alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 4 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Tanggul Desa Gili Ketapang Jebol, Warga Dusun Mardian Ngungsi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

SUMBERASIH, Radar Bromo – Tanggul yang jebol di Dusun Mardian, Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo membuat beberapa warga terpaksa mengungsi. Mereka mengungsi, karena khawatir ombak juga membuat rumah tinggal mereka ambruk.

Salah satu warga yang mengungsi adalah Uma Ati, 50. Rumah Uma berada di selatan tanggul, tepatnya di bagian timur.

Tanggul itu sendiri memanjang dari Barat ke Timur, sejauh 3 kilometer. Tanggul yang jebol ada di sisi utara sepanjang 1 kilometer. Lalu tanggul yang rusak dari ujung Barat sampai Timur, total sekitar 700 meter.

Selain Uma, beberapa warga di sekitarnya juga mengungsi. Terutama rumah-rumah yang posisinya bersebelahan dengan bagian tanggul yang jebol.

Menurut Uma, warga mengungsi karena khawatir ombak susulan dengan ikuran lebih besar datang. Lantas mengikis tanah atau pasir, sehingga rumah akan ambrol.

“Tiap tidur tidak nyenyak. Takut ombak datang dan menyeret rumah. Takut rumah ambruk juga, takut kejatuhan atap kalau rumah ambruk,” tutur Uma.

Bukan tanpa alasan kekhawatiran Uma dan warga lain. Pada Kamis (28/1) malam, tanggul setempat ada yang jebol. Warga sekitar pun sudah berupaya memperbaiki tanggul yang jebol dengan memasang karung berisikan pasir. Namun, itu hanya bertahan sementara.

“Bolak balik rusak karungnya. Warga harus memperbaiki setiap hari, kadang dua hari sekali. Kalau tidak diberi karung berisi pasir, gelombang laut makin mengikis pasir. Dan akhirnya mengikis rumah warga,” katanya.

Kondisi itu bahkan sudah dialami sejumlah warga setempat. Seperti rumah Siaman, 38; Bu No, 50, dan Hanifa, 30, anak Uma Ati. Tanggul yang berbatasan langsung dengan rumah mereka sudah jebol. Gelombang laut pun masuk dan mengikis pasir hingga beberapa meter dari rumah mereka. Mereka pun mengungsi ke rumah saudaranya yang berada di sisi selatan dan di tengah Pulau Gili.

“Di samping ini rumah anak saya (Hanifa, red). Kalau laut pasang, airnya sampai rumah. Karena itu sejak dua minggu lalu anak saya pindah ke rumah saudara yang ada di sisi selatan Pulau Gili. Termasuk sejumlah warga lainya,” katanya.

Kasi Kesra Desa Gili Ketapang Solehuddin menuturkan, segala upaya telah dilakukan warga dan pihak desa untuk memperkuat tanggul. Salah satunya dengan membuat tanggul sementara dari karung yang berisikan pasir. Namun, hal itu tidak bertahan lama.

Dia pun berharap, tanggul bisa diperbaiki dengan menggunakan anggaran dari APBD Pemkab Probolinggo atau Pemprov Jatim. Sebab, perbaikan dengan menggunakan dana desa (DD) menurutnya tidak bsia dilakukan. Sebab, kerusakannya tanggul cukup parah dan terjadi di di sejumlah titik.

“Kalau perbaikan tanggul menggunakan dana desa tidak akan cukup. Harus dari pemkab atau provinsi. Kami juga telah berupaya mengirimkan sejumlah proposal bantuan kepada sejumlah perusahaan,” katanya.

Namun hingga Sabtu (20/2) siang belum ada kabar gembira. Ia berharap segera ada solusi untuk memperbaiki tanggul yang jebol. Jika tidak, maka ombak akan mengikis rumah warga dan jalan setempat.

Terpisah Kepala Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo Rahmat Waluyo menuturkan, saat ini pihaknya hanya bisa mengajukan perbaikan. Untuk mengajukan lewat PAK APBD 2021 tidak bisa, karena waktunya mepet.

Sehingga pengajuan perbaikan tanggul yang jebol menurutnya akan dilakukan melalui APBD 2022. “Untuk PAK tahun ini, waktunya mepet. Selain itu kami juga belum tahu sejauh apa kerusakannya. Karena itu, kami akan ajukan tahun berikutnya. Mudah mudahan terdanai,” singkatnya. (rpd/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERASIH, Radar Bromo – Tanggul yang jebol di Dusun Mardian, Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo membuat beberapa warga terpaksa mengungsi. Mereka mengungsi, karena khawatir ombak juga membuat rumah tinggal mereka ambruk.

