alexametrics
25.5 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Proyek Mandek, CV Grapari Siapkan Gugat Pemkot Probolinggo ke PTUN  

KEDOPOK, Radar Bromo– Upaya CV Graha Papan Lestari (Grapari) Kota Probolinggo mendapatkan izin pembangunan kembali pabriknya sulit terealisasi. Karenanya, CV di Jalan Prof. Dr. Hamka Kota Probolinggo ini berencana menempuh jalur hukum. Menggugat Pemkot Probolinggo ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Seperti ditegaskan General Manager CV Grapari Kartini. Menurutnya, karena sejauh ini surat keberatan atas rekomednasi dari PUPR-Perkim Kota Probolinggo belum ada balasan, pihaknya tengah berkonsultasi dan berdiskusi dengan pengacara perusahaan.

Hasilnya, saat ini tengah proses penyusunan naskah gugatan ke PTUN. “Njih, sedang kami susun (naskah gugatan ke PTUN),” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin (25/2).

Menurutnya, secara pribadi hal itu sangat disesalkan. Karena, jika mengacu pada izin dan lain-lainya, secara legal perusahaannya tidak melanggar. Terkait masalah keluhan limbah pabrik, juga tengah diatasi perusahaan. Meski tidak mungkin tidak ada limbah, namun sebisa mungkin limbah yang keluar berada di ambang batas.

Dengan adanya peristiwa kebakaran yang malah membuat perusahannya kian sulit dibangun kembali dengan alasan hendak adanya pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ar Rozy, itu pun membuatnya semakin kecewa. Karena, perusahaannya berdiri lebih awal dibanding rumah sakit yang kini masih digarap.

“Kami akan berupaya juga untuk memperjuangkan karyawan kami yang saat ini belum bisa bekerja,” ujarnya, meski belum memastikan kapan gugatannya akan dimasukkan ke PTUN.

Diketahui, proyek pembangunan yang dilakukan pabrik kayu CV Grapari di Kelurahan Kareng Lor, Kecamatan Kadopok, Kota Probolinggo, tersendat. Usut punya usut, pembangunan pabrik yang telah mencapai 70 persen itu terkendala adanya RSUD Ar-Rozy.

Izin proyek di CV Grapari tidak keluar. Bahkan, Pemkot meminta pembangunannya distop. Alasannya, kawasan ini masuk kawasan steril karena adanya proyek perioritas Pemkot  Probolinggo, berupa rumah sakit. Meski ternyata, perusahaan ini telah berdiri jauh sebelum rumah sakit ini mulai dibangun. Yakni, sejak 2015 dan beroperasi mulai 2016. Sedangkan, proyek rumah sakit digarap mulai 2019. (rpd/rud)

KEDOPOK, Radar Bromo– Upaya CV Graha Papan Lestari (Grapari) Kota Probolinggo mendapatkan izin pembangunan kembali pabriknya sulit terealisasi. Karenanya, CV di Jalan Prof. Dr. Hamka Kota Probolinggo ini berencana menempuh jalur hukum. Menggugat Pemkot Probolinggo ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Seperti ditegaskan General Manager CV Grapari Kartini. Menurutnya, karena sejauh ini surat keberatan atas rekomednasi dari PUPR-Perkim Kota Probolinggo belum ada balasan, pihaknya tengah berkonsultasi dan berdiskusi dengan pengacara perusahaan.

Hasilnya, saat ini tengah proses penyusunan naskah gugatan ke PTUN. “Njih, sedang kami susun (naskah gugatan ke PTUN),” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin (25/2).

Menurutnya, secara pribadi hal itu sangat disesalkan. Karena, jika mengacu pada izin dan lain-lainya, secara legal perusahaannya tidak melanggar. Terkait masalah keluhan limbah pabrik, juga tengah diatasi perusahaan. Meski tidak mungkin tidak ada limbah, namun sebisa mungkin limbah yang keluar berada di ambang batas.

Dengan adanya peristiwa kebakaran yang malah membuat perusahannya kian sulit dibangun kembali dengan alasan hendak adanya pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ar Rozy, itu pun membuatnya semakin kecewa. Karena, perusahaannya berdiri lebih awal dibanding rumah sakit yang kini masih digarap.

“Kami akan berupaya juga untuk memperjuangkan karyawan kami yang saat ini belum bisa bekerja,” ujarnya, meski belum memastikan kapan gugatannya akan dimasukkan ke PTUN.

Diketahui, proyek pembangunan yang dilakukan pabrik kayu CV Grapari di Kelurahan Kareng Lor, Kecamatan Kadopok, Kota Probolinggo, tersendat. Usut punya usut, pembangunan pabrik yang telah mencapai 70 persen itu terkendala adanya RSUD Ar-Rozy.

Izin proyek di CV Grapari tidak keluar. Bahkan, Pemkot meminta pembangunannya distop. Alasannya, kawasan ini masuk kawasan steril karena adanya proyek perioritas Pemkot  Probolinggo, berupa rumah sakit. Meski ternyata, perusahaan ini telah berdiri jauh sebelum rumah sakit ini mulai dibangun. Yakni, sejak 2015 dan beroperasi mulai 2016. Sedangkan, proyek rumah sakit digarap mulai 2019. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/