisa bekerja di perusahaan. Sesuai kualifikasi di perusahaan. “Kami tetap akan membantu dan tidak lepas tangan. Kami akan upayakan istrinya bisa masuk sesuai kriteria perusahaan,” janjinya.

Adanya kesanggupan para pihak ini, membuat Komisi II DPRD Kota Probolinggo sedikit lega. Namun, mereka tetap meminta adanya kesepakatan ini dituangkan dalam perjanjian tertulis. Disaksikan Dishub dan Satlantas.

“Permintaan pihak keluarga yang telah diamini PT KTI dan vendor ini, nanti akan dibuat kesepakatan secara tertulis. Saya pikir jika wewenang karyawan baru ada di HRD atau ada di tangan Pak Anton, saya minta welasnya lah. Sehingga istri korban ini bisa masuk,” ujar Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo Sibro Malisi.  

Diketahui, Fredy mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Cokroaminoto, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Sabtu (22/1) sore. Sepeda motor yang dikendarainya bertabrakan dengan bus pengangkut karyawan PT KTI. Bus berpelat hitam itu milik PT SHC.

Akibatnya, kaki kanan korban patah dan harus diamputasi. Kini, korban masih menjalani perawatan di rumah sakit. (rpd/rud)

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/