Ibrahim, Veteran Perang Inisiator Sekolah Tinggi Muhammadiyah

Meskipun telah wafat 21 tahun lalu, nama H. Ibrahim masih harum di Kota Probolinggo. Nama tokoh Muhammadiyah itu bahkan diabadikan menjadi salah satu kelas di MI Muhammadiyah I Kota Probolinggo. Kiprahnya di bidang sosial dan pendidikan semasa hidup, terus dikenang hingga kini.

RIDHOWATI SAPUTRI, Radar Bromo, Kademangan

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Terdengar ucapan dari salah satu ruang perawatan kelas I RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo. Ruang kamar yang sempit itu penuh sesak dengan sanak keluarga, menemani salah satu tokoh Muhammadiyah Kota Probolinggo yang terbaring sakit.

Kamis sore di akhir April tahun 1999, warga Muhammadiyah Kota Probolinggo kehilangan salah satu tokohnya. Setelah terbaring sakit dan mendapat perawatan di rumah sakit, H. Ibrahim, mantan ketua PD Muhammadiyah Kota Probolinggo periode 1990-1995 meninggal dunia di usia 68 tahun.

Satu per satu keluarga yang menemani keluar dari ruangan. Wajah pucat, kesedihan dan tangis memenuhi ruang perawatan itu.

Menunggu salah satu putrinya yang bersekolah di Jogjakarta saat itu, jenazah H. Ibrahim dimakamkan keesokan paginya tepat di hari Jumat. Disalatkan di musala dekat rumah, ratusan orang ikut menyalati jenazahnya saat itu.

Sempitnya musala membuat salat jenazah saat itu tidak bisa dilakukan hanya satu kali. Tapi, sampai dua kali. Ratusan jamaah yang mengikuti salat jenazah, menjadi salah satu bukti bahwa sosok H. Ibrahim dikenal luas masyarakat.

Dua puluh satu tahun berlalu. Namun, kader-kader Muhammadiyah masih mengingat sosok Ibrahim. Walaupun, generasi muda yang lahir setelah dia, tidak banyak lagi yang mengenalnya.

Radar Bromo menemui beberapa orang terdekat yang mengenal sosok H. Ibrahim. Salah satunya adalah Hj Afifah Ibrahim, istri H. Ibrahim di rumahnya di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Meskipun telah ditinggal suaminya sejak 21 tahun lalu, mantan Ketua PD Aisyah Kota Probolinggo itu masih mengingat jelas sifat dan karakter laki-laki yang telah memberinya dua putri itu. “Kalau ditanya sifatnya itu disiplin dan selalu on time. Kalau janjian harus tepat waktu. Organisatoris, artinya kegiatan itu terjadwal,” ujarnya.

Afifah menjelaskan, suaminya bukan orang yang berpendidikan tinggi. Ijazah terakhirnya adalah ijazah SD. Ketika SMP, kegiatan sekolah terganggu dengan perang kemerdekaan yang saat itu terjadi.

“Sekolah dua hari masuk, dua hari libur. Akhirnya, diputuskan benar-benar ikut perang waktu itu. Padahal masih usia SMP,” ujarnya.

Pernah dalam sebuah perang mempertahankan kemerdekaan, Ibrahim muda bersembunyi dari gempuran tentara Belanda. Kemudian dia berpindah tempat bersembunyi. Lalu, lokasi persembunyian sebelumnya itu digantikan oleh temannya.

“Ternyata ada granat milik Belanda terlempar ke lokasi persembunyian yang digantikan temannya. Temannya tewas, bapak selamat,” ujarnya.

Meskipun berijazah SD, Ibrahim muda mendapatkan kesempatan untuk bekerja di kantor Kementerian Agama. Menyadari pendidikannya yang tidak tinggi, Ibrahim mengikuti pelatihan kepegawaian yang disiapkan oleh Kemenag.

“Sampai akhirnya di Kemenag menjadi kepala sub bagian. Padahal, ijazahnya adalah ijazah SD,” ujarnya.

Sementara itu, keterlibatan anak kelima dari enam bersaudara itu di Muhammadiyah sudah dilakukan sejak masih muda. Bahkan, saat usia 20 tahun pernah menghadiri rapat akbar Muhammadiyah di Jakarta.

“Soal organisasi, bapak memang melatih keponakan-keponakan laki-lakinya, meskipun tidak semua mau. Kalau dulu Umi (Anak pertama Ibrahim, Umi Athiyah) dibiarkan aktif berorganisasi, mungkin bisa seperti bapak. Tapi, tidak dibolehkan,” ujar Afifah.

Ibrahim semasa hidupnya juga menyekolahkan anak-anak tidak mampu di sekitar rumahnya. Namun, Hj. Afifah yang mantan Kepala MAN 2 Kota Probolinggo ini mengaku tidak tahu pasti soal itu.

“Bapak tidak pernah cerita soal seperti itu. Mau memberikan sesuatu tidak pernah omong-omong. Langsung saja diberikan,” ujarnya.

Yang jelas, aktivitas sosial dan pendidikan menjadi kegiatan yang dekat dengan keseharian Ibrahim. Selain pernah menjadi Ketua PD Muhammadiyah tahun 1990-1995, dia juga menjadi ketua takmir Masjid Taqwa di Jalan KH. Abdul Azis, Kebonsari Kulon.

“Sekitar tahun 1980-an, Masjid Taqwa tidak seperti sekarang ini. Masjid Taqwa ini masih terbuat dari kayu. Ketika mulai merenovasi Masjid Taqwa, kas masjid cuma Rp 1 juta,” ujarnya.

