alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Produksi Sampah TPA Bestari Nanggung, Tak Cukup untuk Energi Listrik

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

MAYANGAN, Radar Bromo – Produksi sampah di Kota Probolinggo, cukup besar. Namun, nanggung. Karenanya, sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bestari, kapasitasnya tidak mencukupi untuk diolah menjadi listrik.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo Rachmadeta Antariksa. Menurutnya, sampah yang masuk ke TPA Bestari, rata-rata setiap hari mencapai 70 ton. Angka ini sebenarnya besar, tapi nanggung jika akan dimanfaatkan untuk sumber energi listrik. “Untuk bisa membangun pembangkit listrik dari sampah, minimal dibutuhkan sampai 100 ton per hari,” ujarnya.

Dengan angka 70 ton per hari, sampah yang masuk ke TPA Bestari membuat kondisinya cepat penuh. Sel baru yang digunakan pada awal 2020, kini telah memiliki ketinggian 7-8 meter. “Pada 2019 dibuat sel baru dan digunakan pada Januari 2020 dengan kedalaman 2 meter. Saat ini ketinggian sampah yang menempati sel baru ini mencapai 7-8 meter,” ujarnya.

Jika akan membuat sel baru dibutuhkan anggaran sekitar Rp 4-5 miliar. “Kami berupaya mengurangi sampah yang masuk ke TPA Bestari dengan melibatkan mitra seperti dari Papesa. Namun, efektivitas pemilahan sampah ini hanya mengurangi 5 persen sampah yang masuk ke TPA,” jelasnya. (put/rud)

Mobile_AP_Rectangle 1

MAYANGAN, Radar Bromo – Produksi sampah di Kota Probolinggo, cukup besar. Namun, nanggung. Karenanya, sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bestari, kapasitasnya tidak mencukupi untuk diolah menjadi listrik.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo Rachmadeta Antariksa. Menurutnya, sampah yang masuk ke TPA Bestari, rata-rata setiap hari mencapai 70 ton. Angka ini sebenarnya besar, tapi nanggung jika akan dimanfaatkan untuk sumber energi listrik. “Untuk bisa membangun pembangkit listrik dari sampah, minimal dibutuhkan sampai 100 ton per hari,” ujarnya.

Dengan angka 70 ton per hari, sampah yang masuk ke TPA Bestari membuat kondisinya cepat penuh. Sel baru yang digunakan pada awal 2020, kini telah memiliki ketinggian 7-8 meter. “Pada 2019 dibuat sel baru dan digunakan pada Januari 2020 dengan kedalaman 2 meter. Saat ini ketinggian sampah yang menempati sel baru ini mencapai 7-8 meter,” ujarnya.

Mobile_AP_Half Page

Jika akan membuat sel baru dibutuhkan anggaran sekitar Rp 4-5 miliar. “Kami berupaya mengurangi sampah yang masuk ke TPA Bestari dengan melibatkan mitra seperti dari Papesa. Namun, efektivitas pemilahan sampah ini hanya mengurangi 5 persen sampah yang masuk ke TPA,” jelasnya. (put/rud)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2