Ada Rencana Harga Elpiji Melon Naik, Warga Waswas

MAYANGAN, Radar Bromo – Rencana pemerintah menaikkan harga gas elpiji ukuran 3 kilogram telah sampai kepada masyarakat. Termasuk, warga Kota Probolinggo. Tak ayal, rencana ini membuat sejumlah warga khawatir. Sebab, kebijakan yang rencananya diberlakukan mulai pertengahan tahun ini mencapai Rp 35 ribu.

Salah seorang warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Sriutami, 34, mengatakan, rencana naiknya harga gas elpiji ukuran 3 kilogram membuatnya waswas. Apalagi, kenaikannya cukup tinggi. Dari Rp 17-18 ribu akan naik mejadi Rp 35 ribu per tabung.

“Kami harapan tidak naik. Sebab, pendapatan dari berjualan gorengan tidak seberapa. Jika masih dikurangi dengan harga tabung yang mahal, malah pendapatan saya makin menipis,” ujar ibu dua anak tersebut.

Kekhawatiran serupa diungkapkan Musidin, 35. Salah seorang penjulan makanan keliling itu mengatakan, naiknya harga gas elpiji akan berdampak pada naiknya modal dan berkurangnya keuntungan. “Kami keberatan kalau dinaikkan, biaya modal kami pasti nambah. Jelas keuntungan kami pasti berkurang,” ujar penjual bakpao itu.

Keluhan atas rencana kenaikan harga elpiji 3 kilogram ini juga diungkapkan Hasim, 30, penjual nasi goreng. “Warung saya buka dari jam 10 siang sampai jam 10 malam. Kalau ramai bisa habis 3 tabung elpiji 3 kilogram. Dengan harga Rp 18 ribu per tabung, biasanya cuma habis Rp 54 ribu. Kalau naik jadi Rp 35 ribu, buat bahan bakar saja sampai Rp 105 ribu,” ujarnya.

Hasim mengaku tidak berani menaikkan harga makanan jualannya. Sebab, saat ini banyak yang menjual menu makanan seperti dirinya. “Rata-rata harganya sama. Kalau menaikkan harga, bisa lari ke penjual lain yang berani lebih murah,” ujarnya.

Sementara itu, Unit Manager Communication, Relations, & CSR-Pertamina MOR V Rustam Aji mengaku, sampai kemarin belum ada petunjuk teknis (juknis) terkait kenaikan maupun distribusi gas elpiji ukuran 3 kilogram.

Menurutnya, Pemerintah Pusat akan melakukan pemusatan tabung melon. Sehingga, subsidinya akan dihapuskan dan harganya akan disesuaikan. Namun, bagi warga kurang mampu tetap akan mendapatkan tabung melon melalui mekanisme pemusatan yang kini sedang digodok.

“Tabung melon masih tetap ada. Kalau berdasar informasi dari pemerintah, bukan dicabut. Tapi, subsidinya tertutup dan langsung kepada penerima atau masyarakat yang berhak,” ujarnya.

Rustam mengatakan, sebagai operator, prinsipnya Pertamina siap dengan kebijakan pemerintah, tekait mekanisme distribusi elpiji 3 kilogram. Termasuk, jika nanti akan dilaksanakan dengan sistem tertutup. “Setelah ada keputusan akan memastikan lembaga penyalur siap dengan mekanisme distribusi tertutup tersebut,” ujarnya.

Diketahui, Pemerintah Pusat berencana tidak lagi memberikan subsidi untuk elpiji ukuran 3 kilogram. Kebijakan ini rencananya akan dimulai pada semester II tahun ini. Subsidi tidak lagi diberikan dalam setiap tabung gas, namun langsung kepada masyarakat yang berhak. Dengan demikian, harga tabung melon yang dijual akan disesuaikan dengan harga pasar. (rpd/rud)