alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Duh, Masih Ada 2.716 KK di Kota Probolinggo Masih BAB Sembarangan

MAYANGAN, Radar Bromo – Baru 14 kelurahan di Kota Probolinggo dinyatakan open defecation free (ODF) atau bebas buang air besar (BAB) sembarangan. Sementara, 15 kelurahan sisanya atau separo lebih, belum ODF 100 persen.

Separo lebih kelurahan yang belum ODF 100 persen itu terjadi karena beberapa faktor. Salah satu penyebabnya, karena perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih rendah.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Ismuningsih mengungkapkan, ODF memang belum 100 persen. Dari 29 kelurahan, baru 14 kelurahan yang sudah ODF. Lalu, akses untuk Kota Probolinggo mencapai 96,35 persen.

Kelurahan yang dinyatakan sudah 100 persen ODF adalah Ketapang, Pilang, Triwung Lor, Kebonsari Wetan, Jrebeng Wetan, Sumber Wetan, Sukabumi, dan Wiroborang. Selanjutnya, Kelurahan Pakisaji, Sumber Taman, Wonoasih, Sukoharjo, dan Curahgrinting.

“Di luar itu masih belum. Ada 2.716 KK masih BAB sembarangan. Dan yang paling banyak itu di Kelurahan Kedopok, mencapai 665 kepala keluarga (KK) dan Wonoasih sebanyak 603 KK,” ungkapnya.

Pihaknya pun menargetkan, pada 2024 Kota Probolinggo sudah ODF 100 persen. Dinkes pun rutin melakukan sosialisasi dan pemicuan lewat tokoh masyarakat dan RT/RW untuk mengejar target itu. Sebab, saat ini memang masih ada masyarakat yang tidak memiliki jamban.

Bagi masyarakat yang kesulitan memiliki jamban, ada sistem inovasi layanan arisan jamban sehat dan tabung beras (Si Inol Aja). Si Inol ini membuat masyarakat bisa menyisihkan penghasilan harian mereka. Usai terkumpul, tabungan ini akan digunakan untuk membangun jamban oleh wirausaha sanitasi.

Namun memang diakui, ada pula masyarakat yang lebih suka BAB di sungai. Meskipun sudah memiliki akses sanitasi yang cukup dengan ketersediaan jamban di rumahnya. Padahal, BAB sembarangan ini berbahaya. Efeknya bisa mencemari sungai dan membuat ia bisa terpapar diare.

“Diperlukan peran serta semua pihak untuk aktif memberikan pemahaman bahwa BAB sembarangan tidak baik. Namun, Kota Probolinggo sudah di atas rata-rata nasional dan provinsi,” sebutnya. (riz/hn)

MAYANGAN, Radar Bromo – Baru 14 kelurahan di Kota Probolinggo dinyatakan open defecation free (ODF) atau bebas buang air besar (BAB) sembarangan. Sementara, 15 kelurahan sisanya atau separo lebih, belum ODF 100 persen.

Separo lebih kelurahan yang belum ODF 100 persen itu terjadi karena beberapa faktor. Salah satu penyebabnya, karena perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih rendah.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Ismuningsih mengungkapkan, ODF memang belum 100 persen. Dari 29 kelurahan, baru 14 kelurahan yang sudah ODF. Lalu, akses untuk Kota Probolinggo mencapai 96,35 persen.

Kelurahan yang dinyatakan sudah 100 persen ODF adalah Ketapang, Pilang, Triwung Lor, Kebonsari Wetan, Jrebeng Wetan, Sumber Wetan, Sukabumi, dan Wiroborang. Selanjutnya, Kelurahan Pakisaji, Sumber Taman, Wonoasih, Sukoharjo, dan Curahgrinting.

“Di luar itu masih belum. Ada 2.716 KK masih BAB sembarangan. Dan yang paling banyak itu di Kelurahan Kedopok, mencapai 665 kepala keluarga (KK) dan Wonoasih sebanyak 603 KK,” ungkapnya.

Pihaknya pun menargetkan, pada 2024 Kota Probolinggo sudah ODF 100 persen. Dinkes pun rutin melakukan sosialisasi dan pemicuan lewat tokoh masyarakat dan RT/RW untuk mengejar target itu. Sebab, saat ini memang masih ada masyarakat yang tidak memiliki jamban.

Bagi masyarakat yang kesulitan memiliki jamban, ada sistem inovasi layanan arisan jamban sehat dan tabung beras (Si Inol Aja). Si Inol ini membuat masyarakat bisa menyisihkan penghasilan harian mereka. Usai terkumpul, tabungan ini akan digunakan untuk membangun jamban oleh wirausaha sanitasi.

Namun memang diakui, ada pula masyarakat yang lebih suka BAB di sungai. Meskipun sudah memiliki akses sanitasi yang cukup dengan ketersediaan jamban di rumahnya. Padahal, BAB sembarangan ini berbahaya. Efeknya bisa mencemari sungai dan membuat ia bisa terpapar diare.

“Diperlukan peran serta semua pihak untuk aktif memberikan pemahaman bahwa BAB sembarangan tidak baik. Namun, Kota Probolinggo sudah di atas rata-rata nasional dan provinsi,” sebutnya. (riz/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/