alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Candi Jabung; Tempat Persinggahan-Pemujaan Zaman Kerajaan Majapahit

BERDIRI pada 667 tahun silam atau tepatnya 1354 Masehi (Tahun Saka 1276), Candi Jabung masih kukuh hingga saat ini. Menurut berita dalam Kitab Pararaton (abad XVI M), Candi Jabung adalah tempat suci.

Dikisahkan, abad XIV M kala itu masih zaman Kerajaan Majapahit. Pendirian Candi Jabung konon melibatkan empat bidadari. Yaitu, Nawang Wulan, Nawang Sukma Nawang Sito, dan Nawang Sari. ”Mereka berasal dari kahyangan,” kata Bunadin 52, juru pelihara (jupel) Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di Candi Jabung.

Sementara itu, menurut kitab Negarakertagama, Candi Jabung diberitakan merupakan bangunan suci yang bersifat Budhis. Disebut Sugara Pratista. Bangunan suci ini merupakan tempat pendharmaan seorang istri Raja Bhra Gundal, yang masih keluarga Raja Hayam Wuruk.

Koordinator Wilayah Cagar Budaya Kabupaten Probolinggo pada BPCB Abd. Rahman menyebutkan, Semasa Kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk pernah dua kali berkunjung ke wilayah timur kerajaannya. Masing-masing sebelum Candi Jabung dibangun dan setelah Candi Jabung dibangun.

Pada kunjungan pertama, Hayam Wuruk memerintahkan Patih Gajah Mada untuk membuat bangunan suci atau tempat singgah. Sebab, saat kunjungan itu, tidak ada tempat singgah untuk sang raja.

Saat itu Gajah Mada bingung. Sesampai di Sumber mata air, tepatnya Desa Taman Sari, dia bertemu dengan perempuan yang sedang mandi. Kemudian Gajah Mada mengutarakan maksudnya hendak membuat bangunan tempat singgah.

Perempuan yang tengah mandi tersebut tidak lain adalah bidadari Nawang Wulan. Bersama tiga bidadari lain, Nawang Wulan menyatakan sanggup membuat tempat persinggahan. Namun, ada syaratnya. Gajah Mada harus bisa mengalahkan mereka lebih dulu. ”Pada akhirnya, para bidadari dari kahyangan tersebut kalah. Mereka pun membangunkan candi,” ujar Rahman.

Candi yang kali pertama dibangun para bidadari tersebut adalah Candi Wurung. Lokasinya di Desa Jabung Sisir. Mengapa dinamai Candi Wurung? Konon, candi itu belum selesai dibangun. Gara-garanya, ada permintaan yang dilanggar.

Para bidadari sanggup membangun candi asal tidak boleh ada yang melihat. Nah, rupanya, Gajah Mada penasaran. Saat hendak balik ke Trowulan, Mojokerto, dia mengintip para bidadari yang sedang membangun candi untuk persinggahan. Pembangunan pun gagal.

Gajah Mada lalu minta maaf kepada Nawang Wulan. Pembangunan candi diulang sampai benar-benar terwujud. ”Akhirnya jadilah Candi Jabung tersebut,” ujarnya.

Dalam kitab Nagarakertagama disebutkan Candi Jabung pernah dikunjungi Raja Hayam Wuruk ketika berkeliling Jawa Timur. Sang raja didampingi seluruh keluarga raja (bhatara sapta prabu), menteri-menteri, pemimpin agama, wakil golongan masyarakat. Termasuk, Patih Gajah Mada yang memimpin tentara kerajaan.

Tujuan perjalanan Raja Hayam Wuruk dan rombongan adalah memantau keadaan masyarakat yang dipimpinnya. Selain itu, perjalanan ini merupakan salah satu dharma yang harus dilakukan, yaitu menyatukan wilayah Kerajaan Majapahit.

Nah pada tahun 1359 M, Raja Hayam Wuruk kembali mengunjungi wilayah timur Majapahit. Sesampai di Candi Jabung, diadakan upacara penyembahan (nyekar) di lokasi utama candi. Tempat itu disebutkan sebagai persemayaman abu jenazah Bhra Gundal.

Selain digunakan sebagai lokasi atau tempat singgah dan tempat penyekaran, menurut Rahman, Candi Jabung dijadikan sebagai lokasi penyembahan atau peribadatan bagi Dewa Siwa.

”Jadi fungsi candi tersebut ada tiga pada masa itu. Yakni, penyembahan atau peribadatan untuk Dewa Siwa, tempat singgah, dan penyekaran,” ujar Rahman.

 

Jadi Lokasi Wisata dan Gelaran Event

Candi Jabung berlokasi di dekat jalur pantai utara (pantura). Jaraknya sekitar 5 kilometer dari Kecamatan Kraksaan. Kira-kira 500 meter sebelah tenggara Kolam Renang Jabung Tirta.

