alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Jaring 62 Anjal saat Razia di Sudut Kota Probolinggo

MAYANGAN, Radar Bromo – Anak jalanan (anjal) masih menjadi permasalahan di Kota Probolinggo. Berulang kali Satpol PP melakukan razia, mereka tidak juga jera. Sepanjang 2021, ada 62 anjal yang terjaring operasi.

Kasatpol PP Kota Probolinggo Aman Suryaman mengatakan, razia penyakit masyarakat (pekat) masih menjadi salah satu atensi utama. Apalagi keberadaan anjal ini cukup meresahkan. Mereka sering ditemukan meminta-minta di setiap persimpangan traffic light.

Selama ini, anjal yang terjaring razia selalu didata untuk diberi pembinaan. Harapannya, mereka tidak mengulangi perbuatannya. Namun, ada saja yang kembali berulah meski sudah sempat diberi pengarahan.

“Kebanyakan warga luar Kota Probolinggo. Kalau warga sini, mereka biasanya dibawa ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A),” jelas Aman.

Kepala Dinsos P3A Kota Probolinggo Rey Suwagtyo menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan lembaga penyuluhan kesejahteraan untuk masalah anjal atau pengemis. Ada 13 yayasan di Kota Probolinggo yang membantu menangani masalah ini.

Jika mereka bersedia, para anjal atau pengemis anak biasanya akan dibina oleh lembaga itu. Misalnya jika mereka beragama Islam, akan mendapatkan pembinaan sesuai nilai-nilai Islami, begitu pula sebaliknya.

“Tapi, kalau mereka yang terjaring bukan warga Kota Probolinggo, kami biasanya langsung menyerahkan pada Dinsos setempat,” ujarnya. (riz/rud)

MAYANGAN, Radar Bromo – Anak jalanan (anjal) masih menjadi permasalahan di Kota Probolinggo. Berulang kali Satpol PP melakukan razia, mereka tidak juga jera. Sepanjang 2021, ada 62 anjal yang terjaring operasi.

Kasatpol PP Kota Probolinggo Aman Suryaman mengatakan, razia penyakit masyarakat (pekat) masih menjadi salah satu atensi utama. Apalagi keberadaan anjal ini cukup meresahkan. Mereka sering ditemukan meminta-minta di setiap persimpangan traffic light.

Selama ini, anjal yang terjaring razia selalu didata untuk diberi pembinaan. Harapannya, mereka tidak mengulangi perbuatannya. Namun, ada saja yang kembali berulah meski sudah sempat diberi pengarahan.

“Kebanyakan warga luar Kota Probolinggo. Kalau warga sini, mereka biasanya dibawa ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A),” jelas Aman.

Kepala Dinsos P3A Kota Probolinggo Rey Suwagtyo menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan lembaga penyuluhan kesejahteraan untuk masalah anjal atau pengemis. Ada 13 yayasan di Kota Probolinggo yang membantu menangani masalah ini.

Jika mereka bersedia, para anjal atau pengemis anak biasanya akan dibina oleh lembaga itu. Misalnya jika mereka beragama Islam, akan mendapatkan pembinaan sesuai nilai-nilai Islami, begitu pula sebaliknya.

“Tapi, kalau mereka yang terjaring bukan warga Kota Probolinggo, kami biasanya langsung menyerahkan pada Dinsos setempat,” ujarnya. (riz/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/