alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Peternak Terdampak PMK di Probolinggo Keluhkan Tak Ada Bantuan Pengobatan

DRINGU, Radar BromoBunadi menangis. Peternak sapi asal Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, itu meminta pemerintah turun ke lapangan. Mengobati sapi yang terserang wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, selama ini belum ada satu pun petugas yang membantu peternak.

“Tolong, Pak, segera orang-orang atas itu suruh turun ke bawah. Di bawah ini sudah banyak ternak mati dan masih sakit. Orang atas belum ada yang turun,” tuturnya di hadapan Kapolres Probolinggo AKBP Teuku Arsya Khadafi dan puluhan peternak lainnya, Rabu (22/6) di kantor Kecamatan Dringu.

Bunadi sendiri memiliki lima ekor sapi. Semuanya terserang virus PMK. Namun, hingga saat ini tak kunjung sembuh. Di sisi lain, tidak ada petugas yang turun membantu untuk mengobati ternaknya yang sakit.

Bunadi pun mengaku tidak tahu harus bagaimana agar hewan ternaknya sembuh. Dirinya sudah mendatangkan manteri hewan untuk disuntik dan membayar Rp 40 ribu sekali suntik. Namun, hingga saat ini belum juga sembuh.

“Masa sapi yang sakit hanya dikasih garam asem biar sembuh. Masa seperti itu, Pak. Sapi itu butuh obat, vitamin juga agar kuat dan sembuh. Ini cuma disuruh direndem kakinya pakai air garang asem,” ungkap lelaki penyandang tunanetra itu.

Hal serupa disampaikan Siamah, 54, peternak asal Desa Taman Sari, Dringu. Siamah juga memiliki lima ekor sapi. Semuanya terserang PMK. Bahkan, satu di antaranya sudah mati. Lalu, empat yang lain belum sembuh sampai sekarang.

”Saya nangis sampai dua hari, karena sapi saya mati. Kasihan, sudah hampir satu tahun sapi itu saya pelihara,” ungkapnya.

DRINGU, Radar BromoBunadi menangis. Peternak sapi asal Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, itu meminta pemerintah turun ke lapangan. Mengobati sapi yang terserang wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, selama ini belum ada satu pun petugas yang membantu peternak.

“Tolong, Pak, segera orang-orang atas itu suruh turun ke bawah. Di bawah ini sudah banyak ternak mati dan masih sakit. Orang atas belum ada yang turun,” tuturnya di hadapan Kapolres Probolinggo AKBP Teuku Arsya Khadafi dan puluhan peternak lainnya, Rabu (22/6) di kantor Kecamatan Dringu.

Bunadi sendiri memiliki lima ekor sapi. Semuanya terserang virus PMK. Namun, hingga saat ini tak kunjung sembuh. Di sisi lain, tidak ada petugas yang turun membantu untuk mengobati ternaknya yang sakit.

Bunadi pun mengaku tidak tahu harus bagaimana agar hewan ternaknya sembuh. Dirinya sudah mendatangkan manteri hewan untuk disuntik dan membayar Rp 40 ribu sekali suntik. Namun, hingga saat ini belum juga sembuh.

“Masa sapi yang sakit hanya dikasih garam asem biar sembuh. Masa seperti itu, Pak. Sapi itu butuh obat, vitamin juga agar kuat dan sembuh. Ini cuma disuruh direndem kakinya pakai air garang asem,” ungkap lelaki penyandang tunanetra itu.

Hal serupa disampaikan Siamah, 54, peternak asal Desa Taman Sari, Dringu. Siamah juga memiliki lima ekor sapi. Semuanya terserang PMK. Bahkan, satu di antaranya sudah mati. Lalu, empat yang lain belum sembuh sampai sekarang.

”Saya nangis sampai dua hari, karena sapi saya mati. Kasihan, sudah hampir satu tahun sapi itu saya pelihara,” ungkapnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/