alexametrics
30.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

PPKM Diperpanjang, Begini Kondisi di Probolinggo

KANIGARAN, Radar Bromo – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diperpanjang hingga 25 Juli. Hanya istilahnya diganti. Bukan PPKM Darurat lagi. Kota dan kabupaten Probolinggo masuk PPKM Level 3.

Di Kota Probolinggo, sejumlah toko dan warung yang banyak tutup saat PPKM Darurat, terlihat beberapa kembali buka. Mereka terpaksa buka, karena selama PPKM Darurat nyaris tidak ada pemasukan.

Seperti yang diungkapkan Surya, 37, pemilik sebuah warung di Jalan Suroyo. Surya mengaku, dia sebelumnya menaati PPKM Darurat yang diberlakukan pemerintah. Surya bahkan tidak membuka tokonya sejak tanggal 6 sampai 20 Juli.

“Sempat buka sih, tapi akhirnya saya tutup. Soalnya toko sepi tidak ada yang beli,” katanya.

Tutup selama PPKM Darurat membuat Surya kelimpungan. Dia tidak punya penghasilan sama sekali. Surya terpaksa menggunakan tabungannya untuk bertahan hidup.

“Kalau seperti saya, baru dapat penghasilan saat dagangan laku. Kalau dak ada yang beli, ya tidak dapat pemasukan,” tuturnya.

Karena kondisi itu, dia pun memutuskan kembali membuka tokonya. Walaupun dia tahu ada perpanjangan PPKM. Apalagi, tabungannya kian menipis untuk bertahan hidup.

“Untuk pedagang kecil seperti saya, PPKM Darurat itu dampaknya sangat terasa. Dak boleh jualan, akhirnya menggunakan tabungan untuk bertahan hidup. Karena tabungan menipis, ya harus buka toko lagi agar bisa bertahan,” katanya, Rabu (21/7) siang.

Hal senada diungkapkan Rafael, 35, seorang pemilik toko baju di Jl Panglima Sudirman. Menurutnya, PPKM Darurat bisa berjalan maksimal ketika kebutuhan dapur dan perut teratasi. Jika tidak, maka pedagang kecil seperti dirinya tidak bisa makan.

Rafael pun tahu, PPKM Darurat diperpanjang. Namun, baginya, membuka toko adalah pilihan yang harus dilakukan.

“Bagi yang punya penghasilan tetap, perpanjang selama lima hari bukan hal yang besar. Tapi, bagi kami yang pemilik usaha kecil dan hanya mengandalkan usaha tersebut untuk menafkahi keluarga, berbeda ceritanya,” bebernya.

Pria tiga anak itu paham betul, bagaimana bahayanya penyebaran Covid-19. Bahkan, dia juga khawatir keluarganya terpapar. Namun, jika tokonya tidak buka, keluarga bisa kelaparan.

“Saya paham kebijakan pemerintah. Namun, setidaknya juga gunakan hati saat bertugas. Saya pikir pembatasan jam buka sebelum PPKM Darurat dilakukan sudah cukup,” katanya.

Dia juga berharap, petugas tidak arogan saat menertibkan pedagang yang nekat berjualan. Karena mereka pasti terpaksa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Setyorini Sayekti menerangkan, PPKM diperpanjang hingga 25 Juli. Selanjutnya, peraturan akan dilonggarkan bertahap. “Sama (PPKM Darurat diperpanjang) ini SE Satgas sedang proses tanda tangan,” katanya.

Untuk pertokoan yang mulai buka, Rini –panggilannya– menegaskan akan dilakukan penegakan disiplin. Mengingat PPKM masih berlangsung sampai 25 Juli.

“Tetap kami lakukan penegakan disiplin, kalau ada yang melanggar. Sebab, PPKM sampai tanggal 25 Juli,” tutupnya.

 

Kebijakan Tergantung Tren Kasus

Sementara di Kabupaten Probolinggo, tren kasus positif Covid-19 akan dijadikan acuan untuk mengambil kebijakan setelah masa perpanjangan PPKM Darurat selesai. Jika kasus menurun, kelonggaran akan diberikan secara bertahap.

Koordinator Gakum Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto menjelaskan, pihaknya selalu memantau dan memahami dinamika di lapangan. Termasuk mendengarkan aspirasi masyarakat yang terdampak PPKM. Kondisi itu juga akan jadi pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

“Intinya, kalau tren kasus terus menurun, maka tanggal 26 Juli pemerintah akan melakukan pelonggaran secara bertahap,” ujarnya, Rabu (21/7).

Misalnya, pasar tradisional yang menjual kebutuhan pokok diizinkan buka sampai pukul 20.00 dengan kapasitas pengunjung 50 persen. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu, toko lain yang tidak menjual bahan kebutuhan pokok diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat sampai pukul 21.00. Misalnya PKL, toko kelontong, agen, atau outlet voucher, pangkas rambut, laundry, pedagang asongan, bengkel kecil, cucian kendaraan, dan usaha kecil lain yang sejenis. Warung makan misalnya, boleh menerima makan di tempat dengan waktu makan untuk setiap pengunjung 30 menit maksimal.

