alexametrics
24 C
Probolinggo
Sunday, 28 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Masalah Tambak, Warga Sukabumi Wadul Dewan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

MAYANGAN, Radar Bromo – Sejumlah warga yang tergabung dalam Forum Warga Peduli Kampung Nila di RT 7/RW 7 Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, wadul dewan. Rabu (20/1), mereka mendatangi kantor DPRD Kota Probolinggo mengadukan terkait pengelolaan tambak oleh pengurus RT.

Bayu Setiawan, 38, salah seorang pengurus paguyuban itu mengatakan, semula tambak seluas hampir satu hektare itu dikelola Samsul. Dari Samsul dikelola Tawi. Karena tambak itu diperuntukan warga, Desember 2020, Tawi menyerahkan kepada warga.

“Kami ada bukti serah terimanya jika tambak itu diberikan ke forum untuk warga. Namun tiga bulan terakhir, tiba-tiba ketua RT mengelola kolam tersebut secara pribadi untuk kolam pancing,” ujar Bayu.

Namun kemudian disewakan kepada warga luar RT 7. Nominalnya, Rp 10 juta untuk 5 tahun. “Ini tanpa melibatkan forum. Sehingga, kami yang terlibat dalam forum tidak mengetahui,” ujarnya. Karenanya, pihaknya mengadu ke DPRD.

Kemarin, lima orang dari paguyuban itu ditemui Ketua Komisi III Agus Riyanto bersama anggotanya, Heri Poniman. Karena Komisi II yang membidangi belum ada, Agus menyarankan mereka membuat surat pengaduan secara tertulis. “Pakai tulisan tangan juga tidak apa. Nanti selain ke pimpinan, juga ke ketua komisi, sehingga persoalan ini segera dibahas,” ujar Agus.

Terpisah, Ketua RT 7/RW 7 Kelurahan Sukabumi Suhartono mengatakan, antara forum dengan pengurus RT dan warga tidak ada kesinambungan. Anggota juga mayoritas bukan warga RT 7. “Seperti Bayu, yang saat ini ikut istrinya ke Malasan. Rupanya tambak itu hendak dikelolah oleh forum yang di dalamnya hanya segelintir orang. Padahal, itu kan tambak untuk dikelolah seluruh warga,” ujarnya.

Ia mengakui jika mengisi tambaknya dengan uang pinjaman Rp 2,5 juta. Kemudian, ada penghasilan dari usaha pemancingan Rp 5 juta. Uang itu kemudian digunakan untuk membayar utang dan sisanya untuk beli perabotan rukun kematian. Seperti, piring, gelas, dan lampu. “Keputusan itu bukan saya ambil sendiri, melainkan kami rapat RT,” ujarnya.

Karena hanya mengurus tambak seorang diri, Suhartono, mengaku akhirnya menyewakannya. Keputusan itu juga diambil berdasarkan rembukan pengurus RT. Uang sewa senilai Rp 10 juta digunakan untuk membeli gazebo, lampu, dan pot. “Jika saya diminta untuk turun atau berhenti, saya mau. Jujur, banyak toroknya jadi RT,” katanya. (rpd/rud)

Mobile_AP_Rectangle 1

MAYANGAN, Radar Bromo – Sejumlah warga yang tergabung dalam Forum Warga Peduli Kampung Nila di RT 7/RW 7 Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, wadul dewan. Rabu (20/1), mereka mendatangi kantor DPRD Kota Probolinggo mengadukan terkait pengelolaan tambak oleh pengurus RT.

Bayu Setiawan, 38, salah seorang pengurus paguyuban itu mengatakan, semula tambak seluas hampir satu hektare itu dikelola Samsul. Dari Samsul dikelola Tawi. Karena tambak itu diperuntukan warga, Desember 2020, Tawi menyerahkan kepada warga.

“Kami ada bukti serah terimanya jika tambak itu diberikan ke forum untuk warga. Namun tiga bulan terakhir, tiba-tiba ketua RT mengelola kolam tersebut secara pribadi untuk kolam pancing,” ujar Bayu.

Mobile_AP_Half Page

Namun kemudian disewakan kepada warga luar RT 7. Nominalnya, Rp 10 juta untuk 5 tahun. “Ini tanpa melibatkan forum. Sehingga, kami yang terlibat dalam forum tidak mengetahui,” ujarnya. Karenanya, pihaknya mengadu ke DPRD.

Kemarin, lima orang dari paguyuban itu ditemui Ketua Komisi III Agus Riyanto bersama anggotanya, Heri Poniman. Karena Komisi II yang membidangi belum ada, Agus menyarankan mereka membuat surat pengaduan secara tertulis. “Pakai tulisan tangan juga tidak apa. Nanti selain ke pimpinan, juga ke ketua komisi, sehingga persoalan ini segera dibahas,” ujar Agus.

Terpisah, Ketua RT 7/RW 7 Kelurahan Sukabumi Suhartono mengatakan, antara forum dengan pengurus RT dan warga tidak ada kesinambungan. Anggota juga mayoritas bukan warga RT 7. “Seperti Bayu, yang saat ini ikut istrinya ke Malasan. Rupanya tambak itu hendak dikelolah oleh forum yang di dalamnya hanya segelintir orang. Padahal, itu kan tambak untuk dikelolah seluruh warga,” ujarnya.

Ia mengakui jika mengisi tambaknya dengan uang pinjaman Rp 2,5 juta. Kemudian, ada penghasilan dari usaha pemancingan Rp 5 juta. Uang itu kemudian digunakan untuk membayar utang dan sisanya untuk beli perabotan rukun kematian. Seperti, piring, gelas, dan lampu. “Keputusan itu bukan saya ambil sendiri, melainkan kami rapat RT,” ujarnya.

Karena hanya mengurus tambak seorang diri, Suhartono, mengaku akhirnya menyewakannya. Keputusan itu juga diambil berdasarkan rembukan pengurus RT. Uang sewa senilai Rp 10 juta digunakan untuk membeli gazebo, lampu, dan pot. “Jika saya diminta untuk turun atau berhenti, saya mau. Jujur, banyak toroknya jadi RT,” katanya. (rpd/rud)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2