alexametrics
25.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Di Kota Probolinggo Baru Terbentuk 19 Kelurahan Tangguh Bencana

KEDOPOK, Radar Bromo – Kota Probolinggo tak luput dari ancaman bencana. Sejumlah upaya untuk meminimalisasi dampak bencana pun terus dilakukan. Salah satunya dengan membentuk Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana).

Sejauh ini, dari 29 kelurahan, ada 19 kelurahan yang telah terbentuk Keltana. Semuanya telah ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota Probolinggo. Di antaranya, Kelurahan Kedopok, Sumber Wetan, Sukabumi, Kareng Lor, Ketapang, Mayangan, Mangunharjo, Sukoharjo, dan Kelurahan Pilang.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo mengatakan, Keltana bertujuan membentuk kelurahan yang mampu beradaptasi terhadap potensi bencana. Apalagi, selama ini Kota Probolinggo termasuk wilayah yang cukup rawan bencana banjir dan angin kencang.

“Masyarakat di Keltana diharapkan memiliki kemampuan mengenali ancaman di wilayahnya, untuk mengurangi kerentanan dan risiko bencana,” ujarnya.

Gito mengatakan, setelah dibentuk Keltana, BPBD akan memberikan pelatihan terkait kemampuan mengantisipasi prabencana dan meminimalisasi dampak pascabencana. Misalnya, saat ada banjir, masyarakat melakukan tindakan agar tidak ada korban dengan evakuasi.

“Dengan Keltana, potensi bencana bisa diminimalisasi. Kami bisa meminimalkan dampak yang terjadi. Mulai dari kerugian materiil hingga korban jiwa,” jelasnya. (riz/rud)

KEDOPOK, Radar Bromo – Kota Probolinggo tak luput dari ancaman bencana. Sejumlah upaya untuk meminimalisasi dampak bencana pun terus dilakukan. Salah satunya dengan membentuk Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana).

Sejauh ini, dari 29 kelurahan, ada 19 kelurahan yang telah terbentuk Keltana. Semuanya telah ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota Probolinggo. Di antaranya, Kelurahan Kedopok, Sumber Wetan, Sukabumi, Kareng Lor, Ketapang, Mayangan, Mangunharjo, Sukoharjo, dan Kelurahan Pilang.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo mengatakan, Keltana bertujuan membentuk kelurahan yang mampu beradaptasi terhadap potensi bencana. Apalagi, selama ini Kota Probolinggo termasuk wilayah yang cukup rawan bencana banjir dan angin kencang.

“Masyarakat di Keltana diharapkan memiliki kemampuan mengenali ancaman di wilayahnya, untuk mengurangi kerentanan dan risiko bencana,” ujarnya.

Gito mengatakan, setelah dibentuk Keltana, BPBD akan memberikan pelatihan terkait kemampuan mengantisipasi prabencana dan meminimalisasi dampak pascabencana. Misalnya, saat ada banjir, masyarakat melakukan tindakan agar tidak ada korban dengan evakuasi.

“Dengan Keltana, potensi bencana bisa diminimalisasi. Kami bisa meminimalkan dampak yang terjadi. Mulai dari kerugian materiil hingga korban jiwa,” jelasnya. (riz/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/