Tempatnya sangat mudah dijangkau. Karena itu, cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Daya tariknya sebagai objek wisata begitu besar.

Arsitekturnya kuno dan fantastis. Para pengunjung dapat melihat batur candi berukuran panjang 13,11 meter dan lebar 9,58 meter. Di atas batur terdapat selasar keliling. Di sana ada beberapa relief yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.

”Reliefnya seperti seorang pertapa yang memakai sorban dan sedang mengajar murid-muridnya. Ada pula relief dua singa yang saling berhadapan,” ujar Koordinator Wilayah Cagar Budaya Kabupaten Probolinggo pada BPCB menyebutkan ABD Rahman.

Para pengunjung juga dapat dengan jelas melihat kaki candi yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu kaki candi tingkat pertama dan tingkat kedua. Bagian dasar tubuh candi berbentuk persegi. Terdapat relief manusia, rumah, dan pepohonan.

Di sudut candi terlihat relief yang menggambarkan seorang putri, yakni Sri Tanjung, yang sedang menunggangi seekor ikan. ”Relief ini (putri penunggang ikan, red) menceritakan kesetiaan putri Sri Tanjung kepada suaminya,” ujarnya.

Candi Jabung terdiri atas lima candi. Yakni, candi utama dan empat candi sudut. Candi sudut, kata Rahman, berfungsi sebagai pembatas pagar keliling mengitari candi utama.

Saat Jawa Pos Radar Bromo datang ke lokasi candi, terlihat banyak wisatawan lokal sedang menikmati keindahan candi. Baik pada candi utama maupun candi sudut. Taman-taman dan pohon maja memberi kesan tersendiri.

”Sebelum pandemi Covid-19 banyak wisatawan yang datang. Tidak hanya lokal saja. Wisatawan mancanegara juga,” ujarnya.

Mujibur Rahman 32, ketua Komunitas Seni Arang, mengatakan sangat sering mengadakan event di lokasi tersebut. Selain karena lokasinya indah, Candi Jabung sangat kental dengan sejarah. ”Daripada ditempati orang balapan dan pacaran, kami sering mengadakan kegiatan melukis bersama dan pameran lukisan,” ujarnya.

Pada September mendatang, dia berencana memilih lagi Candi Jabung untuk lokasi gelaran selawat kebudayaan bersama majelis Selawat Subanul Muslimin (Suban). ”Nanti ada lomba lukis se-Jawa Timur,” ujarnya. (mu/far)

BERDIRI pada 667 tahun silam atau tepatnya 1354 Masehi (Tahun Saka 1276), Candi Jabung masih kukuh hingga saat ini. Menurut berita dalam Kitab Pararaton (abad XVI M), Candi Jabung adalah tempat suci.

Dikisahkan, abad XIV M kala itu masih zaman Kerajaan Majapahit. Pendirian Candi Jabung konon melibatkan empat bidadari. Yaitu, Nawang Wulan, Nawang Sukma Nawang Sito, dan Nawang Sari. ”Mereka berasal dari kahyangan,” kata Bunadin 52, juru pelihara (jupel) Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di Candi Jabung.

Sementara itu, menurut kitab Negarakertagama, Candi Jabung diberitakan merupakan bangunan suci yang bersifat Budhis. Disebut Sugara Pratista. Bangunan suci ini merupakan tempat pendharmaan seorang istri Raja Bhra Gundal, yang masih keluarga Raja Hayam Wuruk.

Koordinator Wilayah Cagar Budaya Kabupaten Probolinggo pada BPCB Abd. Rahman menyebutkan, Semasa Kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk pernah dua kali berkunjung ke wilayah timur kerajaannya. Masing-masing sebelum Candi Jabung dibangun dan setelah Candi Jabung dibangun.

Pada kunjungan pertama, Hayam Wuruk memerintahkan Patih Gajah Mada untuk membuat bangunan suci atau tempat singgah. Sebab, saat kunjungan itu, tidak ada tempat singgah untuk sang raja.

Saat itu Gajah Mada bingung. Sesampai di Sumber mata air, tepatnya Desa Taman Sari, dia bertemu dengan perempuan yang sedang mandi. Kemudian Gajah Mada mengutarakan maksudnya hendak membuat bangunan tempat singgah.

Perempuan yang tengah mandi tersebut tidak lain adalah bidadari Nawang Wulan. Bersama tiga bidadari lain, Nawang Wulan menyatakan sanggup membuat tempat persinggahan. Namun, ada syaratnya. Gajah Mada harus bisa mengalahkan mereka lebih dulu. ”Pada akhirnya, para bidadari dari kahyangan tersebut kalah. Mereka pun membangunkan candi,” ujar Rahman.

