alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Duka Keluarga 2 Pelajar Tertabrak Kereta Api di Banjarsari

Kecelakaan yang dialami dua pelajar dari Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga Indah Permatasari, 17, dan Irma Cahyati, 17. Kedua korban yang masih memiliki hubungan keluarga tersebut, dikenal baik.

—————-

SUASANA rumah duka korban masih tampak berkabung. Senin (23/11), alas karpet dan tikar masih terhampar di rumah korban di Dusun Damaran RT 03 / RW I, Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Sejumlah warga, kerabat dan keluarga masih tampak penuhi teras rumah duka untuk takziah.

Di ruang tamu, tampak berkumpul keluarga kedua korban tersebut. Mereka sedang menemui petugas Satlantas Polres Probolinggo dan Jasa Raharja Probolinggo. Meskipun status kedua korban itu adalah adik kakak sepupu, tetapi mereka tinggal satu rumah. Rumah duka yang ditempati untuk para pentakziah pun juga kumpul satu rumah tersebut.

Sekitar pukul 11.30, Jawa Pos Radar Bromo mendatangi rumah keluarga korban kecelakaan KA tersebut. Tampak petugas Jasa Raharja yang tengah menyerahkan map warna biru pada keluarga korban. Map tersebut rupanya berisi rekening buku tabungan yang berisi dana santunan kematian kecelakaan. Masing-masing korban, mendapatkan santunan kematian sebesar Rp 50 juta.

Sesekali tampak suara tangis dari dalam ruang tengah keluarga korban. Semua keluarga masih belum menerima kejadian nahas itu. Ada keluarga yang berusaha tegar menerima kenyataan tersebut, ada juga yang masih syok. Menangis sambil menyebut nama korban Irma. ”Irma, Irma. Kenapa cepat pergi,” ujar Iswati, kakak pertama korban Irma sambil menangis dan memegang sebuah foto. Di foto itu ada Irma.

TERIMA BANTUAN: Sulasih, ibu Irma dan Uswatun Hasan, kakak Indah, saat menerima bantuan dri Jasa Raharja sebagai ahli waris. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Sulasih, 55, ibu Irma mengatakan, Irma merupakan anak bungsu dari empat saudara. Dirinya tidak pernah menyangka dengan kejadian yang menimpa anaknya. ”Saya waktu itu pergi menjenguk orang sakit di Nguling. Pas pulang, sudah ada ramai-ramai, Irma sudah meninggal,” ujarnya sambil menghapus air matanya.

Sulasih menceritakan, Irma orangnya pendiam. Tetapi, selalu berani untuk tampil dalam kegiatan. Selama ini, Irma dikenal dengan suara bagus untuk tilawah dan salawatan. Bahkan, sering tampil di acara sekolah dan musala desa setempat. ”Alhamduillah, anak saya pintar mengaji dan suka qosidah. Orangnya diam, tapi tidak malu kalau suruh tilawah atau tampil di acara,” kenangnya.

Sedangkan Indah, dikatakan Sulasih, merupakan kakak sepupu Irma. Kebetulan, Indah sudah ditinggal bapaknya sejak masih kecil. Indah anak kedua dari tiga saudara, sudah menjadi anak sendiri baginya. Apalagi, ibu korban Indah sedang menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di luar negeri.

”Sudah seperti kakak adik, tapi sepupu. Karena umurnya sepantaran, jadi sering bareng. Irman kelas I SMA dan Indah kelas II SMA di Tongas,” ujarnya.

Uswatun Hasan, 19, kakak kandung korban Indah mengaku, tidak pernah ada firasat dengan kejadian yang akan menimpa adiknya tersebut. Selama ini, adiknya dikenal mudah akrab. Jika ada sesuatu yang diinginkan, selalu disampaikan. ”Sehari sebelumnya selalu pergi bersama saya. Canda dan ketawa bareng. Tidak ada tanda mau pergi. Pas mau pergi keluar sebelum kejadian, dia (Indah) lihatin saya juga,” terangnya.

Sementara itu, Khawarid Pasaribu selaku Kepala Perwakilan Jasa Raharja Probolinggo saat dikonfirmasi mengatakan, kedatangannya hanya untuk menyampaikan amanah santunan kematian kecelakaan. ”Pasca kecelakaan, kami proses langsung penyerahan santunan kematian kecelakaan. Karena persyaratan sudah terpenuhi seperti KK, KTP ahli waris, dalam sehari sudah bisa kami serahkan. Hanya ahli waris yang bisa mencairkan,” katanya.

Atas kejadian itu dikatakan Khawarid, harus menjadi perhatian dan pembelajaran bagi semua masyarakat. Supaya lebih berhati-hati saat melintasi rel KA, terutama perlintasan rel KA tanpa palang pintu.

”Masih ada titik jalan kecil menyeberang perlintasan KA tanpa ada palang pintu. Kita sebagai pengendara harus lebih berhati-hati. Sebelum menyeberang pastikan kanan kiri tidak ada kereta api,” imbaunya. (mas/fun)

Kecelakaan yang dialami dua pelajar dari Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga Indah Permatasari, 17, dan Irma Cahyati, 17. Kedua korban yang masih memiliki hubungan keluarga tersebut, dikenal baik.

—————-

SUASANA rumah duka korban masih tampak berkabung. Senin (23/11), alas karpet dan tikar masih terhampar di rumah korban di Dusun Damaran RT 03 / RW I, Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Sejumlah warga, kerabat dan keluarga masih tampak penuhi teras rumah duka untuk takziah.

Di ruang tamu, tampak berkumpul keluarga kedua korban tersebut. Mereka sedang menemui petugas Satlantas Polres Probolinggo dan Jasa Raharja Probolinggo. Meskipun status kedua korban itu adalah adik kakak sepupu, tetapi mereka tinggal satu rumah. Rumah duka yang ditempati untuk para pentakziah pun juga kumpul satu rumah tersebut.

Sekitar pukul 11.30, Jawa Pos Radar Bromo mendatangi rumah keluarga korban kecelakaan KA tersebut. Tampak petugas Jasa Raharja yang tengah menyerahkan map warna biru pada keluarga korban. Map tersebut rupanya berisi rekening buku tabungan yang berisi dana santunan kematian kecelakaan. Masing-masing korban, mendapatkan santunan kematian sebesar Rp 50 juta.

Sesekali tampak suara tangis dari dalam ruang tengah keluarga korban. Semua keluarga masih belum menerima kejadian nahas itu. Ada keluarga yang berusaha tegar menerima kenyataan tersebut, ada juga yang masih syok. Menangis sambil menyebut nama korban Irma. ”Irma, Irma. Kenapa cepat pergi,” ujar Iswati, kakak pertama korban Irma sambil menangis dan memegang sebuah foto. Di foto itu ada Irma.

TERIMA BANTUAN: Sulasih, ibu Irma dan Uswatun Hasan, kakak Indah, saat menerima bantuan dri Jasa Raharja sebagai ahli waris. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Sulasih, 55, ibu Irma mengatakan, Irma merupakan anak bungsu dari empat saudara. Dirinya tidak pernah menyangka dengan kejadian yang menimpa anaknya. ”Saya waktu itu pergi menjenguk orang sakit di Nguling. Pas pulang, sudah ada ramai-ramai, Irma sudah meninggal,” ujarnya sambil menghapus air matanya.

Sulasih menceritakan, Irma orangnya pendiam. Tetapi, selalu berani untuk tampil dalam kegiatan. Selama ini, Irma dikenal dengan suara bagus untuk tilawah dan salawatan. Bahkan, sering tampil di acara sekolah dan musala desa setempat. ”Alhamduillah, anak saya pintar mengaji dan suka qosidah. Orangnya diam, tapi tidak malu kalau suruh tilawah atau tampil di acara,” kenangnya.

Sedangkan Indah, dikatakan Sulasih, merupakan kakak sepupu Irma. Kebetulan, Indah sudah ditinggal bapaknya sejak masih kecil. Indah anak kedua dari tiga saudara, sudah menjadi anak sendiri baginya. Apalagi, ibu korban Indah sedang menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di luar negeri.

”Sudah seperti kakak adik, tapi sepupu. Karena umurnya sepantaran, jadi sering bareng. Irman kelas I SMA dan Indah kelas II SMA di Tongas,” ujarnya.

Uswatun Hasan, 19, kakak kandung korban Indah mengaku, tidak pernah ada firasat dengan kejadian yang akan menimpa adiknya tersebut. Selama ini, adiknya dikenal mudah akrab. Jika ada sesuatu yang diinginkan, selalu disampaikan. ”Sehari sebelumnya selalu pergi bersama saya. Canda dan ketawa bareng. Tidak ada tanda mau pergi. Pas mau pergi keluar sebelum kejadian, dia (Indah) lihatin saya juga,” terangnya.

Sementara itu, Khawarid Pasaribu selaku Kepala Perwakilan Jasa Raharja Probolinggo saat dikonfirmasi mengatakan, kedatangannya hanya untuk menyampaikan amanah santunan kematian kecelakaan. ”Pasca kecelakaan, kami proses langsung penyerahan santunan kematian kecelakaan. Karena persyaratan sudah terpenuhi seperti KK, KTP ahli waris, dalam sehari sudah bisa kami serahkan. Hanya ahli waris yang bisa mencairkan,” katanya.

Atas kejadian itu dikatakan Khawarid, harus menjadi perhatian dan pembelajaran bagi semua masyarakat. Supaya lebih berhati-hati saat melintasi rel KA, terutama perlintasan rel KA tanpa palang pintu.

”Masih ada titik jalan kecil menyeberang perlintasan KA tanpa ada palang pintu. Kita sebagai pengendara harus lebih berhati-hati. Sebelum menyeberang pastikan kanan kiri tidak ada kereta api,” imbaunya. (mas/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/