alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 25 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Korban Pembunuh Kenal lewat FB Lalu Nikah Siri, Ibunya Baru Meninggal

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KANIGARAN, Radar Bromo- Suasana haru menyelimuti pemakaman korban Nurul Fadilah, 27, Kamis (21/1) pagi. Apalagi korban Nurul meninggalkan anak laki-laki yang masih berumur 4 tahun.

Keluarga makin sedih lantaran almarhum Suryah, ibu kandung korban baru saja meninggal. Bahkan, belum dapat 40 hari meninggal.

Muaji, 70, ayah korban dengan ditemani Totok Pitono, kakak korban pun menceritakan kepedihanya pada Jawa Pos Radar Bromo. Kamis (21/1) pagi di rumah duka, Muaji mengaku, pada dasarnya keluarga tidak menyetujui hubungan Nurul dengan pelaku.

Menurutnya, Nurul dan pelaku kenal lewat facebook. Saat itu Nurul statusnya janda beranak satu. Korban punya anak lelaki berumur 4 tahun dari pernikahan pertamanya.

Sejak awal, keluarga tidak setuju hubungan Nurul dengan pelaku. Sebab, pelaku orang jauh. Dia warga RT 11/RW 4, Desa Batuampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Lebih lagi, sikap pelaku kurang baik, bahkan cenderung kasar pada Nurul.

“Adik saya ini punya satu anak dengan suami sebelumnya dan telah cerai. Lalu kenal dengan pelaku melalui FB,” terang Totok.

Toh, meski keluarga tidak setuju, Nurul dan pelaku akhirnya menikah juga. Pada bulan April 2020, orang tua pelaku datang ke Probolinggo melamar Nurul.

Namun saat itu ada aturan agar warga menunda pernikahan karena dalam suasana pandemi Covid-19. Karena itulah, pelaku dan Nurul lantas menikah siri pada bulan April. Harapannya, saat kondisi pandemi mereda mereka akan menikah resmi di KUA.

Setelah menikah itulah, pelaku tinggal di rumah ayah dan ibunya bersama Nurul. Namun selama itu pelaku tidak bekerja. Lalu, lambat laun terkuak sikap pelaku yang tidak baik.

“Dia itu enak pokoknya. Tidak bekerja, tinggal makan. Lalu dibelikan motor Yamaha Vixion oleh adik saya hasil dari dia jualan online,” tutur Totok yang merupakan kakak pertama Nurul.

Setelah sebulan menikah, menurut Totok, adiknya mulai meminta uang belanja pada pelaku. Namun setiap kali Nurul minta uang belanja, pelaku marah-marah.

“Kalau adik saya minta uang belanja, dia ini marah-marah. Bahkan, tidak jarang bertindak kasar pada Nurul. Dari sanalah ibu mulai sakit-sakitan. Lalu pada 24 November, ibu meninggal,” lanjutnya.

Totok menyebut, ibunya sakit-sakitan karena sedih memikirkan nasib adiknya. Maklum, Nurul kesayangan keluarga. Mereka, menurut Totok, empat bersaudara. Nurul adalah bungsu dan satu-satunya perempuan.

“Ibu saya sakit-sakitan karena sebetulnya kami tidak sepakat dengan pernikahan itu,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, menurut Totok, tingkah pelaku yang akrab disapa Rizal itu makin membuat keluarga Nurul tidak nyaman. Pelaku sering bersikap kasar pada Nurul. Sehingga, Nurul dan keluarganya tidak betah.

Lalu pada bulan Agustus, KUA setempat menyampaikan pada keluarga Nurul bahwa kondisi pandemi mereda. Karena itu, pernikahan bisa dilakukan di KUA.

“Namun keluarga sudah tidak mau. Sebab Nurul sering diperlakukan kasar. Bahkan, ayah saya tidak betah. Akhirnya ayah minta Rizal pulang kampung saja. Dan rencana pernikahan sah batal,” katanya.

