alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Bandar Arisan Online yang Diamankan Anggotanya Masih Berstatus Saksi

MAYANGAN, Radar Bromo– Rencana sejumlah anggota arisan online menyerahkan bandarnya ke penyidik Polres Probolinggo Kota (Polresta), bertepuk sebelah tangan. Polresta menolaknya. Alasannya, sejauh ini kasusnya masih berupa pengaduan. Status EV, 27, yang diadukan juga masih sebatas saksi.

Hal ini ditegaskan Kasatreskrim Polres Probolinggo Kota AKP Heri Sugiono. Ia mengatakan, semua pengaduan yang masuk tetap akan ditangani. Namun, semuanya butuh proses dan melalui prosedur yang benar.

Sejauh ini, penyidik masih dalam tahap memulai meminta keterangan sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti-bukti. Menurutnya, tidak bisa ujuk-ujuk, orang yang diadukan diamankan pengadu dan diserahkan ke penyidik.

“Ini masih proses dan statusnya juga bukan tersangka. Tidak bisa serta merta diserahkan ke Polres, begitu saja. Karenanya, saya tolak pada saat mendengar informasi bahwa EV sudah diamankan dan hendak diserahkan ke Polresta,” jelas Heri.

Bandar Arisan Online Dikeler Anggota, Diserahkan ke Polresta

 

Mengenai dugaan adanya tidak kriminal atau penyekapan terhadap EV, Heri mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mendapatkan laporan darinya. “Jika mau melaporkan penyekapan atau tidak, itu terserah (EV). Yang jelas, hingga saat ini tidak ada laporan tersebut,” ujarnya, kemarin.

Terpisah, penasihat hukum sejumlah anggota arisan itu, SW Djando Gadohoka mengatakan, awalnya pihaknya akan menyerahkan EV ke Polresta. Namun, untuk sementara EV diminta tinggal bersama salah satu anggota arisannya di Kecamatan Mayangan. Agar tidak melarikan diri.

“Masih belum (diserahkan). Di Polres masih proses. Karena masih proses dan EV-nya mau, maka tinggal bersama salah satu anggota arisannya sambil menunggu proses di Polresta,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Rabu (7/4), puluhan emak-emak wadul ke Polres Probolinggo Kota. Namun, mereka baru membuat pengaduan resmi pada Selasa (13/4). Sebab, masih harus melengkapi berkasnya. Mereka mengaku menjadi korban arisan online yang dibandari oleh EV.

Mereka mengadu karena duit arisan yang diketuai warga Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, itu tidak keluar. Sejumlah emak-emak itu mengaku mengalami kerugian total sekitar Rp 400 juta. Rabu (19/5), mereka menjemput EV di Surabaya. Sebab, diduga hendak kabur keluar Jawa. EV dibawa di Probolinggo dan hendak diserahkan ke Polresta. Namun, ternyata ditolak. (rpd/rud)

 

MAYANGAN, Radar Bromo– Rencana sejumlah anggota arisan online menyerahkan bandarnya ke penyidik Polres Probolinggo Kota (Polresta), bertepuk sebelah tangan. Polresta menolaknya. Alasannya, sejauh ini kasusnya masih berupa pengaduan. Status EV, 27, yang diadukan juga masih sebatas saksi.

Hal ini ditegaskan Kasatreskrim Polres Probolinggo Kota AKP Heri Sugiono. Ia mengatakan, semua pengaduan yang masuk tetap akan ditangani. Namun, semuanya butuh proses dan melalui prosedur yang benar.

Sejauh ini, penyidik masih dalam tahap memulai meminta keterangan sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti-bukti. Menurutnya, tidak bisa ujuk-ujuk, orang yang diadukan diamankan pengadu dan diserahkan ke penyidik.

“Ini masih proses dan statusnya juga bukan tersangka. Tidak bisa serta merta diserahkan ke Polres, begitu saja. Karenanya, saya tolak pada saat mendengar informasi bahwa EV sudah diamankan dan hendak diserahkan ke Polresta,” jelas Heri.

Bandar Arisan Online Dikeler Anggota, Diserahkan ke Polresta

 

Mengenai dugaan adanya tidak kriminal atau penyekapan terhadap EV, Heri mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mendapatkan laporan darinya. “Jika mau melaporkan penyekapan atau tidak, itu terserah (EV). Yang jelas, hingga saat ini tidak ada laporan tersebut,” ujarnya, kemarin.

Terpisah, penasihat hukum sejumlah anggota arisan itu, SW Djando Gadohoka mengatakan, awalnya pihaknya akan menyerahkan EV ke Polresta. Namun, untuk sementara EV diminta tinggal bersama salah satu anggota arisannya di Kecamatan Mayangan. Agar tidak melarikan diri.

“Masih belum (diserahkan). Di Polres masih proses. Karena masih proses dan EV-nya mau, maka tinggal bersama salah satu anggota arisannya sambil menunggu proses di Polresta,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Rabu (7/4), puluhan emak-emak wadul ke Polres Probolinggo Kota. Namun, mereka baru membuat pengaduan resmi pada Selasa (13/4). Sebab, masih harus melengkapi berkasnya. Mereka mengaku menjadi korban arisan online yang dibandari oleh EV.

Mereka mengadu karena duit arisan yang diketuai warga Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, itu tidak keluar. Sejumlah emak-emak itu mengaku mengalami kerugian total sekitar Rp 400 juta. Rabu (19/5), mereka menjemput EV di Surabaya. Sebab, diduga hendak kabur keluar Jawa. EV dibawa di Probolinggo dan hendak diserahkan ke Polresta. Namun, ternyata ditolak. (rpd/rud)

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/