alexametrics
30.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Enggan Dimakamkan Covid, Warga Ambil Paksa Jenazah di RSUD Moh Saleh

MAYANGAN,  Radar Bromo-Ketegangan sempat terjadi di RSUD Moch Saleh Kota Probolinggo, Minggu (18/7) pagi. Pasalnya,  puluhan warga nekat ambil paksa jenazah pasien bernama Mitaminah asal Mayangan.

Keluarga pasien tidak terima lantaran jenazah hendak dimakamkan sesuai protokol covid. Keluarga pun menjemput paksa jenazah dengan naik motor roda tiga.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, Ketegangan itu terjadi sekitar pukul 07.00. Sejumlah petugas medis dan petugas keamanan yang berada di lokasi tidak bisa berbuat banyak. Meski melihat almarhumah dibawa menggunakan kendaraan roda tiga.

Salah seorang kerabat almarhumah Pripto, 35, mengatakan, almarhumah mengidap penyakit jantung. Pihak keluarga tidak terima ketika jenazahnya akan diurus dengan prosedur covid.

“Infonya hasil swab-nya negatif. Terus kenapa kok mau dimakamkan secara prosedur Covid? Jelas pihak keluarga tidak terima. Memilih menjemput dengan kendaraan sendiri,” ujar Pripto sebelum meninggalkan rumah sakit.

Terkait permasalahan ini, sejumlah petugas medis di rumah sakit enggan memberikan keterangan. Salah satu di antara mereka menyatakan masalah ini akan dijelaskan oleh humas atau langsung direktur. “Nanti langsung dari humas saja,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Plt Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh Abraar HS Kuddah juga enggan memberikan keterangan detail. Ia tak merespons sambungan telepon dari Jawa Pos Radar Bromo. Ia hanya menjawab melalui pesan WhatsApp. “Biasa. Orang-orang memang begitu. Sabar lak wis,” tulisnya tanpa memberikan penjelasan lanjutan terkait dengan permasalahan di atas.

Sementara itu, Kapolsek Mayangan Kompol Eko Hari Suprapto menjelaskan, masalah ini hanya karena salah paham. Ketika almarhumah di-swab awal hasilnya negatif. Namun, hasil rontgen toraks di paru-parunya terindikasi terjangkit Covid-19. Karenanya, tim medis mengikuti prosedur korona.

“Tim medis meyakini itu bagian dari Covid. Pihak keluarga tidak tahu itu. Sebab, yang dipegang adalah hasil swab yang negatif atau nonreaktif itu,” jelasnya.

Eko mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pihaknya sudah berupaya memberikan penjelasan terhadap keluarga almarhumah. Tetapi, sejumlah keluarga lainnya tidak terima. Kemudian, ada yang membawa kendaraan roda tiga untuk mengangkut jenazah almarhumah.

“Kami masih koordinasi dengan pihak kelurahan juga untuk memberikan pemahaman kepada warga,” ujar Eko.

Informasinya, kata Eko, almarhumah memang mengidap penyakit jantung. Sudah sekitar empat bulan menjalani perawatan di rumah. Namun, sejak Jumat (16/7), kondisinya memburuk kemudian dilarikan ke IGD RSUD dr. Mohamad Saleh. Kemarin, sekitar pukul 06.35, meninggal dunia. (rpd/rud)

 

MAYANGAN,  Radar Bromo-Ketegangan sempat terjadi di RSUD Moch Saleh Kota Probolinggo, Minggu (18/7) pagi. Pasalnya,  puluhan warga nekat ambil paksa jenazah pasien bernama Mitaminah asal Mayangan.

Keluarga pasien tidak terima lantaran jenazah hendak dimakamkan sesuai protokol covid. Keluarga pun menjemput paksa jenazah dengan naik motor roda tiga.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, Ketegangan itu terjadi sekitar pukul 07.00. Sejumlah petugas medis dan petugas keamanan yang berada di lokasi tidak bisa berbuat banyak. Meski melihat almarhumah dibawa menggunakan kendaraan roda tiga.

Salah seorang kerabat almarhumah Pripto, 35, mengatakan, almarhumah mengidap penyakit jantung. Pihak keluarga tidak terima ketika jenazahnya akan diurus dengan prosedur covid.

“Infonya hasil swab-nya negatif. Terus kenapa kok mau dimakamkan secara prosedur Covid? Jelas pihak keluarga tidak terima. Memilih menjemput dengan kendaraan sendiri,” ujar Pripto sebelum meninggalkan rumah sakit.

Terkait permasalahan ini, sejumlah petugas medis di rumah sakit enggan memberikan keterangan. Salah satu di antara mereka menyatakan masalah ini akan dijelaskan oleh humas atau langsung direktur. “Nanti langsung dari humas saja,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Plt Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh Abraar HS Kuddah juga enggan memberikan keterangan detail. Ia tak merespons sambungan telepon dari Jawa Pos Radar Bromo. Ia hanya menjawab melalui pesan WhatsApp. “Biasa. Orang-orang memang begitu. Sabar lak wis,” tulisnya tanpa memberikan penjelasan lanjutan terkait dengan permasalahan di atas.

Sementara itu, Kapolsek Mayangan Kompol Eko Hari Suprapto menjelaskan, masalah ini hanya karena salah paham. Ketika almarhumah di-swab awal hasilnya negatif. Namun, hasil rontgen toraks di paru-parunya terindikasi terjangkit Covid-19. Karenanya, tim medis mengikuti prosedur korona.

“Tim medis meyakini itu bagian dari Covid. Pihak keluarga tidak tahu itu. Sebab, yang dipegang adalah hasil swab yang negatif atau nonreaktif itu,” jelasnya.

Eko mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pihaknya sudah berupaya memberikan penjelasan terhadap keluarga almarhumah. Tetapi, sejumlah keluarga lainnya tidak terima. Kemudian, ada yang membawa kendaraan roda tiga untuk mengangkut jenazah almarhumah.

“Kami masih koordinasi dengan pihak kelurahan juga untuk memberikan pemahaman kepada warga,” ujar Eko.

Informasinya, kata Eko, almarhumah memang mengidap penyakit jantung. Sudah sekitar empat bulan menjalani perawatan di rumah. Namun, sejak Jumat (16/7), kondisinya memburuk kemudian dilarikan ke IGD RSUD dr. Mohamad Saleh. Kemarin, sekitar pukul 06.35, meninggal dunia. (rpd/rud)

 

MOST READ

BERITA TERBARU