Namun pelaku enggan pulang. Hingga kemudian Nurul meminta ayahnya untuk mendatangi kiai. Tujuannya untuk membuat pelaku tidak betah di rumah.

Akhirnya pelaku memang sempat pergi dari rumah dengan alasan pulang. Namun tak lama kemudian pelaku kembali dan meminta maaf. Namun keluarga dan Nurul sudah tidak mau lagi.

“Jadi dia datang ke rumah Minggu (17/1) atau Senin (18/1) dini hari pukul 01.00. Dia gedok rumah. Waktu itu Rizal sampai sujud minta maaf. Namun sudah terlambat, keluarga sudah tidak mau. Akhirnya Senin subuh ia pergi dari rumah,” tambah Totok.

TKP: Lokasi indekos tempat Nurul dibunuh dengn dicekik oleh Syahrizal. (Jawa Pos Radar Bromo)

Lalu Rabu siang, Nurul menurutnya berpamitan mengantar pesanan bedak pada pembeli. Keluarga saat itu mau mengantar, namun Nurul tidak mau. Nurul pun berangkat sendiri.

Keluarga lantas panik saat sekitar pukul 16.00, HP Nurul tidak dapat dihubungi. Keluarga makin panik karena tiba-tiba pukul 21.00, polisi datang ke rumah Muaji.

“Polisi lantas mengajak ayah ke Mapolresta. Sementara adik saya yang lain pada jam yang sama mendapatkan kabar bahwa Nurul meninggal,” tuturnya.

Kini, Nurul sudah meninggal. Tinggal kesedihan mendalam dirasakan keluarga. Yang membuat Totok menangis, putra korban berharap korban kembali hidup.

“Jadi anaknya Nurul bilang, kung kalau ibu hidup lagi enak ya kung. Mendengar itu saya tidak kuat, Mas. Saya langsung menangis. Makanya saya berharap pelaku dihukum seberat-beratnya. Bahkan jika perlu hukuman mati,” tandas Totok sembari memegang keningnya. (rpd/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

KANIGARAN, Radar Bromo- Suasana haru menyelimuti pemakaman korban Nurul Fadilah, 27, Kamis (21/1) pagi. Apalagi korban Nurul meninggalkan anak laki-laki yang masih berumur 4 tahun.

Keluarga makin sedih lantaran almarhum Suryah, ibu kandung korban baru saja meninggal. Bahkan, belum dapat 40 hari meninggal.

Muaji, 70, ayah korban dengan ditemani Totok Pitono, kakak korban pun menceritakan kepedihanya pada Jawa Pos Radar Bromo. Kamis (21/1) pagi di rumah duka, Muaji mengaku, pada dasarnya keluarga tidak menyetujui hubungan Nurul dengan pelaku.

Mobile_AP_Half Page

Menurutnya, Nurul dan pelaku kenal lewat facebook. Saat itu Nurul statusnya janda beranak satu. Korban punya anak lelaki berumur 4 tahun dari pernikahan pertamanya.

Sejak awal, keluarga tidak setuju hubungan Nurul dengan pelaku. Sebab, pelaku orang jauh. Dia warga RT 11/RW 4, Desa Batuampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Lebih lagi, sikap pelaku kurang baik, bahkan cenderung kasar pada Nurul.

“Adik saya ini punya satu anak dengan suami sebelumnya dan telah cerai. Lalu kenal dengan pelaku melalui FB,” terang Totok.

Toh, meski keluarga tidak setuju, Nurul dan pelaku akhirnya menikah juga. Pada bulan April 2020, orang tua pelaku datang ke Probolinggo melamar Nurul.

Namun saat itu ada aturan agar warga menunda pernikahan karena dalam suasana pandemi Covid-19. Karena itulah, pelaku dan Nurul lantas menikah siri pada bulan April. Harapannya, saat kondisi pandemi mereda mereka akan menikah resmi di KUA.

