alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Cerita Dua Rumah di Wiroborang Terisolasi karena Polemik Genangan

MAYANGAN, Radar Bromo – Gara-gara genangan air ketika hujan, sejumlah warga di RT 2 dan RT 3/RW 6, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, berselisih. Bahkan, warga sampai menembok jalan umum batas antara RT 2 dan RW 3. Dampaknya, dua rumah terisolasi.

Dua rumah yang terisolasi itu milik Anik Susanti dan Imam. Mereka tinggal di RT 2/RW 3. Kini, bila hendak menuju jalan raya, mereka harus melintas di jalan setapak. Dulu, ketika masih akur, mereka bisa melintas dengan nyaman di jalan umum depan rumahnya.

Salah seorang warga RT 2, Anton, 37, mengatakan, tembok setinggi sekitar 2 meter itu dibangun pada awal Desember 2021. Pembangunannya sudah disetujui oleh RT-RW untuk menghindari perselisihan.

Awalnya, perselisihan terjadi ketika Anik, membuat polisi tidur cukup tinggi di jalan batas RT. Maksudnya, agar air hujan tidak mengalir dan menggenang di halaman rumahnya. “Jalan ini satu jalur. Namun, tembok itu batas RT. Di sini (selatan tembok) RT 2 dan utara tembok RT 3,” ujarnya.

Karena satu jalur, ketika hujan air dari selatan mengalir ke utara. Ternyata, air menggenang di halaman rumah Anik dan Imam. Dua rumah ini berada di bagian utara. “Bu Anik membuat polisi tidur sekitar tujuh bulan lalu,” ujar Anton.

Dengan adanya polisi tidur, akhirnya ketika hujan air menggenang di daerah permukiman warga di RT 2. Warga pun membobol sebagian polisi tidur agar air bisa mengalir. Tetapi, Anik marah. “Saya izin mau dikasih paralon agar airnya mengalir dan dibuang ke sawah pemerintah, juga tidak boleh. Akhirnya warga geram,” jelasnya.

Buntutnya, warga bersama pihak RT sepakat membangun tembok antara batas perumahan atau kavlingan dengan rumah Anik dan Imam. Warga juga membuat 14 titik resapan air. “Warga kavlingan urunan Rp 350 ribu setiap rumah.,” ujar Anton.

MAYANGAN, Radar Bromo – Gara-gara genangan air ketika hujan, sejumlah warga di RT 2 dan RT 3/RW 6, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, berselisih. Bahkan, warga sampai menembok jalan umum batas antara RT 2 dan RW 3. Dampaknya, dua rumah terisolasi.

Dua rumah yang terisolasi itu milik Anik Susanti dan Imam. Mereka tinggal di RT 2/RW 3. Kini, bila hendak menuju jalan raya, mereka harus melintas di jalan setapak. Dulu, ketika masih akur, mereka bisa melintas dengan nyaman di jalan umum depan rumahnya.

Salah seorang warga RT 2, Anton, 37, mengatakan, tembok setinggi sekitar 2 meter itu dibangun pada awal Desember 2021. Pembangunannya sudah disetujui oleh RT-RW untuk menghindari perselisihan.

Awalnya, perselisihan terjadi ketika Anik, membuat polisi tidur cukup tinggi di jalan batas RT. Maksudnya, agar air hujan tidak mengalir dan menggenang di halaman rumahnya. “Jalan ini satu jalur. Namun, tembok itu batas RT. Di sini (selatan tembok) RT 2 dan utara tembok RT 3,” ujarnya.

Karena satu jalur, ketika hujan air dari selatan mengalir ke utara. Ternyata, air menggenang di halaman rumah Anik dan Imam. Dua rumah ini berada di bagian utara. “Bu Anik membuat polisi tidur sekitar tujuh bulan lalu,” ujar Anton.

Dengan adanya polisi tidur, akhirnya ketika hujan air menggenang di daerah permukiman warga di RT 2. Warga pun membobol sebagian polisi tidur agar air bisa mengalir. Tetapi, Anik marah. “Saya izin mau dikasih paralon agar airnya mengalir dan dibuang ke sawah pemerintah, juga tidak boleh. Akhirnya warga geram,” jelasnya.

Buntutnya, warga bersama pihak RT sepakat membangun tembok antara batas perumahan atau kavlingan dengan rumah Anik dan Imam. Warga juga membuat 14 titik resapan air. “Warga kavlingan urunan Rp 350 ribu setiap rumah.,” ujar Anton.

MOST READ

BERITA TERBARU

/