alexametrics
25 C
Probolinggo
Friday, 26 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Peternak di Lumbang Jual Lebah ke Luar Jawa Akibat Paceklik

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

LUMBANG, Radar Bromo – Selama pandemi Covid-19, menjadi musim paceklik bagi peternak lebah di Lumbang Kabupaten Probolinggo. Para peternak lebah di kawasan Lumbang terus memutar otak, berusaha untuk bertahan. Tidak sedikit, peternak lebah yang menjual kotak lebah beserta lebahnya, ke luar Jawa.

Said salah satu peternak lebah di Lumbang mengatakan, dirinya saat ini sudah menjual sebagian kotak lebah lengkap lebahnya. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan lebah saat paceklik seperti saat ini. Cara untuk bisa bertahan saat paceklik, menjual sebagian kotak lebah untuk memenuhi ongkos produksi.

“Gimana lagi kondisi paceklik sekarang. Ya, kami jual sebagian kotak lebah ke luar Jawa mas. Tapi kami tetap mengembangkan lebah yang tersisa mas,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Selasa (26/1).

Sutomo, peternak lebah lainnya di Lumbang mengungkapkan, produksi madu Lumbang dari peternak lebah bisa dikatakan cukup tinggi Jawa Timur. Hanya saja, ketersediaan jarang di pasaran, akibat di genggaman tengkulak.

Namun, untuk mengubah ini semua tidak mudah. Mengingat, peran tengkulak saat paceklik sangat dominan. Karena tengkulak bisa memberikan pinjaman uang untuk membeli pakan lebah selama paceklik.

Di sisi lain, ketika musim panen, hasil produksi madunya otomatis harus disetor ke tengkulak yang memberikan pinjaman. Konsekuensinya, harga beli dari peternak pun sesuai dengan harga yang ditentukan tengkulak.

“Kalau misalkan dijual ecer dan tidak dijual ke pedagang besar, pasti setahun gak habis. Makanya kami langsung jual ke tengkulak,” katanya. Sutomo menambahkan, alasan lain peternak lebah dalam bekerjasama dengan tengkulak, karena operasional ternak lebah sangat tinggi.

Pihaknya berharap kedepan ada produk unggulan madu Lumbang. Sehingga madu Lumbang terus dikenal banyak orang termasuk berbagai produknya.

“Kalau menunggu dari hasil eceran pasti gak nutut dengan operasional. Kalau dijual partai atau grosir, uang pun terkumpul cepat untuk bisa diputar kembali operasional. Kami beharap nanti peternak bisa lebih mandiri,” harapnya. (mas/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMBANG, Radar Bromo – Selama pandemi Covid-19, menjadi musim paceklik bagi peternak lebah di Lumbang Kabupaten Probolinggo. Para peternak lebah di kawasan Lumbang terus memutar otak, berusaha untuk bertahan. Tidak sedikit, peternak lebah yang menjual kotak lebah beserta lebahnya, ke luar Jawa.

Said salah satu peternak lebah di Lumbang mengatakan, dirinya saat ini sudah menjual sebagian kotak lebah lengkap lebahnya. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan lebah saat paceklik seperti saat ini. Cara untuk bisa bertahan saat paceklik, menjual sebagian kotak lebah untuk memenuhi ongkos produksi.

“Gimana lagi kondisi paceklik sekarang. Ya, kami jual sebagian kotak lebah ke luar Jawa mas. Tapi kami tetap mengembangkan lebah yang tersisa mas,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Selasa (26/1).

Mobile_AP_Half Page

Sutomo, peternak lebah lainnya di Lumbang mengungkapkan, produksi madu Lumbang dari peternak lebah bisa dikatakan cukup tinggi Jawa Timur. Hanya saja, ketersediaan jarang di pasaran, akibat di genggaman tengkulak.

Namun, untuk mengubah ini semua tidak mudah. Mengingat, peran tengkulak saat paceklik sangat dominan. Karena tengkulak bisa memberikan pinjaman uang untuk membeli pakan lebah selama paceklik.

Di sisi lain, ketika musim panen, hasil produksi madunya otomatis harus disetor ke tengkulak yang memberikan pinjaman. Konsekuensinya, harga beli dari peternak pun sesuai dengan harga yang ditentukan tengkulak.

“Kalau misalkan dijual ecer dan tidak dijual ke pedagang besar, pasti setahun gak habis. Makanya kami langsung jual ke tengkulak,” katanya. Sutomo menambahkan, alasan lain peternak lebah dalam bekerjasama dengan tengkulak, karena operasional ternak lebah sangat tinggi.

Pihaknya berharap kedepan ada produk unggulan madu Lumbang. Sehingga madu Lumbang terus dikenal banyak orang termasuk berbagai produknya.

“Kalau menunggu dari hasil eceran pasti gak nutut dengan operasional. Kalau dijual partai atau grosir, uang pun terkumpul cepat untuk bisa diputar kembali operasional. Kami beharap nanti peternak bisa lebih mandiri,” harapnya. (mas/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2