Setelah menikah itulah, pelaku tinggal di rumah ayah dan ibunya bersama Nurul. Namun selama itu pelaku tidak bekerja. Lalu, lambat laun terkuak sikap pelaku yang tidak baik.

“Dia itu enak pokoknya. Tidak bekerja, tinggal makan. Lalu dibelikan motor Yamaha Vixion oleh adik saya hasil dari dia jualan online,” tutur Totok yang merupakan kakak pertama Nurul.

Setelah sebulan menikah, menurut Totok, adiknya mulai meminta uang belanja pada pelaku. Namun setiap kali Nurul minta uang belanja, pelaku marah-marah.

“Kalau adik saya minta uang belanja, dia ini marah-marah. Bahkan, tidak jarang bertindak kasar pada Nurul. Dari sanalah ibu mulai sakit-sakitan. Lalu pada 24 November, ibu meninggal,” lanjutnya.

Totok menyebut, ibunya sakit-sakitan karena sedih memikirkan nasib adiknya. Maklum, Nurul kesayangan keluarga. Mereka, menurut Totok, empat bersaudara. Nurul adalah bungsu dan satu-satunya perempuan.

“Ibu saya sakit-sakitan karena sebetulnya kami tidak sepakat dengan pernikahan itu,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, menurut Totok, tingkah pelaku yang akrab disapa Rizal itu makin membuat keluarga Nurul tidak nyaman. Pelaku sering bersikap kasar pada Nurul. Sehingga, Nurul dan keluarganya tidak betah.

Lalu pada bulan Agustus, KUA setempat menyampaikan pada keluarga Nurul bahwa kondisi pandemi mereda. Karena itu, pernikahan bisa dilakukan di KUA.

“Namun keluarga sudah tidak mau. Sebab Nurul sering diperlakukan kasar. Bahkan, ayah saya tidak betah. Akhirnya ayah minta Rizal pulang kampung saja. Dan rencana pernikahan sah batal,” katanya.

Namun pelaku enggan pulang. Hingga kemudian Nurul meminta ayahnya untuk mendatangi kiai. Tujuannya untuk membuat pelaku tidak betah di rumah.

Akhirnya pelaku memang sempat pergi dari rumah dengan alasan pulang. Namun tak lama kemudian pelaku kembali dan meminta maaf. Namun keluarga dan Nurul sudah tidak mau lagi.

“Jadi dia datang ke rumah Minggu (17/1) atau Senin (18/1) dini hari pukul 01.00. Dia gedok rumah. Waktu itu Rizal sampai sujud minta maaf. Namun sudah terlambat, keluarga sudah tidak mau. Akhirnya Senin subuh ia pergi dari rumah,” tambah Totok.

TKP: Lokasi indekos tempat Nurul dibunuh dengn dicekik oleh Syahrizal. (Jawa Pos Radar Bromo)

Lalu Rabu siang, Nurul menurutnya berpamitan mengantar pesanan bedak pada pembeli. Keluarga saat itu mau mengantar, namun Nurul tidak mau. Nurul pun berangkat sendiri.

Keluarga lantas panik saat sekitar pukul 16.00, HP Nurul tidak dapat dihubungi. Keluarga makin panik karena tiba-tiba pukul 21.00, polisi datang ke rumah Muaji.

“Polisi lantas mengajak ayah ke Mapolresta. Sementara adik saya yang lain pada jam yang sama mendapatkan kabar bahwa Nurul meninggal,” tuturnya.

Kini, Nurul sudah meninggal. Tinggal kesedihan mendalam dirasakan keluarga. Yang membuat Totok menangis, putra korban berharap korban kembali hidup.

“Jadi anaknya Nurul bilang, kung kalau ibu hidup lagi enak ya kung. Mendengar itu saya tidak kuat, Mas. Saya langsung menangis. Makanya saya berharap pelaku dihukum seberat-beratnya. Bahkan jika perlu hukuman mati,” tandas Totok sembari memegang keningnya. (rpd/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2