Salah satu warga yang mengungsi adalah Uma Ati, 50. Rumah Uma berada di selatan tanggul, tepatnya di bagian timur.

Tanggul itu sendiri memanjang dari Barat ke Timur, sejauh 3 kilometer. Tanggul yang jebol ada di sisi utara sepanjang 1 kilometer. Lalu tanggul yang rusak dari ujung Barat sampai Timur, total sekitar 700 meter.

Mobile_AP_Half Page

Selain Uma, beberapa warga di sekitarnya juga mengungsi. Terutama rumah-rumah yang posisinya bersebelahan dengan bagian tanggul yang jebol.

Menurut Uma, warga mengungsi karena khawatir ombak susulan dengan ikuran lebih besar datang. Lantas mengikis tanah atau pasir, sehingga rumah akan ambrol.

“Tiap tidur tidak nyenyak. Takut ombak datang dan menyeret rumah. Takut rumah ambruk juga, takut kejatuhan atap kalau rumah ambruk,” tutur Uma.

Bukan tanpa alasan kekhawatiran Uma dan warga lain. Pada Kamis (28/1) malam, tanggul setempat ada yang jebol. Warga sekitar pun sudah berupaya memperbaiki tanggul yang jebol dengan memasang karung berisikan pasir. Namun, itu hanya bertahan sementara.

“Bolak balik rusak karungnya. Warga harus memperbaiki setiap hari, kadang dua hari sekali. Kalau tidak diberi karung berisi pasir, gelombang laut makin mengikis pasir. Dan akhirnya mengikis rumah warga,” katanya.

Kondisi itu bahkan sudah dialami sejumlah warga setempat. Seperti rumah Siaman, 38; Bu No, 50, dan Hanifa, 30, anak Uma Ati. Tanggul yang berbatasan langsung dengan rumah mereka sudah jebol. Gelombang laut pun masuk dan mengikis pasir hingga beberapa meter dari rumah mereka. Mereka pun mengungsi ke rumah saudaranya yang berada di sisi selatan dan di tengah Pulau Gili.

“Di samping ini rumah anak saya (Hanifa, red). Kalau laut pasang, airnya sampai rumah. Karena itu sejak dua minggu lalu anak saya pindah ke rumah saudara yang ada di sisi selatan Pulau Gili. Termasuk sejumlah warga lainya,” katanya.

Kasi Kesra Desa Gili Ketapang Solehuddin menuturkan, segala upaya telah dilakukan warga dan pihak desa untuk memperkuat tanggul. Salah satunya dengan membuat tanggul sementara dari karung yang berisikan pasir. Namun, hal itu tidak bertahan lama.

Dia pun berharap, tanggul bisa diperbaiki dengan menggunakan anggaran dari APBD Pemkab Probolinggo atau Pemprov Jatim. Sebab, perbaikan dengan menggunakan dana desa (DD) menurutnya tidak bsia dilakukan. Sebab, kerusakannya tanggul cukup parah dan terjadi di di sejumlah titik.

“Kalau perbaikan tanggul menggunakan dana desa tidak akan cukup. Harus dari pemkab atau provinsi. Kami juga telah berupaya mengirimkan sejumlah proposal bantuan kepada sejumlah perusahaan,” katanya.

Namun hingga Sabtu (20/2) siang belum ada kabar gembira. Ia berharap segera ada solusi untuk memperbaiki tanggul yang jebol. Jika tidak, maka ombak akan mengikis rumah warga dan jalan setempat.

Terpisah Kepala Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo Rahmat Waluyo menuturkan, saat ini pihaknya hanya bisa mengajukan perbaikan. Untuk mengajukan lewat PAK APBD 2021 tidak bisa, karena waktunya mepet.

Sehingga pengajuan perbaikan tanggul yang jebol menurutnya akan dilakukan melalui APBD 2022. “Untuk PAK tahun ini, waktunya mepet. Selain itu kami juga belum tahu sejauh apa kerusakannya. Karena itu, kami akan ajukan tahun berikutnya. Mudah mudahan terdanai,” singkatnya. (rpd/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2