alexametrics
28.1 C
Probolinggo
Sunday, 3 July 2022

Penataan Pusat Oleh-oleh Depan TWSL, 12 Bedak Siap Tampung Orang Baru

MAYANGAN, Radar Bromo-Penataan Pusat Oleh-oleh di depan Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolinggo terus dilakukan. Bahkan, kini Pemkot siap menampung pedagang baru. Mereka akan menggantikan 12 pedagang yang sudah menyerahkan kunci.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUPP) Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, dari 20 pedagang, 12 pedagang sudah menyerahkan kunci ke DKUPP. Delapan lainnya memilih tetap berjualan di sana dengan mengikuti aturan DKUPP.

Sejumlah pedagang yang bertahan menyanggupi berjualan sesuai keinginan Pemkot. Menyediakan oleh-oleh khas Kota Probolinggo. Baik itu produk makanan-minuman maupun produk kerajinan. Mereka juga mulai dibina.

“Kami sudah sepakat dengan delapan pedagang di sana. Mereka tetap boleh menjual mamin (makanan dan minuman) seperti sebelumnya, asalkan mematuhi perjanjian. Jika mereka tidak mau dibina, otomatis kunci bedak kami tarik,” ujarnya.

Delapan pedagang itu tetap berjualan di pusat oleh-oleh. Sedangkan, 12 bedak yang kuncinya sudah diserahkan ke DKUPP, kini masih tutup. DKUPP berencana, belasan bedak “kosong” ini akan diberikan kepada pedagang baru. Namun, mereka harus melalui tahap seleksi.

Fitri mengaku sudah menerima sejumlah pengajuan dari warga yang tertarik menyewanya. Beberapa nama ini nantinya akan diseleksi. Mereka harus memenuhi sejumlah persyaratan. Di antaranya, warga Kota Probolinggo dan bersedia mengikuti perjanjian dengan DKUPP. Menjual produk khas Kota Probolinggo.

“Yang jelas sudah ada yang mengajukan diri. Cuma nanti kami seleksi dulu. Kalau memang memenuhi persyaratan, mereka bisa menempati bedak dengan sistem sewa,” jelasnya.

MAYANGAN, Radar Bromo-Penataan Pusat Oleh-oleh di depan Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolinggo terus dilakukan. Bahkan, kini Pemkot siap menampung pedagang baru. Mereka akan menggantikan 12 pedagang yang sudah menyerahkan kunci.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUPP) Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, dari 20 pedagang, 12 pedagang sudah menyerahkan kunci ke DKUPP. Delapan lainnya memilih tetap berjualan di sana dengan mengikuti aturan DKUPP.

Sejumlah pedagang yang bertahan menyanggupi berjualan sesuai keinginan Pemkot. Menyediakan oleh-oleh khas Kota Probolinggo. Baik itu produk makanan-minuman maupun produk kerajinan. Mereka juga mulai dibina.

“Kami sudah sepakat dengan delapan pedagang di sana. Mereka tetap boleh menjual mamin (makanan dan minuman) seperti sebelumnya, asalkan mematuhi perjanjian. Jika mereka tidak mau dibina, otomatis kunci bedak kami tarik,” ujarnya.

Delapan pedagang itu tetap berjualan di pusat oleh-oleh. Sedangkan, 12 bedak yang kuncinya sudah diserahkan ke DKUPP, kini masih tutup. DKUPP berencana, belasan bedak “kosong” ini akan diberikan kepada pedagang baru. Namun, mereka harus melalui tahap seleksi.

Fitri mengaku sudah menerima sejumlah pengajuan dari warga yang tertarik menyewanya. Beberapa nama ini nantinya akan diseleksi. Mereka harus memenuhi sejumlah persyaratan. Di antaranya, warga Kota Probolinggo dan bersedia mengikuti perjanjian dengan DKUPP. Menjual produk khas Kota Probolinggo.

“Yang jelas sudah ada yang mengajukan diri. Cuma nanti kami seleksi dulu. Kalau memang memenuhi persyaratan, mereka bisa menempati bedak dengan sistem sewa,” jelasnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/