alexametrics
24.3 C
Probolinggo
Monday, 8 August 2022

Anomali Cuaca, Petani Belum Berani Produksi Garam

DRINGU, Radar Bromo– Anomali cuaca membuat para petambak garam di Kabupaten Probolinggo belum bisa memproduksi garam. Belum ada petambak yang berani memproduksi garam.

Cuaca yang tidak dapat diprediksi sangat berpengaruh terhadap proses produksi garam. Pasalnya, mayoritas petambak masih menggantung produksi garam terhadap panas matahari. Proses produksi dapat dilakukan secara maksimal ketika musim kemarau. Terik matahari dapat membuat proses kristalisasi garam maksimal.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Hari Pur Sulistiyono mengatakan, produksi garam sejatinya dapat dilakukan sejak Mei. Namun, karena anomali cuaca, membuat produksi garam urung dilakukan.

“Awalnya produksi kami prediksikan Mei. Tapi, cuaca belum mendukung. Mundur jadi Juni, tapi kondisinya masih sama,” katanya.

Adanya banjir rob yang terjadi hampir di seluruh pesisir Kabupaten Probolinggo, juga berpengaruh. Banyak lahan yang telah disiapkan petambak untuk memproduksi garam, tergenang. Persiapan lahan produksi pun harus dimulai dari awal.

“Adanya banjir rob kemarin, butuh perbaikan tanggul secara ekstra. Karena hampir semua tanggul petambak garam mengalami kerusakan 70 persen,” bebernya.

Dalam kurun waktu enam bulan, produksi garam masih sangat minim. Baru mencapai 3,3 ton. Ini merupakan hasil panen pada Mei lalu. Sementara, tahun ini Dinas Perikanan menarget bisa memproduksi 12.000 ton.

DRINGU, Radar Bromo– Anomali cuaca membuat para petambak garam di Kabupaten Probolinggo belum bisa memproduksi garam. Belum ada petambak yang berani memproduksi garam.

Cuaca yang tidak dapat diprediksi sangat berpengaruh terhadap proses produksi garam. Pasalnya, mayoritas petambak masih menggantung produksi garam terhadap panas matahari. Proses produksi dapat dilakukan secara maksimal ketika musim kemarau. Terik matahari dapat membuat proses kristalisasi garam maksimal.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Hari Pur Sulistiyono mengatakan, produksi garam sejatinya dapat dilakukan sejak Mei. Namun, karena anomali cuaca, membuat produksi garam urung dilakukan.

“Awalnya produksi kami prediksikan Mei. Tapi, cuaca belum mendukung. Mundur jadi Juni, tapi kondisinya masih sama,” katanya.

Adanya banjir rob yang terjadi hampir di seluruh pesisir Kabupaten Probolinggo, juga berpengaruh. Banyak lahan yang telah disiapkan petambak untuk memproduksi garam, tergenang. Persiapan lahan produksi pun harus dimulai dari awal.

“Adanya banjir rob kemarin, butuh perbaikan tanggul secara ekstra. Karena hampir semua tanggul petambak garam mengalami kerusakan 70 persen,” bebernya.

Dalam kurun waktu enam bulan, produksi garam masih sangat minim. Baru mencapai 3,3 ton. Ini merupakan hasil panen pada Mei lalu. Sementara, tahun ini Dinas Perikanan menarget bisa memproduksi 12.000 ton.

MOST READ

BERITA TERBARU

/