10 ABK asal Riau yang Berlabuh di Kota Probolinggo Sempat Dikarantina

BERTEMU AWAK MEDIA: Kepala KSOP Probolinggo Subuh Fakkurochman menyampaikan kepada awak medianya tentang adanya 10 ABK yang dikarantina, Senin (23/3) siang. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN, Radar Bromo – Sejumlah 10 anak buah kapal (ABK) asal Riau, sempat harus dikarantina di kapalnya selama 14 hari ketika berlabuh di Kota Probolinggo. Sebab, mereka baru datang dari Batam, serta sakit flu dan suhu tubuhnya 38 derajat Celcius.

Langkah itu diambil Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Probolinggo, sebagai upaya mengantisipasi penyebaran virus korona. Syukur, setelah menjalani karantina mereka dinyatakan sehat dan diperbolehkan kembali melaut.

Kepala KSOP Probolinggo Subuh Fakkurochman mengatakan, sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan keamanan KSOP, semua awak kapal yang akan melaut harus membuat buku melaut. Salah satunya yang harus dijalankan pemeriksaan kondisi kesehatan ABK. “Sebelum ada kasus Covid-19, KSOP sudah menerapkannya untuk memastikan kondisi kesehatan awak kapal saat hendak melaut,” ujarnya dalam pres rilis, kemarin.

Kamis (19/3), ada 6 ABK yang datang ke klinik Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Probolinggo. Di antaranya, dua orang memiliki keluhan panas dengan suhu tubuhnya lebih dari 38 derajat Celcius. Serta, sakit flu, batuk, dan sesak napas. Begitu juga empat orang ABK, suhu tubuhnya lebih dari 38 derajat dan sedikit flu.

“Kami rujuk dua pasien yang suhu panas tinggi dan mengalami sesak napas serta flu ke RSUD dr. Mohamad Saleh (Kota Probolinggo) menggunakan ambulans. Hasil pemeriksaan, kedua orang ABK itu dinyatakan tidak mengarah ke tanda-tanda terinfeksi Covid-19 dengan tindakan rawat inap,” ujarnya.

Subuh mengatakan, sesuai SOP dan melihat riwayat perjalanan mereka, akhirnya keberangkatan kapal mereka ditunda. Para ABK itu diminta tetap berada di kapalnya sampai kesehatannya benar-benar pulih.

Menurutnya, dari hasil wawancara dengan ABK, ada 10 ABK yang berasal dari Provinsi Kepri, Riau. Pada 8 Maret, mereka berangkat dari Bali ke Surabaya menggunakan pesawat. Dari Surabaya ke Kota Probolinggo, naik mobil pribadi. Karenanya, total ada 10 ABK yang sempat dikarantina di kapal.

“Kami sempat karantina 10 ABK itu di dalam kapal, tidak boleh ada yang ke luar-masuk. Karena sudah melewati 14 hari atau masa inkubasi, kemudian kondisi 10 ABK sudah sehat, rencana nanti sore (kemarin) sudah diperbolehkan berangkat melaut,” jelas Subuh.

Sementara itu, Kepala KKP Kelas II Probolinggo Boediono mengatakan, melihat situasi Covid-19 di Indoneisa, khususnya di Jawa Timur dan riwayat perjalanan ABK, pihaknya merekomendasikan 10 ABK tersebut dikarantina mandiri sampai menunggu masa inkubasi 14 hari. Karantina mandiri terhitung mulai 19-23 Maret, karena masa inkubasi terhitung mulai 8 Maret. Tujuannya, mengurangi kontak dengan masyarakat.

“Selama menjalani karantina mandiri, petugas dari KKP melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi ABK. KSOP memfasilitasi sarana transportasi dan keamanannya,” jelasnya. (mas/rud/fun)