alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Curhat Pedagang Pasar Baru soal Rehab Pasar yang Tak Kunjung Rampung

MAYANGAN, Radar Bromo Sudah lama sejumlah pedagang di Pasar Baru, Kota Probolinggo, menunggu revitalisasi pasar setempat dilanjutkan. Kini, mereka bisa bernapas lega. Meski pesimistis proyeknya rampung tahun ini.

Beragam upaya telah dilakukan pedagang agar proyek ini segera dilanjutkan. Termasuk menghadap langsung kepada Wali Kota dan memberikan surat secara resmi. Namun, kini mereka hanya bisa pasrah.

Seperti diungkapkan Hadi, 72. Pemilik Toko Jamu 32 di Jalan Siaman, Kota Probolinggo. Ia mengaku bersama sejumlah pedagang di Jalan Niaga, sempat bertemu langsung Wali Kota. Termasuk memberikan surat resmi.

Namun, katanya, sudah menginjak tahun kelima, tidak ada perubahan. Progres yang dijanjikan akan dikerjakan belum terlihat.

“Jika sampai tahun ini, berarti menginjak lima tahun. Tapi, belum ada pengerjaan. Diberitakan juga sudah sering. Masak kami mau gontot-gontotan dengan pemerintah,” katanya.

Karenanya, kini sejumlah pedagang pasrah. Karena, sejumlah upaya sudah dilakukan dan belum berhasil. Bahkan, tempat penampungan pedagang sementara semakin kumuh.

“Dengan kondisi pandemi serta turunnya pendapatan akibat adanya TPA, sangat terasa. Bahkan, bisa dibilang omzetnya turun jauh,” ujar Hadi.

Hal senada diungkapkan Sutrisno, 72, pemilik kios perancangan di Pasar Baru. Warga Kelurahan Jrebeng Lor, ini mengaku pendapatannnya semakin tipis. Dulu ketika masih menempati bedak dalam pasar, sehari bisa mendapatkan Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Kini hanya Rp 500 ribu untuk pendapatan kotor. “Untung masih ada langganan. Soalnya lokasinya mepet dan di belakang juga,” ujarnya.

Pedagang yang menempati tempat penampungan sekitar 4 tahunan ini, mengaku kerap kemalingan. Baik timbel timbangan dan perabotan lainnya. “Sudah beberapa kali saya kehilangan. Apalagi memang tripleksnya tipis dan mudah dijebol. Makanya, banyak pedagang yang ngalah melakukan perbaikan sendiri agar barangnya aman,” ujarnya. (rpd/rud)

MAYANGAN, Radar Bromo Sudah lama sejumlah pedagang di Pasar Baru, Kota Probolinggo, menunggu revitalisasi pasar setempat dilanjutkan. Kini, mereka bisa bernapas lega. Meski pesimistis proyeknya rampung tahun ini.

Beragam upaya telah dilakukan pedagang agar proyek ini segera dilanjutkan. Termasuk menghadap langsung kepada Wali Kota dan memberikan surat secara resmi. Namun, kini mereka hanya bisa pasrah.

Seperti diungkapkan Hadi, 72. Pemilik Toko Jamu 32 di Jalan Siaman, Kota Probolinggo. Ia mengaku bersama sejumlah pedagang di Jalan Niaga, sempat bertemu langsung Wali Kota. Termasuk memberikan surat resmi.

Namun, katanya, sudah menginjak tahun kelima, tidak ada perubahan. Progres yang dijanjikan akan dikerjakan belum terlihat.

“Jika sampai tahun ini, berarti menginjak lima tahun. Tapi, belum ada pengerjaan. Diberitakan juga sudah sering. Masak kami mau gontot-gontotan dengan pemerintah,” katanya.

Karenanya, kini sejumlah pedagang pasrah. Karena, sejumlah upaya sudah dilakukan dan belum berhasil. Bahkan, tempat penampungan pedagang sementara semakin kumuh.

“Dengan kondisi pandemi serta turunnya pendapatan akibat adanya TPA, sangat terasa. Bahkan, bisa dibilang omzetnya turun jauh,” ujar Hadi.

Hal senada diungkapkan Sutrisno, 72, pemilik kios perancangan di Pasar Baru. Warga Kelurahan Jrebeng Lor, ini mengaku pendapatannnya semakin tipis. Dulu ketika masih menempati bedak dalam pasar, sehari bisa mendapatkan Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Kini hanya Rp 500 ribu untuk pendapatan kotor. “Untung masih ada langganan. Soalnya lokasinya mepet dan di belakang juga,” ujarnya.

Pedagang yang menempati tempat penampungan sekitar 4 tahunan ini, mengaku kerap kemalingan. Baik timbel timbangan dan perabotan lainnya. “Sudah beberapa kali saya kehilangan. Apalagi memang tripleksnya tipis dan mudah dijebol. Makanya, banyak pedagang yang ngalah melakukan perbaikan sendiri agar barangnya aman,” ujarnya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/