Candi yang kali pertama dibangun para bidadari tersebut adalah Candi Wurung. Lokasinya di Desa Jabung Sisir. Mengapa dinamai Candi Wurung? Konon, candi itu belum selesai dibangun. Gara-garanya, ada permintaan yang dilanggar.

Para bidadari sanggup membangun candi asal tidak boleh ada yang melihat. Nah, rupanya, Gajah Mada penasaran. Saat hendak balik ke Trowulan, Mojokerto, dia mengintip para bidadari yang sedang membangun candi untuk persinggahan. Pembangunan pun gagal.

Gajah Mada lalu minta maaf kepada Nawang Wulan. Pembangunan candi diulang sampai benar-benar terwujud. ”Akhirnya jadilah Candi Jabung tersebut,” ujarnya.

Dalam kitab Nagarakertagama disebutkan Candi Jabung pernah dikunjungi Raja Hayam Wuruk ketika berkeliling Jawa Timur. Sang raja didampingi seluruh keluarga raja (bhatara sapta prabu), menteri-menteri, pemimpin agama, wakil golongan masyarakat. Termasuk, Patih Gajah Mada yang memimpin tentara kerajaan.

Tujuan perjalanan Raja Hayam Wuruk dan rombongan adalah memantau keadaan masyarakat yang dipimpinnya. Selain itu, perjalanan ini merupakan salah satu dharma yang harus dilakukan, yaitu menyatukan wilayah Kerajaan Majapahit.

Nah pada tahun 1359 M, Raja Hayam Wuruk kembali mengunjungi wilayah timur Majapahit. Sesampai di Candi Jabung, diadakan upacara penyembahan (nyekar) di lokasi utama candi. Tempat itu disebutkan sebagai persemayaman abu jenazah Bhra Gundal.

Selain digunakan sebagai lokasi atau tempat singgah dan tempat penyekaran, menurut Rahman, Candi Jabung dijadikan sebagai lokasi penyembahan atau peribadatan bagi Dewa Siwa.

”Jadi fungsi candi tersebut ada tiga pada masa itu. Yakni, penyembahan atau peribadatan untuk Dewa Siwa, tempat singgah, dan penyekaran,” ujar Rahman.

 

Jadi Lokasi Wisata dan Gelaran Event

Candi Jabung berlokasi di dekat jalur pantai utara (pantura). Jaraknya sekitar 5 kilometer dari Kecamatan Kraksaan. Kira-kira 500 meter sebelah tenggara Kolam Renang Jabung Tirta.

Tempatnya sangat mudah dijangkau. Karena itu, cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Daya tariknya sebagai objek wisata begitu besar.

Arsitekturnya kuno dan fantastis. Para pengunjung dapat melihat batur candi berukuran panjang 13,11 meter dan lebar 9,58 meter. Di atas batur terdapat selasar keliling. Di sana ada beberapa relief yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.

”Reliefnya seperti seorang pertapa yang memakai sorban dan sedang mengajar murid-muridnya. Ada pula relief dua singa yang saling berhadapan,” ujar Koordinator Wilayah Cagar Budaya Kabupaten Probolinggo pada BPCB menyebutkan ABD Rahman.

Para pengunjung juga dapat dengan jelas melihat kaki candi yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu kaki candi tingkat pertama dan tingkat kedua. Bagian dasar tubuh candi berbentuk persegi. Terdapat relief manusia, rumah, dan pepohonan.

Di sudut candi terlihat relief yang menggambarkan seorang putri, yakni Sri Tanjung, yang sedang menunggangi seekor ikan. ”Relief ini (putri penunggang ikan, red) menceritakan kesetiaan putri Sri Tanjung kepada suaminya,” ujarnya.

Candi Jabung terdiri atas lima candi. Yakni, candi utama dan empat candi sudut. Candi sudut, kata Rahman, berfungsi sebagai pembatas pagar keliling mengitari candi utama.

Saat Jawa Pos Radar Bromo datang ke lokasi candi, terlihat banyak wisatawan lokal sedang menikmati keindahan candi. Baik pada candi utama maupun candi sudut. Taman-taman dan pohon maja memberi kesan tersendiri.

”Sebelum pandemi Covid-19 banyak wisatawan yang datang. Tidak hanya lokal saja. Wisatawan mancanegara juga,” ujarnya.

Mujibur Rahman 32, ketua Komunitas Seni Arang, mengatakan sangat sering mengadakan event di lokasi tersebut. Selain karena lokasinya indah, Candi Jabung sangat kental dengan sejarah. ”Daripada ditempati orang balapan dan pacaran, kami sering mengadakan kegiatan melukis bersama dan pameran lukisan,” ujarnya.

Pada September mendatang, dia berencana memilih lagi Candi Jabung untuk lokasi gelaran selawat kebudayaan bersama majelis Selawat Subanul Muslimin (Suban). ”Nanti ada lomba lukis se-Jawa Timur,” ujarnya. (mu/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/