alexametrics
28 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Mental Belum Matang Paling Banyak Latari Kasus Perceraian

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KADEMANGAN, Radar Bromo – Pengajuan dispensasi kawin ke Pengadilan Agama (PA) Probolinggo, masih bermunculan. Kini, tercatat ada 18 pengajuan yang masuk PA. Dari belasan pengajuan itu, 15 perkara sudah diputus. Permintaan dispensasi ini dilakukan lantaran usia calon pengantin masih di bawah umur.

Salah seorang hakim di PA Probolinggo Shobirin mengatakan, usia minimal perkawinan bagi calon mempelai perempuan berubah. Awalnya, minimal berusia 16 tahun. Namun, kini dinaikkan menjadi minimal 19 tahun. Sama dengan usia calon mempelai laki-laki. Hal itu sebagaimana diatur dalam UU Nomor 16/2019 tentang Perkawinan.

Karenanya, bila calon mempelai perempuan masih berusia di bawah 19 tahun, tidak diperbolehkan menikah. Sebab, masih di bawah umur. Kecuali, mendapatkan “restu” dari PA. “Dengan adanya perubahan usia inilah membuat pengajuan dispensasi kawin meningkat. Khususnya, pada 2020 hingga Maret 2021. Dari data yang masuk, ada 18 pengajuan,” ujarnya.

Meningkatnya pengajuan dispensasi kawin, menurutnya, ada beberapa faktor. Salah satunya karena malu. Yakni, ketika ada anak gadisnya yang kerap dibawa seorang lelaki. Karenanya, orang tua tak jarang menegaskan, jika memang suka terhadap anak gadisnya, sebaiknya dikawinkan. Daripada timbul fitnah atau malah terjadi hal yang kurang baik. “Biasanya pemikiran seperti itu terjadi pada orang-orang pedesaan. Untuk kota sangat jarang,” katanya.

Namun, ketika ada perempuan sedang hamil dan meminta dispensasi nikah, Shobirin mengatakan, pihaknya tak bisa mengabulkan. “Jika hamil duluan, kami tidak bisa mengkawinkanya. Sebab, tidak boleh seseorang menikah saat hamil. Mungkin kalau disiri masih bisa, tapi di pengadilan formal seperti PA belum,” jelasnya.

Dari 18 permohonan yang sudah masuk, satu perkara dicabut. Sedangkan, 15 perkara sudah diputus dan dua sisanya masih proses.

Yang paling penting, menurut Shobirin, adalah kematangan calon pengantin. Baik secara mental dan materi. Sebab, banyak perceraian dilatarbelakangi mental yang belum matang dalam mengurus rumah tangga. Termasuk tidak adanya materi.

“Jika belum matang mentalnya, apalagi tidak memiliki materi cukup, maka yang terjadi sedikit sedikit minta cerai,” ujarnya.

Ia berharap seluruh calon pengantin harus menyiapkan mental dan hal lainnya untuk melaju pernikahan. Sebab, menjalani pernikahan tidak mudah. Bagaimana saling memahami perbedaan karakter dan juga kebiasaan yang dibangun di lingkungan masing-masing. (rpd/rud)

Mobile_AP_Rectangle 1

KADEMANGAN, Radar Bromo – Pengajuan dispensasi kawin ke Pengadilan Agama (PA) Probolinggo, masih bermunculan. Kini, tercatat ada 18 pengajuan yang masuk PA. Dari belasan pengajuan itu, 15 perkara sudah diputus. Permintaan dispensasi ini dilakukan lantaran usia calon pengantin masih di bawah umur.

Salah seorang hakim di PA Probolinggo Shobirin mengatakan, usia minimal perkawinan bagi calon mempelai perempuan berubah. Awalnya, minimal berusia 16 tahun. Namun, kini dinaikkan menjadi minimal 19 tahun. Sama dengan usia calon mempelai laki-laki. Hal itu sebagaimana diatur dalam UU Nomor 16/2019 tentang Perkawinan.

Karenanya, bila calon mempelai perempuan masih berusia di bawah 19 tahun, tidak diperbolehkan menikah. Sebab, masih di bawah umur. Kecuali, mendapatkan “restu” dari PA. “Dengan adanya perubahan usia inilah membuat pengajuan dispensasi kawin meningkat. Khususnya, pada 2020 hingga Maret 2021. Dari data yang masuk, ada 18 pengajuan,” ujarnya.

Mobile_AP_Half Page

Meningkatnya pengajuan dispensasi kawin, menurutnya, ada beberapa faktor. Salah satunya karena malu. Yakni, ketika ada anak gadisnya yang kerap dibawa seorang lelaki. Karenanya, orang tua tak jarang menegaskan, jika memang suka terhadap anak gadisnya, sebaiknya dikawinkan. Daripada timbul fitnah atau malah terjadi hal yang kurang baik. “Biasanya pemikiran seperti itu terjadi pada orang-orang pedesaan. Untuk kota sangat jarang,” katanya.

Namun, ketika ada perempuan sedang hamil dan meminta dispensasi nikah, Shobirin mengatakan, pihaknya tak bisa mengabulkan. “Jika hamil duluan, kami tidak bisa mengkawinkanya. Sebab, tidak boleh seseorang menikah saat hamil. Mungkin kalau disiri masih bisa, tapi di pengadilan formal seperti PA belum,” jelasnya.

Dari 18 permohonan yang sudah masuk, satu perkara dicabut. Sedangkan, 15 perkara sudah diputus dan dua sisanya masih proses.

Yang paling penting, menurut Shobirin, adalah kematangan calon pengantin. Baik secara mental dan materi. Sebab, banyak perceraian dilatarbelakangi mental yang belum matang dalam mengurus rumah tangga. Termasuk tidak adanya materi.

“Jika belum matang mentalnya, apalagi tidak memiliki materi cukup, maka yang terjadi sedikit sedikit minta cerai,” ujarnya.

Ia berharap seluruh calon pengantin harus menyiapkan mental dan hal lainnya untuk melaju pernikahan. Sebab, menjalani pernikahan tidak mudah. Bagaimana saling memahami perbedaan karakter dan juga kebiasaan yang dibangun di lingkungan masing-masing. (rpd/rud)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2