alexametrics
28 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Dibanding Jembatan Kaca Seruni Point, Warga Tengger Lebih Butuh Air

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

SUKAPURA, Radar Bromo – Pembangunan jembatan kaca di kawasan wisata Seruni Point, Kecamatan Sukapura, akan direalisasikan tahun ini. Makin dekatnya realisasi, membuat aspirasi suku Tengger yang lebih membutuhkan air bersih kembali mencuat.

Aspirasi itu bahkan sempat muncul di media sosial (medsos). Akun Nenek Tua Asli Suku Tengger mem-posting, warga tengger lebih membutuhkan air bersih dibanding jembatan kaca.

Supoyo, tokoh Suku Tengger membenarkan aspirasi itu. Menurutnya, ribuan warga Tengger selama ini sangat bergantung pada pasokan air bersih dari Gunung Ayeg-Ayeg di Kabupaten Lumajang.

Air bersih itu disalurkan melalui pipa dengan panjang 30 kilometer menuju perkampungan Suku Tengger di Kecamatan Sukapura. Namun, debitnya tak selalu lancar.

Gangguan pasokan air yang sumbernya terletak antara Ranu Pani dan Ranu Kumbolo itu sering terjadi. Semisal karena pipa paralon pecah. Kadang pula terkena imbas kebakaran hutan di sekitar Bromo.

Puncaknya, kekurangan air sangat dirasakan warga Tengger saat musim kemarau. Biasanya, krisis air bersih terjadi.

“Tapi proyek (jembatan kaca) itu kan top down dari pusat ke daerah, ya sudah kami terima. Seandainya kami diajak diskusi, maka kami pasti akan lebih memilih dibangunkan saluran air bersih. Baik untuk kebutuhan warga maupun wisata,” kata politisi Partai Nasdem itu.

Supoyo mengungkapkan, polemik pembangunan jembatan kaca di kawasan Wisata Bromo sudah tersampaikan ke Kementerian PUPR. Bahkan, permasalahan ini menjadi prioritas pembangunan seiring dengan proyek jembatan kaca. Sebab, kawasan Bromo menjadi Kawasan Strategis Pembangunan Nasional (KSPN).

“Kami warga Tengger sebenarnya tidak menolak jembatan kaca, karena memang itu program dari atas ke bawah. Namun, kami juga sampaikan bahwa kami butuh air bersih saat ini. Jadi, pembangunan penyediaan air bersih itu memang perlu diprioritaskan juga,” ungkapnya.

Supoyo menambahkan, dirinya bahkan sudah bertemu dengan perwakilan dari Kementerian PUPR. Dalam pertemuan itu, dia menyampaikan dua alternatif tentang pemenuhan air bersih di kawasan Bromo.

Pertama, memenuhi kebutuhan air bersih warga Tengger dengan cara mengambil air dari Kabupaten Lumajang yang jaraknya sekitar 30 kilometer. Lalu, air bersih itu dialirkan ke kawasan Ngadisari dan sekitarnya.

Alternatif kedua, pembangunan embung di kawasan lahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). “Nanti mana yang mau diterapkan, itu tergantung Kementerian PUPR. Yang pasti, ini akan dibangun dalam waktu dekat karena pokok permasalahan ini juga sudah sampai ke tingkat Kementerian PUPR,” paparnya.

Kepala Disperkim Kabupaten Probolinggo Prijono saat dikonfirmasi menegaskan, warga Tengger tidak menolak pembangunan jembatan gantung (jembatan kaca, Red). Namun, warga Tengger juga berharap agar kebutuhan mereka akan air bersih juga diperhatikan.

Pemerintah daerah pun sudah menyampaikan rencana untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan Bromo itu ke pemerintah pusat. Salah satunya dengan membangun Embung di kawasan TNBTS.

“Semoga aja di tahun ini ada kabar kelanjutan untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan Bromo,” katanya. (mas/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

SUKAPURA, Radar Bromo – Pembangunan jembatan kaca di kawasan wisata Seruni Point, Kecamatan Sukapura, akan direalisasikan tahun ini. Makin dekatnya realisasi, membuat aspirasi suku Tengger yang lebih membutuhkan air bersih kembali mencuat.

Aspirasi itu bahkan sempat muncul di media sosial (medsos). Akun Nenek Tua Asli Suku Tengger mem-posting, warga tengger lebih membutuhkan air bersih dibanding jembatan kaca.

Supoyo, tokoh Suku Tengger membenarkan aspirasi itu. Menurutnya, ribuan warga Tengger selama ini sangat bergantung pada pasokan air bersih dari Gunung Ayeg-Ayeg di Kabupaten Lumajang.

Mobile_AP_Half Page

Air bersih itu disalurkan melalui pipa dengan panjang 30 kilometer menuju perkampungan Suku Tengger di Kecamatan Sukapura. Namun, debitnya tak selalu lancar.

Gangguan pasokan air yang sumbernya terletak antara Ranu Pani dan Ranu Kumbolo itu sering terjadi. Semisal karena pipa paralon pecah. Kadang pula terkena imbas kebakaran hutan di sekitar Bromo.

Puncaknya, kekurangan air sangat dirasakan warga Tengger saat musim kemarau. Biasanya, krisis air bersih terjadi.

“Tapi proyek (jembatan kaca) itu kan top down dari pusat ke daerah, ya sudah kami terima. Seandainya kami diajak diskusi, maka kami pasti akan lebih memilih dibangunkan saluran air bersih. Baik untuk kebutuhan warga maupun wisata,” kata politisi Partai Nasdem itu.

Supoyo mengungkapkan, polemik pembangunan jembatan kaca di kawasan Wisata Bromo sudah tersampaikan ke Kementerian PUPR. Bahkan, permasalahan ini menjadi prioritas pembangunan seiring dengan proyek jembatan kaca. Sebab, kawasan Bromo menjadi Kawasan Strategis Pembangunan Nasional (KSPN).

“Kami warga Tengger sebenarnya tidak menolak jembatan kaca, karena memang itu program dari atas ke bawah. Namun, kami juga sampaikan bahwa kami butuh air bersih saat ini. Jadi, pembangunan penyediaan air bersih itu memang perlu diprioritaskan juga,” ungkapnya.

Supoyo menambahkan, dirinya bahkan sudah bertemu dengan perwakilan dari Kementerian PUPR. Dalam pertemuan itu, dia menyampaikan dua alternatif tentang pemenuhan air bersih di kawasan Bromo.

Pertama, memenuhi kebutuhan air bersih warga Tengger dengan cara mengambil air dari Kabupaten Lumajang yang jaraknya sekitar 30 kilometer. Lalu, air bersih itu dialirkan ke kawasan Ngadisari dan sekitarnya.

Alternatif kedua, pembangunan embung di kawasan lahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). “Nanti mana yang mau diterapkan, itu tergantung Kementerian PUPR. Yang pasti, ini akan dibangun dalam waktu dekat karena pokok permasalahan ini juga sudah sampai ke tingkat Kementerian PUPR,” paparnya.

Kepala Disperkim Kabupaten Probolinggo Prijono saat dikonfirmasi menegaskan, warga Tengger tidak menolak pembangunan jembatan gantung (jembatan kaca, Red). Namun, warga Tengger juga berharap agar kebutuhan mereka akan air bersih juga diperhatikan.

Pemerintah daerah pun sudah menyampaikan rencana untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan Bromo itu ke pemerintah pusat. Salah satunya dengan membangun Embung di kawasan TNBTS.

“Semoga aja di tahun ini ada kabar kelanjutan untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan Bromo,” katanya. (mas/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2