Kecelakaan Kerja Renggut Nyawa di PT AFU, Komisi III: Ada Human Error  

KANIGARAN, Radar BromoKecelakaan kerja yang menimpa suplier PT Amak Firdaus Utama (AFU) Selasa (21/1) menjadi perhatian Komisi III DPRD Kota Probolinggo. Kamis (23/1), Komisi III pun menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan PT AFU.

Dalam RDP tersebut, Komisi III mengundang berbagai pihak yang berkaitan dengan peristiwa kecelakaan kerja. selain perwakilan PT AFU, juga ada Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja; Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur; serta SPSI.

AAA Rudyanto, perwakilan dari PT AFU menjelaskan kronologi kecelakaan kerja yang terjadi Selasa (21/1) sekitar pukul 17.55 itu. “Waktu bongkar muat, beliau mundur bersama dump truck-nya. Pada saat dumping, perkiraan saya dengan melihat video, ketika kabin mulai terangkat seharusnya dump truck diturunkan kembali,” ujarnya.

Namun, kondisinya tidak demikian. “Dump truck tidak diturunkan, malam terus naik. Sampai kabinnya ikut naik. Mungkin karena panik, sopir terpental ke dasbor. Jadi kecelakaan kerja ini bukan karena mesin kami, tapi karena ada human error,” ujarnya.

Ditegaskannya, kecelakaan kerja tersebut terjadi hampir magrib. Mengingat tidak ada batasan waktu untuk proses penyerahan atas kiriman bahan baku untuk pabrik.

“Untuk jam penerimaan bahan baku memang tidak ada batasan. Kapanpun kami terima,” ujarnya saat mendapat pertanyaan mengenai jam kejadian yang terjadi malam hari.

Udin, dari PT AFU menjelaskan, setelah kecelakaan kerja tersebut, pihak pabrik memberikan pertolongan. Yaitu, membawa korban yang merupakan sopir ekspedisi PT Sekar Tanjung Barokah ini ke RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo.

“Namun, dari tanda pengenal tidak ada kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan maupun BPJS Kesehatan, sehingga didaftarkan sebagai pasien umum. Biaya perawatan sudah dibebankan pada perusahaan,” jelasnya.

Sementara itu, Daya Wijaya, koordinator Subkorwil Probolinggo Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur memberikan analisis yang berbeda terkait kecelakaan kerja di PT AFU. Dalam hasil analisis pengawas tenaga kerja, ditemukan kerusakan pada hydrolic system dump truck yang digunakan korban.

“Tapi, di sini kami juga melihat ada human error yang dilakukan oleh Ahmad Mansur, 61. Yaitu, tidak menggunakan safety belt. Jika saat kejadian menggunakan safety belt, kemungkinan korban tidak akan terbentur pada dasbor truk,” jelasnya.

Sementara itu, Agus Rianto, ketua Komisi III ditemui terpisah setelah RDP menjelaskan, dalam sistem kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di PT AFU masih ada kekurangan. “Hal ini terlihat dalam penerapan aturan, baik bagi karyawan PT AFU maupun karyawan di luar PT AFU yang masuk ke lingkungan pabrik. Contohnya mengenai penggunaan safety belt,” jelasnya.

Sopir saat itu tidak menggunakan safety belt. Padahal, ada di lingkungan perusahaan. “Kalau sopir pakai safety belt, pasti tidak akan sampai terhempas ke dasbor,” tambahnya. (put/hn)