alexametrics
25.8 C
Probolinggo
Saturday, 28 November 2020

Begini Suasana Pengajian Akbar Virtual di Puncak Peringatan HSN VI

KANIGARAN, Radar Bromo – Peringatan Hari Santri Nasional VI di Kota Probolinggo ditutup dengan pengajian akbar virtual. Pengajian akbar ini diikuti sekitar 8.000 santri dari 19 Pondok Pesantren di Kota Probolinggo.

Acara pengajian dilakukan di Puri Manggala Bhakti, Pemkot Probolinggo. Acara ini digelar secara offline dengan dihadiri hanya 75 orang. Yaitu dari Forkopimda, ulama serta kepala OPD. Dari sini, pengajian disiarkan secara virtual dan diikuti 8.000 santri se Kota Probolinggo.

Hadir Wakil Wali Kota Probolinggo Moch Soufis Subri dan Ketua DPRD Kota Probolinggo Abdul Mujib. Juga hadir Ketua MUI Kota Probolinggo KH Nizar Irsyad, Ketua PCNU Kota Probolinggo Syamsur, ketua PDM Kota Probolinggo H. Masfuk serta sejumlah ulama. Sementara itu di deretan peserta pengajian akbar perempuan, ada wakil TP PKK Kota Probolinggo Diah Kristanti Subri bersama Sekda Kota Probolinggo, drg Ninik Ira Wibawati.

Wakil Ketua PWNU Jatim KH Syafrudin Syarif mengisi tausiah di Puri manggala Bhakti dengan disaksikan secara virtual oleh 8.000 santri dan pelajar se-Kota Probolinggo.

 

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur Drs. KH Syafrudin Syarif, mengisi tausiah dalam pengajian akbar ini. Tausiah inilah yang diikuti ribuan santri serta masyarakat melalui media sosial resmi Pemkot Probolinggo. Sebelum pengajian akbar virtual dimulai, tim hadrah dari Pesantren Riyadlus Sholihin menunjukkan kepiawaiannya melantunkan seni musik Islami.

Sebelum dimulai, lagu Indonesia Raya serta lagu Ya Lal Wathan menggema di ruangan berkapasitas lebih dari 300 orang itu. Dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Alquran yang diikuti dengan khidmat oleh peserta pengajian.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Probolinggo Moch Soufis Subri menyampaikan, pengajian akbar virtual memperingati Hari Santri Nasional VI itu disaksikan lebih dari 8.000 santri mukim.

Tim Hadrah dari Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Kota Probolinggo mengisi seni musik islam hadrah sebelum dimulainya tausiah.

 

“Lebih dari seribu guru pesantren serta siswa-siswi SD, SMP dan SMA, SMK mereview tausiah untuk pelajaran agama. Upaya ini merupakan langkah Pemkot untuk membangun sumber daya manusia tidak hanya sekadar membangun infrastruktur,” ujarnya.

Dilanjutkan Subri, santri memiliki peran luar biasa dalam mengokohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Santri berada dalam garda terdepan, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka.

“Sampai hari ini santri sangat terasa legitimasinya. Banyak santri memiliki prestasi luar biasa. Di kota Probolinggo juga dipimpin seorang santri,” ujarnya.

Wawali mengungkapkan bahwa santri memiliki manfaat, keistimewaan dan keunggulan. Ada 2 hal yang diunggulkan dari santri itu unggul dalam aspek akademis dan religius.

Para kepala OPD di lingkungan Pemkot Probolinggo hadir. Mereka mengikuti pembukaan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan Ya lal Wathan.

 

“Kami berharap bahwa santri yang unggul serta berkemajuan. Santri unggul memiliki hidup sederhana, daya tahan hidup tinggi karena ditempa di pondok pesantren,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Subri meminta kepada keluarga besar Pondok Pesantren untuk selalu waspada dan menerapkan protokol kesehatan. “Santri diharapkan menjadi rantai pemutus mata rantai Covid-19,” ujarnya.

Sementara itu KH Syafrudin Syarif, Wakil Ketua PWNU Jatim dalam tausiahnya mengungkapkan, santri memiliki peran besar dalam menjaga kemerdekaan Indonesia. Salah satu peristiwa yang membuktikan peran besar tersebut adalah perang 10 November 1945 di Surabaya.

“Tidak lama setelah Indonesia merdeka, tentara Inggris yang dipimpin Brigadir Jendral Malabby datang ke Indonesia. Jenderal Sudirman kemudian minta saran kepada KH Hasyim Asy’ari,” ujarnya.

Pengajian akbar tidak hanya diikuti dari gedung Puri Manggala Bhakti di Pemkot Probolinggo. Santri mukim dan guru pondok pesantren mengikuti secara virtual pengajian ini. Baik melalui video conference, juga melalui akun media sosial Pemkot Probolinggo.

 

KH Hasyim Asy’ari menyampaikan bahwa menjaga kemerdekaan Indonesia adalah wajib hukumnya. Apa yang mampu dilakukan, maka harus dilakukan untuk menghalau penjajah masuk kembali ke Indonesia.

Tidak lama setelah itu, beliau memanggil KH Wahid Hasyim ayah Gus Dur untuk memanggil ulama-ulama di Surabaya pada 21 dan 22 Oktober. Pada 22 Oktober muncul resolusi jihad yang menekankan wajib hukumnya ikut berperang menjaga kemerdekaan. Para ulama menyampaikan resolusi jihad itu kepada masyarakat dan kepada santri untuk datang ke Surabaya berperang.

“Sejarah peran santri ini dalam persitiwa 10 November 1945 tidak banyak terungkap,” tambahnya.

Kyai Syafrudin pun berpesan kepada para santri untuk tetap menjaga nasionalisme bangsa.

“Jangan sampai terpecah dengan ajakan khilafah. Sejarah sudah membuktikan dengan gagalnya pemberontakan Karto Suwiryo. Mari jaga NKRI,” pesannya. (put/adv)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Awal Mengeluh Greges, Nakes RSUD dr Saleh Positif Covid-19 Meninggal

Sumarsono meninggal setelah sempat dirawat selama 7 hari di RSUD dr Moh Saleh.

Hendak Parkir, Truk Tertabrak Motor di Nguling

Saat berbelok ke arah utara, sopir truk tak mengetahui ada motor melaju dari arah barat ke arah timur.

Guru Dituntut Kreatif Mengajar di Tengah Pandemi  

Di saat pandemi, tugas guru tidak hanya sebagai pengajar tapi juga pembelajar, karena harus menemukan ide kreatif agar pembelajaran tetap menyenangkan.

Kali Wrati Masih Tercemar, Dewan Soroti Pengalihan Limbah

Polemik limbah yang mencemari sungai Wrati di Kecamatan Beji belum berakhir.

Perbaikan Jalan di Kab Probolinggo Dilanjut Hingga Akhir Tahun

Adanya perbaikan tersebut tidak terlepas dari adanya perubahan anggaran (P-APBD) yang dilakukan pihak PUPR