alexametrics
27 C
Probolinggo
Tuesday, 2 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Renovasi Habis Rp 950 Juta, Masjid Agung Masih Bocor

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

MAYANGAN, Radar Bromo – Meskipun mendapat anggaran sampai Rp 950 juta, namun renovasi lantai dua Masjid Raudlatul Jannah belum bisa menyelesaikan masalah. Masih ada atap yang bocor di masjid yang biasa disebut Masjid Agung itu.

Kondisi ini disampaikan Joko, konsultan pengawas dari CV Pelangi. Saat menemani Komisi III DPRD Kota Probolinggo sidak proyek renovasi Masjid Agung, Joko menyebut, masih ada atap yang bocor.

Joko menjelaskan, anggaran Rp 950 juta itu digunakan untuk membangun kubah masjid dan injeksi beton untuk treatment struktur masjid. Rinciannya, Rp 450 juta untuk merenovasi kubah masjid dan Rp 500 juta untuk injeksi beton.

Menurutnya, ada 4.500 titik yang perlu diinjeksi. Namun, anggaran Rp 500 juta itu hanya cukup mengkover 3.157 titik injeksi. Masih kurang 1.343 titik yang harus diinjeksi.

“Proses injeksi beton ini merupakan treatment struktur. Teknik injeksi pada struktur ini merupakan sistem baru. Namun, injeksi beton ini tidak menyelesaikan kebocoran karena belum semua titik kebocoran diinjeksi. Ini yang masih dikeluhkan takmir masjid,” katanya.

Solusinya menurut dia, bagian atas masjid yang bocor harus dicor ulang. Pengecoran dilakukan dengan screen minimal 5-8 cm dan dibuat aliran air.

“Saya rencananya mengusulkan hal ini ke almarhum Pak Wakil Wali Kota (Wawali Mochammad Soufis Subri, Red). Jadi, bagian atas tidak perlu pakai talang. Karena talang yang ada tidak mampu untuk luasan banguan 1.200 meter persegi,” ujarnya.

Rencananya, air langsung dibuang ke arah Barat, Selatan dan Utara. Namun, rencana itu belum tersampaikan.

Pengecoran ulang ini menurutnya, beda dengan injeksi beton. Anggaran renovasi memang dikhususnya pada injeksi beton dan perbaikan kubah.

Injeksi beton adalah treatment struktur untuk menutupi retakan-retakan. Karena jika tidak di-treatment, khawatir struktur bangunan rusak.

“Umur bangunan masjid ini sudah 10 tahun lebih, perlu treatment. Injeksi dilakukan mumpung bagian atas belum dicor. maka perlu di-treatment dari bagian bawah dengan cara injeksi,” terangnya.

Meski demikian menurut Joko, proyek renovasi tahun 2020 itu telah selesai. “Renovasi lantai dua masjid ini sudah selesai,” ujarnya, Jumat (22/1) saat sidak.

Namun, beberapa anggota Komisi III mempertanyakan kondisi lantai II bangunan masjid itu. Sebab, kondisi bangunan seperti belum selesai direnovasi. Salah satunya, kerangka galvalum masih terlihat. Belum ditutup dengan asbes.

“Apa ini sudah selesai renovasinya? Kok kerangka galvalumnya masih terlihat,” tanya Heri Poniman, salah satu anggota Komisi III.

Saat disampaikan bahwa renovasi telah selesai, politisi Partai Gerindra ini menyarankan lebih baik tidak dipasang asbes. Tujuannya, untuk memudahkan mengecek kebocoran.

“Lebih baik bagian atas ini dibersihkan dan dicat. Lalu dipasang gipsum. Tidak perlu dipasang asbes supaya memudahkan untuk mengecek kebocoran. Kalau ada kebocoran tinggal diperbaiki bagian yang bocor,” ujarnya.

Rahman Kurniadi, PPTK Dinas PUPR PERKIM Kota Probolinggo berjanji akan menyampaikan masukan dari Komisi III tersebut. “Akan saya sampaikan masukan itu. Memang secara keseluruhan renovasi untuk Masjid Agung sudah selesai,” terangnya.

Sementara itu Agus Rianto, ketua Komisi III mengungkapkan bahwa renovasi Masjid Agung ini perlu dilanjutkan. Dan kelanjutannya menurutnya akan dibahas kembali nanti.

