alexametrics
24 C
Probolinggo
Sunday, 28 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Sel Baru TPA Hampir Penuh, Butuh Investor untuk Kelola Sampah

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KANIGARAN, Radar Bromo – Pengelolaan sampah di Kota Probolinggo, belum maksimal. Maklum, untuk mengelola sampah yang mencapai 70 ton per hari itu butuh anggaran besar. Karenanya, sel baru yang dibangun tahun kemarin hampir penuh. Bahkan, diperkirakan hanya akan mampu menampung sampah untuk setahun ke depan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo Rachmadeta Antariksa mengatakan, di Kota Probolinggo, setiap harinya ada 70 ton sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Jalan Anggrek. Bila terus seperti ini, diyakini TPA hanya bisa menampung sampah untuk setahun ke depan. Sebab, sel baru di TPA sudah hampir penuh.

“Pada saat saya masuk (jadi kepala DLH) awal 2020, sel baru seluas 5.000 meter persegi dengan tinggi sekitar 3 meter (ke bawah 2 meter ke atas 1 meter lebih) masih kosong dan bersih. Selang 8 bulan saja tingginya sudah 6 meter (total 8 meter karena ke dalaman dua meter). Saat saya ceritakan ke Pak Wali, Pak Wali kaget. Pak Wali bilang, itu kan sel baru kok sudah penuh,” ujarnya menirukan Wali Kota.

Karenanya, diperkirakan setahun ke depan sel yang baru dibuat pada 2020 itu akan penuh. Deta mengaku telah melakukan sejumlah kajian mengenai pengelolaan sampah. Namun membutuhkan dana yang cukup besar. Minimal sekitar Rp 50 miliar.

“Kami sudah melakukan sejumlah kajian untuk pengelolaan sampah, termasuk dibuat bata. Pembuatan tenaga listrik dengan sampah. Dan, itu satu-satunya hanya ada di Jakarta dengan anggaran yang sangat tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, sejauh ini belum ada investor yang mau masuk untuk mengelola sampah. Diperkirakan, karena mempertimbangkan dampak atau pengelolaan yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan pengeluaran, sehingga untuk kembali modal butuh puluhan tahun. “Jika memang ada investor mau masuk, kami persilakan,” ujarnya.

Untuk mengatasi sampah dalam jangka pendek, kata Deta, dengan membangun sel baru. Mengingat, dari 17 hektare lahan yang digunakan DLH baru 14 hektare. Sisanya lahan yang saat ini ditempati warga.

“Kami juga berkoordinasi mengenai lahan regional yang akan dibangun. “Jadi untuk penanganan jangka pendeknya kami akan membangun sel baru. Pembangunan sel baru ini kami juga berkoordinasi dengan Pusat, sehingga pembangunannya ditanggung Pusat. Namun, masih tahap koordinasi,” ujarnya.

Menurutnya, yang terpenting kini menyiapkan lahan dulu. “Kami juga sedang dalam tahap sosialisasi kepada warga. Selain itu, langkah kedua, yakni mengenai TPS regional. Kami berkoordinasi dengan kabupaten juga,” ujar Deta. (rpd/rud)

Mobile_AP_Rectangle 1

KANIGARAN, Radar Bromo – Pengelolaan sampah di Kota Probolinggo, belum maksimal. Maklum, untuk mengelola sampah yang mencapai 70 ton per hari itu butuh anggaran besar. Karenanya, sel baru yang dibangun tahun kemarin hampir penuh. Bahkan, diperkirakan hanya akan mampu menampung sampah untuk setahun ke depan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo Rachmadeta Antariksa mengatakan, di Kota Probolinggo, setiap harinya ada 70 ton sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Jalan Anggrek. Bila terus seperti ini, diyakini TPA hanya bisa menampung sampah untuk setahun ke depan. Sebab, sel baru di TPA sudah hampir penuh.

“Pada saat saya masuk (jadi kepala DLH) awal 2020, sel baru seluas 5.000 meter persegi dengan tinggi sekitar 3 meter (ke bawah 2 meter ke atas 1 meter lebih) masih kosong dan bersih. Selang 8 bulan saja tingginya sudah 6 meter (total 8 meter karena ke dalaman dua meter). Saat saya ceritakan ke Pak Wali, Pak Wali kaget. Pak Wali bilang, itu kan sel baru kok sudah penuh,” ujarnya menirukan Wali Kota.

Mobile_AP_Half Page

Karenanya, diperkirakan setahun ke depan sel yang baru dibuat pada 2020 itu akan penuh. Deta mengaku telah melakukan sejumlah kajian mengenai pengelolaan sampah. Namun membutuhkan dana yang cukup besar. Minimal sekitar Rp 50 miliar.

“Kami sudah melakukan sejumlah kajian untuk pengelolaan sampah, termasuk dibuat bata. Pembuatan tenaga listrik dengan sampah. Dan, itu satu-satunya hanya ada di Jakarta dengan anggaran yang sangat tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, sejauh ini belum ada investor yang mau masuk untuk mengelola sampah. Diperkirakan, karena mempertimbangkan dampak atau pengelolaan yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan pengeluaran, sehingga untuk kembali modal butuh puluhan tahun. “Jika memang ada investor mau masuk, kami persilakan,” ujarnya.

Untuk mengatasi sampah dalam jangka pendek, kata Deta, dengan membangun sel baru. Mengingat, dari 17 hektare lahan yang digunakan DLH baru 14 hektare. Sisanya lahan yang saat ini ditempati warga.

“Kami juga berkoordinasi mengenai lahan regional yang akan dibangun. “Jadi untuk penanganan jangka pendeknya kami akan membangun sel baru. Pembangunan sel baru ini kami juga berkoordinasi dengan Pusat, sehingga pembangunannya ditanggung Pusat. Namun, masih tahap koordinasi,” ujarnya.

Menurutnya, yang terpenting kini menyiapkan lahan dulu. “Kami juga sedang dalam tahap sosialisasi kepada warga. Selain itu, langkah kedua, yakni mengenai TPS regional. Kami berkoordinasi dengan kabupaten juga,” ujar Deta. (rpd/rud)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2