alexametrics
24.6 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Aturan Baru Sewa Bedak di Pusat Oleh-oleh TWSL Tunggu Perwali

MAYANGAN, Radar Bromo-Retribusi bedak di Pusat Oleh-oleh TWSL Kota Probolinggo, selama ini hanya Rp 35 ribu per per bulan. Angka ini dinilai terlalu minim. Karenanya, Pemkot berencana menaikkannya. Namun, kini masih menunggu peraturan wali kota (perwali).

Pemkot bakal mengubah penarikan retribusi kepada pedagang menjadi sistem sewa. Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, sembari malukan pembinaan, DKUPP juga melakukan penataan ulang.

Retribusi yang selama ini diberlakukan kepada pedagang akan diganti dengan sistem sewa. Sebab, besaran retribusi Rp 35 ribu per bedak per bulan, terlalu minim. Dengan sistem sewa, potensi sumber dapatana daerah ini bisa dimaksimalkan.

Namun, kata Fitri, pemberlakuannya masih menunggu Perwali. Sehingga, ada aturan yang jelas dan mengikat untuk mekanisme sewanya.

“Sebenarnya Permendagri-nya ada. Yakni, Permendagri Nomor 16/2019 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. Cuma kami tetap butuh Perwali, agar lebih kuat. Saat ini masih dikaji oleh Bagian Hukum,” ujarnya.

Diketahuk, Pemkot Probolinggo berusaha menata ulang bedak Pusat Oleh-oleh TWSL. Karena itu, 20 pedagang yang menempati bedak ini diminta menyerahkan kuncinya. Namun, mereka enggan menurutinya. Alasannya, bedak ini menjadi ladang mata pencaharian mereka.

Namun, akhirnya ada 12 pedagang yang bersedia menyerahkannya. Sedangkan, delapan pedagang ngotot bertahan. Pemkot pun terus berusaha merealisasikannya. Kini, delapan pedagang itu dibina untuk berjualan seperti diinginkan Pemkot.

MAYANGAN, Radar Bromo-Retribusi bedak di Pusat Oleh-oleh TWSL Kota Probolinggo, selama ini hanya Rp 35 ribu per per bulan. Angka ini dinilai terlalu minim. Karenanya, Pemkot berencana menaikkannya. Namun, kini masih menunggu peraturan wali kota (perwali).

Pemkot bakal mengubah penarikan retribusi kepada pedagang menjadi sistem sewa. Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, sembari malukan pembinaan, DKUPP juga melakukan penataan ulang.

Retribusi yang selama ini diberlakukan kepada pedagang akan diganti dengan sistem sewa. Sebab, besaran retribusi Rp 35 ribu per bedak per bulan, terlalu minim. Dengan sistem sewa, potensi sumber dapatana daerah ini bisa dimaksimalkan.

Namun, kata Fitri, pemberlakuannya masih menunggu Perwali. Sehingga, ada aturan yang jelas dan mengikat untuk mekanisme sewanya.

“Sebenarnya Permendagri-nya ada. Yakni, Permendagri Nomor 16/2019 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. Cuma kami tetap butuh Perwali, agar lebih kuat. Saat ini masih dikaji oleh Bagian Hukum,” ujarnya.

Diketahuk, Pemkot Probolinggo berusaha menata ulang bedak Pusat Oleh-oleh TWSL. Karena itu, 20 pedagang yang menempati bedak ini diminta menyerahkan kuncinya. Namun, mereka enggan menurutinya. Alasannya, bedak ini menjadi ladang mata pencaharian mereka.

Namun, akhirnya ada 12 pedagang yang bersedia menyerahkannya. Sedangkan, delapan pedagang ngotot bertahan. Pemkot pun terus berusaha merealisasikannya. Kini, delapan pedagang itu dibina untuk berjualan seperti diinginkan Pemkot.

MOST READ

BERITA TERBARU

/