“Ini semua kan arahan pemerintah pusat. Sementara kami setelah perpanjangan PPKM akan membahas lagi kebijakan lanjutan,” tuturnya. (rpd/mu/hn)

KANIGARAN, Radar Bromo – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diperpanjang hingga 25 Juli. Hanya istilahnya diganti. Bukan PPKM Darurat lagi. Kota dan kabupaten Probolinggo masuk PPKM Level 3.

Di Kota Probolinggo, sejumlah toko dan warung yang banyak tutup saat PPKM Darurat, terlihat beberapa kembali buka. Mereka terpaksa buka, karena selama PPKM Darurat nyaris tidak ada pemasukan.

Seperti yang diungkapkan Surya, 37, pemilik sebuah warung di Jalan Suroyo. Surya mengaku, dia sebelumnya menaati PPKM Darurat yang diberlakukan pemerintah. Surya bahkan tidak membuka tokonya sejak tanggal 6 sampai 20 Juli.

“Sempat buka sih, tapi akhirnya saya tutup. Soalnya toko sepi tidak ada yang beli,” katanya.

Tutup selama PPKM Darurat membuat Surya kelimpungan. Dia tidak punya penghasilan sama sekali. Surya terpaksa menggunakan tabungannya untuk bertahan hidup.

“Kalau seperti saya, baru dapat penghasilan saat dagangan laku. Kalau dak ada yang beli, ya tidak dapat pemasukan,” tuturnya.

Karena kondisi itu, dia pun memutuskan kembali membuka tokonya. Walaupun dia tahu ada perpanjangan PPKM. Apalagi, tabungannya kian menipis untuk bertahan hidup.

“Untuk pedagang kecil seperti saya, PPKM Darurat itu dampaknya sangat terasa. Dak boleh jualan, akhirnya menggunakan tabungan untuk bertahan hidup. Karena tabungan menipis, ya harus buka toko lagi agar bisa bertahan,” katanya, Rabu (21/7) siang.

Hal senada diungkapkan Rafael, 35, seorang pemilik toko baju di Jl Panglima Sudirman. Menurutnya, PPKM Darurat bisa berjalan maksimal ketika kebutuhan dapur dan perut teratasi. Jika tidak, maka pedagang kecil seperti dirinya tidak bisa makan.

Rafael pun tahu, PPKM Darurat diperpanjang. Namun, baginya, membuka toko adalah pilihan yang harus dilakukan.

“Bagi yang punya penghasilan tetap, perpanjang selama lima hari bukan hal yang besar. Tapi, bagi kami yang pemilik usaha kecil dan hanya mengandalkan usaha tersebut untuk menafkahi keluarga, berbeda ceritanya,” bebernya.

Pria tiga anak itu paham betul, bagaimana bahayanya penyebaran Covid-19. Bahkan, dia juga khawatir keluarganya terpapar. Namun, jika tokonya tidak buka, keluarga bisa kelaparan.

“Saya paham kebijakan pemerintah. Namun, setidaknya juga gunakan hati saat bertugas. Saya pikir pembatasan jam buka sebelum PPKM Darurat dilakukan sudah cukup,” katanya.

Dia juga berharap, petugas tidak arogan saat menertibkan pedagang yang nekat berjualan. Karena mereka pasti terpaksa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Setyorini Sayekti menerangkan, PPKM diperpanjang hingga 25 Juli. Selanjutnya, peraturan akan dilonggarkan bertahap. “Sama (PPKM Darurat diperpanjang) ini SE Satgas sedang proses tanda tangan,” katanya.

Untuk pertokoan yang mulai buka, Rini –panggilannya– menegaskan akan dilakukan penegakan disiplin. Mengingat PPKM masih berlangsung sampai 25 Juli.

“Tetap kami lakukan penegakan disiplin, kalau ada yang melanggar. Sebab, PPKM sampai tanggal 25 Juli,” tutupnya.

 

Kebijakan Tergantung Tren Kasus

Sementara di Kabupaten Probolinggo, tren kasus positif Covid-19 akan dijadikan acuan untuk mengambil kebijakan setelah masa perpanjangan PPKM Darurat selesai. Jika kasus menurun, kelonggaran akan diberikan secara bertahap.

Koordinator Gakum Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto menjelaskan, pihaknya selalu memantau dan memahami dinamika di lapangan. Termasuk mendengarkan aspirasi masyarakat yang terdampak PPKM. Kondisi itu juga akan jadi pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

“Intinya, kalau tren kasus terus menurun, maka tanggal 26 Juli pemerintah akan melakukan pelonggaran secara bertahap,” ujarnya, Rabu (21/7).

Misalnya, pasar tradisional yang menjual kebutuhan pokok diizinkan buka sampai pukul 20.00 dengan kapasitas pengunjung 50 persen. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu, toko lain yang tidak menjual bahan kebutuhan pokok diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat sampai pukul 21.00. Misalnya PKL, toko kelontong, agen, atau outlet voucher, pangkas rambut, laundry, pedagang asongan, bengkel kecil, cucian kendaraan, dan usaha kecil lain yang sejenis. Warung makan misalnya, boleh menerima makan di tempat dengan waktu makan untuk setiap pengunjung 30 menit maksimal.

“Ini semua kan arahan pemerintah pusat. Sementara kami setelah perpanjangan PPKM akan membahas lagi kebijakan lanjutan,” tuturnya. (rpd/mu/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU