alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

SMPN 10 Raih MBS Award Bidang Tata Kelola Berkat Penuhi Kebutuhan Siswa dengan Pantau via Smartphone

Pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMPN 10 Kota Probolinggo terfokus pada pemenuhan kebutuhan siswa. Keputusan ini mendapat apresiasi dari Disdikpora Kota Probolinggo. Melalui ajang MBS Award Berbasis Mutu 2019, SMPN 10 menjadi juara pertama dalam Kategori Tata Kelola Sistem Pengelolaan Dana (Sipena BOS).

—————–

Alokasi dana BOS di SMPN 10 Kota Probolinggo benar-benar dialokasikan untuk anak didik. Seperti untuk kebutuhan bahan bacaan sampai kegiatan ekstrakurikuler.

Karenanya, tak heran jika di sekolah ini banyak ditemukan buku-buku bacaan. Bukan hanya di perpustakaan, tapi juga di setiap kelas disediakan beragam buku bacaan. Lokasi ini disebut pojok literasi.

“Buku pelajaran dan buku bacaan itu salah satu komponen fasilitas terpenting. Selain perpustakaan, buku bacaan juga ada di dalam kelas masing-masing,” ujar Kepala SMPN 10 Kota Probolinggo Kamsi Arianto, Sabtu (16/11).

Melalui pojok literasi ini, anak didik bisa menambah ilmu pengetahuannya tanpa harus ke perpustakaan. Pihak sekolah juga mengalokasikan anggaran yang cukup untuk memenuhi sejumlah buku di sudut baca itu.

SENI-BUDAYA: Siswa SMPN 10 saat menari. (Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

 

“Kebutuhan anak menjadi yang utama bagi pengalokasian anggaran. Salah satunya pengadaan buku, karena pentingnya membiasakan anak untuk membaca buku. Setidaknya, sekolah memberikan waktu 15 menit bagi anak untuk membaca sebelum masuk,” ujar Kamsi.

Sekolah yang memiliki 21 ruang kelas ini juga memiliki Aula Kreatif. Fungsinya, memberikan tempat bagi anak didik untuk menampilkan bakat saat ada perlombaan maupun saat sedang berlatih.

Selain itu, Aula Kreatif ini juga menjadi tempat anak untuk bisa bermain saat istirahat berlangsung. “Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan juga dilakukan pada anak. Khususnya, dalam membangun bakat anak. Selain ekstrakurikuler seperti pramuka dan ekstrakurikuler lainnya, sekolah juga memiliki ekstrakurikuler tari yang biasa disebut Tari Bujang Ganong,” jelasnya.

Kamsi mengatakan, dalam meningkatkan mutu pendidikan, terutama pada kualitas pembelajaran, pihaknya menyerahkan sepenuhnya terhadap wali kelas. Mereka diberi kebebasan untuk berinovasi, namun tetap dikontrol oleh kepala sekolah.

Karenanya, setiap proses belajar mengajar tidak luput dari kontrol kepala sekolah. Kotrol Itu dibuktikan Kamsi dengan memperlihatkan aplikasi SIAR atau sarana pengontrol jurnal laporan mengajar dan absensi guru melalui smartphone.

“Meski saya sedang ada tugas sekolah di luar kota, saya juga bisa mengontrol kehadiran guru di kelas. Selain absensi, jurnal laporan pembelajaran juga saya ketahui. Sehingga, apa yang dipelajari dan guru mana yang tidak masuk akan bisa terus dipantau hanya menggunakan smartphone,” ujarnya. (mg1/rud/fun)

Pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMPN 10 Kota Probolinggo terfokus pada pemenuhan kebutuhan siswa. Keputusan ini mendapat apresiasi dari Disdikpora Kota Probolinggo. Melalui ajang MBS Award Berbasis Mutu 2019, SMPN 10 menjadi juara pertama dalam Kategori Tata Kelola Sistem Pengelolaan Dana (Sipena BOS).

—————–

Alokasi dana BOS di SMPN 10 Kota Probolinggo benar-benar dialokasikan untuk anak didik. Seperti untuk kebutuhan bahan bacaan sampai kegiatan ekstrakurikuler.

Karenanya, tak heran jika di sekolah ini banyak ditemukan buku-buku bacaan. Bukan hanya di perpustakaan, tapi juga di setiap kelas disediakan beragam buku bacaan. Lokasi ini disebut pojok literasi.

“Buku pelajaran dan buku bacaan itu salah satu komponen fasilitas terpenting. Selain perpustakaan, buku bacaan juga ada di dalam kelas masing-masing,” ujar Kepala SMPN 10 Kota Probolinggo Kamsi Arianto, Sabtu (16/11).

Melalui pojok literasi ini, anak didik bisa menambah ilmu pengetahuannya tanpa harus ke perpustakaan. Pihak sekolah juga mengalokasikan anggaran yang cukup untuk memenuhi sejumlah buku di sudut baca itu.

SENI-BUDAYA: Siswa SMPN 10 saat menari. (Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

 

“Kebutuhan anak menjadi yang utama bagi pengalokasian anggaran. Salah satunya pengadaan buku, karena pentingnya membiasakan anak untuk membaca buku. Setidaknya, sekolah memberikan waktu 15 menit bagi anak untuk membaca sebelum masuk,” ujar Kamsi.

Sekolah yang memiliki 21 ruang kelas ini juga memiliki Aula Kreatif. Fungsinya, memberikan tempat bagi anak didik untuk menampilkan bakat saat ada perlombaan maupun saat sedang berlatih.

Selain itu, Aula Kreatif ini juga menjadi tempat anak untuk bisa bermain saat istirahat berlangsung. “Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan juga dilakukan pada anak. Khususnya, dalam membangun bakat anak. Selain ekstrakurikuler seperti pramuka dan ekstrakurikuler lainnya, sekolah juga memiliki ekstrakurikuler tari yang biasa disebut Tari Bujang Ganong,” jelasnya.

Kamsi mengatakan, dalam meningkatkan mutu pendidikan, terutama pada kualitas pembelajaran, pihaknya menyerahkan sepenuhnya terhadap wali kelas. Mereka diberi kebebasan untuk berinovasi, namun tetap dikontrol oleh kepala sekolah.

Karenanya, setiap proses belajar mengajar tidak luput dari kontrol kepala sekolah. Kotrol Itu dibuktikan Kamsi dengan memperlihatkan aplikasi SIAR atau sarana pengontrol jurnal laporan mengajar dan absensi guru melalui smartphone.

“Meski saya sedang ada tugas sekolah di luar kota, saya juga bisa mengontrol kehadiran guru di kelas. Selain absensi, jurnal laporan pembelajaran juga saya ketahui. Sehingga, apa yang dipelajari dan guru mana yang tidak masuk akan bisa terus dipantau hanya menggunakan smartphone,” ujarnya. (mg1/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/