Saat itu Hj. Afidah ragu, apa bisa membangun masjid dengan dana cuma segitu. Namun, Ibrahim meyakinkan pasti bisa. Dan enam bulan setelah itu, Masjid Taqwa dibangun.

Ada cerita menarik mengenai proses renovasi Masjid Taqwa saat itu. Menurut Afifah, suaminya setelah Subuh selalu keliling untuk mencari donasi pembangunan Masjid Taqwa. Namun, donasinya itu bukan berupa uang melainkan barang.

“Ada yang menyumbang semen, pasir, pokoknya bahan bangunan. Bahkan, ada yang menyumbang 100 sak semen waktu itu,” ujarnya takjub saat mengingat lagi cerita tersebut.

Usaha mencari donasi pembangunan Masjid Taqwa, tidak hanya dilakukan di Kota Probolinggo. Bahkan, sampai ke wilayah Kabupaten Probolinggo. Salah satunya dilakukan sampai ke Desa Pendil, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo.

Mencari donasi ini tidak dilakukan seorang diri. Ibrahim biasanya mengajak Hanafi, salah satu anggota Takmir Masjid Taqwa kala itu untuk membantu.

Dalam proses renovasi Masjid Taqwa itu, banyak suka duka yang dilalui. Selain proses pencarian donasi yang berliku-liku, tantangan juga datang dari kontraktor yang membangun.

“Pernah proses pembangunan tidak diselesaikan dan ditinggal begitu saja. Ada juga pembangunan Masjid Taqwa yang dinilai kurang baik kualitasnya, padahal akan digunakan sebagai tempat belajar bagi siswa MI. Bapak kecewa soal itu,” ujarnya.

Selain pembangunan Masjid Taqwa, Afifah menyebutkan bahwa suaminya juga terlibat dalam proses wakaf tanah di MI Muhammadiyah 1. Saat itu Ibrahim menjadi ketua tim wakaf.

“Juga mendorong adanya Sekolah Tinggi Islam Muhammadiyah di Kota Probolinggo,” ujarnya saat ditanyakan kiprah H. Ibrahim di bidang pendidikan.

Meskipun pendidikan tidak tinggi, H. Ibrahim mendorong putri-putrinya untuk mengeyam pendidikan tinggi. Membangun budaya literasi pun telah dikenalkan sejak dini kepada keluarga.

Tahun 1990-an, dimana saat itu orang-orang masih jarang berlangganan koran, namun kakek 12 cucu ini menyediakan bacaan koran untuk keluarga. Termasuk majalah untuk anak-anak.

“Buku-buku bapak banyak. Dulu majalah Gatra, Tempo, Panji Masyarakat juga ada. Bahkan pernah menyarankan ke saya kalau mau cari bahan pidato, baca buku-buku ini,” tambahnya.

Bahkan, semasa hidupnya, salah satu kamar digunakan untuk ruang perpustakaan. Kamar ini berisikan beragam buku-buku. Mulai dari buku kemuhammadiyahan, sejarah indonesia, berbagai tafsir Alquran, buku hadis, serta majalah-majalah berbagai judul.

Salah satu putrinya adalah Prof. Dr. Umi Athiyah, M.S., Apt. yang saat ini menjadi Dekan Farmasi Universitas Airlangga di Surabaya. Bahkan, sempat mengikuti seleksi calon rektor di Universitas Airlangga.

Cerita tentang H. Ibrahim juga disampaikan oleh Hanafi, kepala Sekolah MI Muhammadiyah I Kota Probolinggo. Kedekatan dengan H. Ibrahim terjalin sejak Hanafi menjadi anggota takmir Masjid Taqwa.

“Sejak tahun 1985 itu sudah kenal. Saya jadi anggota remaja Masjid Taqwa beliau jadi ketua takmir,” ujarnya.

Kedekatan itu terjalin bukan tanpa sebab. Hanafi ini yang kerap mendampingi H. Ibrahim saat mencari donasi untuk pembangunan Masjid Taqwa.

“Ya, saya ikut keliling sama beliau. Mulai dari selesai subuhan sampai jam kantor biasanya keliling untuk mencari donasi,” jelasnya.

Hanafi melihat sosok H. Ibrahim itu sosok yang ulet, berkemauan keras, disiplin, selalu tepat waktu. Kalau janjian harus tepat waktu

“Saya menganggap beliau seperti ayah saya. Bahkan, beliau dulu juga yang menentukan tanggal pernikahan saya. Kebetulan waktu itu beliau naik haji tahun 1995. Di saat masih banyak tamu karena hajian, beliau hadir di acara pernikahan saya,” ujarnya saat disinggung mengenai hubungan pribadi.

Selama rencana pendirian MI Muhammadiyah I, H. Ibrahim menjadi ketua penerima wakaf atas tanah bangunan yang lama. Selain itu, juga penggagas berdirinya STM Muhammadiyah.

“Dulu STM Muhammadiyah berdiri di Jalan Panjaitan bersama SMP Muhammadiyah dan SMEA Muhammadiyah. Tapi sekarang dipindah ke Kanigaran. Salah satu inisiatornya beliau juga,” ujarnya.

Sejak tahun 2010, nama Ibrahim bersama dua Ketua PD Muhammadiyah yang lain yaitu Abdul Kholiq Thohir dan AM Djohari diabadikan menjadi nama kelas di MI Muhammadiyah 1.

“Untuk kelas 1 sampai kelas 5, nama-nama kelas diberi nama sahabat nabi. Untuk kelas 6 ini kami beri nama beberapa ketua PD Muhammadiyah Kota Probolinggo. Salah satunya H. Ibrahim,” ujarnya. (hn)