alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 25 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Pemilik Warung di Probolinggo Keluhkan Penertiban Jam Malam

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KANIGARAN, Radar Bromo – Tindakan oknum Satpol PP Kota Probolinggo, dalam menegakkan peraturan jam malam kembali dikeluhkan pemilik warung. Tindakan mereka dinilai arogan dan tidak humanis. Padahal, mereka sudah menyatakan tutup sesuai ketentuan.

Keluhan ini diungkapkan oleh pengelola warung di GOR A. Yani, Kota Probolinggo, Eka Fitri Dianita, 42. Ia mengaku kecewa dengan tindakan anggota Satpol PP Kota Probolinggo, yang melakukan penertiban jam malam.

Menurutnya, Minggu (24/1) malam, warungnya terkena operasi yustisi. Namun yang ia sesalkan, tindakan petugas yang kurang humanis. Padahal, menurutnya saat itu warungnya sudah tutup. Namun lampu di bagian depan masih menyala dan pagarnya belum ditutup. Sebab, sejumlah karyawan masih bersih-bersih.

“Memang malam itu warung sudah tutup, dibuktikan dengan tidak adanya pengunjung. Namun karena habis hujan, karyawan masih bersih-bersih. Memang lampu depan tidak dimatikan. Selain itu, juga pintu pagar tidak ditutup karena sejumlah karyawan belum pulang,” jelasnya.

Namun pada saat itu sejumlah petugas gabungan meminta KTP para pekerjanya. Eka mengaku, pihaknya sudah berusaha menjelaskan jika warungnya sudah tutup dan masih bersih-bersih. “Setiap hari kami mesti tutup pukul 20.00, apalagi kadang petugas yang melakukan operasi yustisi berada di GOR tepat di depan warung. Petugas tidak mau mendengarkan penjelasan karyawan kami jika sebetulnya sudah tutup. Hal inilah yang saya kecewakan,” jelasnya.

Terpisah, Kasatpol PP Kota Probolinggo Agus Efendi mengatakan, petugas yang melakukan operasi yustisi paling tidak berangkat pukul 20.30. Itu dilakukan selain memberikan kelonggaran jika masih ada yang makan, juga untuk menghindari perselisihan.

“Kami setiap berangkat pasti dilebihkan. Kami berangkatnya pukul 20.30. Selain itu, yang jadi pertanyaan apakah jika tidak ketemu petugas misalnya warung tersebut tetap buka? Sebab, di lapangan banyak yang berdalih demikian dan mencari pembenaran,” ujarnya.

Menurutnya, surat edaran (SE) wali kota tentang pemberlakuan jam malam sudah disosialisasikan jauh sebelumnya. Di dalamnya, juga dijelaskan jika tempat usaha harus tutup pukul 20.00. “Dalam SE itu jelas, tutup pukul 20.00, ada pelanggan atau tidak. Jadi, dalam SE itu sudah jelas,” ujarnya.

Selain itu, menurut Agus, jika tindakan arogan atau tidak manusiawi itu subjektif. Sebab, petugas yang sedang patroli juga menjalankan tugasnya secara resmi. Bahkan, sering mendapat bentakan atas aksi pembelaan yang dilakukan pemilik warung.

“Kami terus memberikan pemahaman kepada petugas. Namun, kondisi di lapangan terkadang juga tidak menentu. Lebih lagi, petugas yang juga manusia memiliki karakter serta pemahaman yang berbeda pula,” ujar Agus. (rpd/rud)

Mobile_AP_Rectangle 1

KANIGARAN, Radar Bromo – Tindakan oknum Satpol PP Kota Probolinggo, dalam menegakkan peraturan jam malam kembali dikeluhkan pemilik warung. Tindakan mereka dinilai arogan dan tidak humanis. Padahal, mereka sudah menyatakan tutup sesuai ketentuan.

Keluhan ini diungkapkan oleh pengelola warung di GOR A. Yani, Kota Probolinggo, Eka Fitri Dianita, 42. Ia mengaku kecewa dengan tindakan anggota Satpol PP Kota Probolinggo, yang melakukan penertiban jam malam.

Menurutnya, Minggu (24/1) malam, warungnya terkena operasi yustisi. Namun yang ia sesalkan, tindakan petugas yang kurang humanis. Padahal, menurutnya saat itu warungnya sudah tutup. Namun lampu di bagian depan masih menyala dan pagarnya belum ditutup. Sebab, sejumlah karyawan masih bersih-bersih.

Mobile_AP_Half Page

“Memang malam itu warung sudah tutup, dibuktikan dengan tidak adanya pengunjung. Namun karena habis hujan, karyawan masih bersih-bersih. Memang lampu depan tidak dimatikan. Selain itu, juga pintu pagar tidak ditutup karena sejumlah karyawan belum pulang,” jelasnya.

Namun pada saat itu sejumlah petugas gabungan meminta KTP para pekerjanya. Eka mengaku, pihaknya sudah berusaha menjelaskan jika warungnya sudah tutup dan masih bersih-bersih. “Setiap hari kami mesti tutup pukul 20.00, apalagi kadang petugas yang melakukan operasi yustisi berada di GOR tepat di depan warung. Petugas tidak mau mendengarkan penjelasan karyawan kami jika sebetulnya sudah tutup. Hal inilah yang saya kecewakan,” jelasnya.

Terpisah, Kasatpol PP Kota Probolinggo Agus Efendi mengatakan, petugas yang melakukan operasi yustisi paling tidak berangkat pukul 20.30. Itu dilakukan selain memberikan kelonggaran jika masih ada yang makan, juga untuk menghindari perselisihan.

“Kami setiap berangkat pasti dilebihkan. Kami berangkatnya pukul 20.30. Selain itu, yang jadi pertanyaan apakah jika tidak ketemu petugas misalnya warung tersebut tetap buka? Sebab, di lapangan banyak yang berdalih demikian dan mencari pembenaran,” ujarnya.

Menurutnya, surat edaran (SE) wali kota tentang pemberlakuan jam malam sudah disosialisasikan jauh sebelumnya. Di dalamnya, juga dijelaskan jika tempat usaha harus tutup pukul 20.00. “Dalam SE itu jelas, tutup pukul 20.00, ada pelanggan atau tidak. Jadi, dalam SE itu sudah jelas,” ujarnya.

Selain itu, menurut Agus, jika tindakan arogan atau tidak manusiawi itu subjektif. Sebab, petugas yang sedang patroli juga menjalankan tugasnya secara resmi. Bahkan, sering mendapat bentakan atas aksi pembelaan yang dilakukan pemilik warung.

“Kami terus memberikan pemahaman kepada petugas. Namun, kondisi di lapangan terkadang juga tidak menentu. Lebih lagi, petugas yang juga manusia memiliki karakter serta pemahaman yang berbeda pula,” ujar Agus. (rpd/rud)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2