“Jika ada pembahasan terkait anggaran ini akan dibahas. Karena ini juga berkaitan dengan masalah teknis bangunan,” terangnya. (put/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

MAYANGAN, Radar Bromo – Meskipun mendapat anggaran sampai Rp 950 juta, namun renovasi lantai dua Masjid Raudlatul Jannah belum bisa menyelesaikan masalah. Masih ada atap yang bocor di masjid yang biasa disebut Masjid Agung itu.

Kondisi ini disampaikan Joko, konsultan pengawas dari CV Pelangi. Saat menemani Komisi III DPRD Kota Probolinggo sidak proyek renovasi Masjid Agung, Joko menyebut, masih ada atap yang bocor.

Joko menjelaskan, anggaran Rp 950 juta itu digunakan untuk membangun kubah masjid dan injeksi beton untuk treatment struktur masjid. Rinciannya, Rp 450 juta untuk merenovasi kubah masjid dan Rp 500 juta untuk injeksi beton.

Mobile_AP_Half Page

Menurutnya, ada 4.500 titik yang perlu diinjeksi. Namun, anggaran Rp 500 juta itu hanya cukup mengkover 3.157 titik injeksi. Masih kurang 1.343 titik yang harus diinjeksi.

“Proses injeksi beton ini merupakan treatment struktur. Teknik injeksi pada struktur ini merupakan sistem baru. Namun, injeksi beton ini tidak menyelesaikan kebocoran karena belum semua titik kebocoran diinjeksi. Ini yang masih dikeluhkan takmir masjid,” katanya.

Solusinya menurut dia, bagian atas masjid yang bocor harus dicor ulang. Pengecoran dilakukan dengan screen minimal 5-8 cm dan dibuat aliran air.

“Saya rencananya mengusulkan hal ini ke almarhum Pak Wakil Wali Kota (Wawali Mochammad Soufis Subri, Red). Jadi, bagian atas tidak perlu pakai talang. Karena talang yang ada tidak mampu untuk luasan banguan 1.200 meter persegi,” ujarnya.

Rencananya, air langsung dibuang ke arah Barat, Selatan dan Utara. Namun, rencana itu belum tersampaikan.

Pengecoran ulang ini menurutnya, beda dengan injeksi beton. Anggaran renovasi memang dikhususnya pada injeksi beton dan perbaikan kubah.

Injeksi beton adalah treatment struktur untuk menutupi retakan-retakan. Karena jika tidak di-treatment, khawatir struktur bangunan rusak.

“Umur bangunan masjid ini sudah 10 tahun lebih, perlu treatment. Injeksi dilakukan mumpung bagian atas belum dicor. maka perlu di-treatment dari bagian bawah dengan cara injeksi,” terangnya.

Meski demikian menurut Joko, proyek renovasi tahun 2020 itu telah selesai. “Renovasi lantai dua masjid ini sudah selesai,” ujarnya, Jumat (22/1) saat sidak.

Namun, beberapa anggota Komisi III mempertanyakan kondisi lantai II bangunan masjid itu. Sebab, kondisi bangunan seperti belum selesai direnovasi. Salah satunya, kerangka galvalum masih terlihat. Belum ditutup dengan asbes.

“Apa ini sudah selesai renovasinya? Kok kerangka galvalumnya masih terlihat,” tanya Heri Poniman, salah satu anggota Komisi III.

Saat disampaikan bahwa renovasi telah selesai, politisi Partai Gerindra ini menyarankan lebih baik tidak dipasang asbes. Tujuannya, untuk memudahkan mengecek kebocoran.

“Lebih baik bagian atas ini dibersihkan dan dicat. Lalu dipasang gipsum. Tidak perlu dipasang asbes supaya memudahkan untuk mengecek kebocoran. Kalau ada kebocoran tinggal diperbaiki bagian yang bocor,” ujarnya.

Rahman Kurniadi, PPTK Dinas PUPR PERKIM Kota Probolinggo berjanji akan menyampaikan masukan dari Komisi III tersebut. “Akan saya sampaikan masukan itu. Memang secara keseluruhan renovasi untuk Masjid Agung sudah selesai,” terangnya.

Sementara itu Agus Rianto, ketua Komisi III mengungkapkan bahwa renovasi Masjid Agung ini perlu dilanjutkan. Dan kelanjutannya menurutnya akan dibahas kembali nanti.

“Jika ada pembahasan terkait anggaran ini akan dibahas. Karena ini juga berkaitan dengan masalah teknis bangunan,” terangnya. (put/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2