alexametrics
30.6 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Polemik KSU Mitra Perkasa, Nasabah Terbagi dalam Tiga Golongan

KANIGARAN, Radar Bromo – Polemik yang melanda KSU Mitra Perkasa, Kota Probolinggo, tak kunjung rampung. Terutama terkait posisi duit nasabah. Meski sudah ada putusan Mahkamah Agung (MA) bernomor 576K/Pdt/2020.

Sejumlah nasabah berharap pihak KSU Mitra Perkasa bisa duduk bareng Ketua KSU Mitra Perkasa Welly Sukarto dan Zulkifli Chalik. Tujuannya, agar duit nasabah bisa kembali meski tidak sepenuhnya. Hal itu disampaikan dalam pers rilis Ketua KSU Mitra Perkasa Welly Sukarto bersama sejumlah perwakilan kreditur di rumah Welly, di Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Rabu (17/2).

Seperti yang diungkapkan Yunus, 45, nasabah asal Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Menurutnya, dari total 5,7 ribu nasabah atau kreditur di KSU Mitra Perkasa, masalah keinginan agar pihak yang melakukan pailit mencabut atau segera bertindak agar kurator dapat segera bertugas menyelesaikan perkara atau segera dilakukan eksekusi, terbagi menjadi tiga kelompok.

“Ada kelompok yang menolak agar kepalitan ini dicabut. Ada kelompok yang mendukung agar segera selesai. Juga ada kelompok yang tidak percaya kedua belah pihak. Karena menganggap pihak Welly dan Zul (Zulkifli) bekerja sama atau bersandiwara agar uang nasabah tidak kembali,” ujarnya.

Namun, ia mengaku mendukung agar kepailitan ini segera ditindaklanjuti, sehingga kurator bisa bekerja dan segera dieksekusi. Sebab, hasil putusan MA jelas. “Pak Zul punya tagihan. Yang terpenting bagi saya uang saya kembali, itu saja,” katanya.

Menurutnya, daripada menunggu lama, sedangkan putusan MA sudah jelas, pihaknya berharap pihak kreditur, ketua, dan Zulkifli, segera duduk bersama. Menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.

“Jika masih menunggu PK (peninjauan kembali) akan lama. Misalkan, PK Pak Zul menang, maka Pak Welly juga PK, Ini tidak ada habisnya. Jadi, punya uang berapa, biar dibagi meski seluruh kreditur tidak menerima uangnya seratus persen,” jelasnya.

Ketua KSU Mitra Perkasa Welly Sukarto mengakui bersama kreditur berharap bisa duduk bersama. “Saya bersedia yang penting utang tetap dibayar. Saya bersedia duduk bersama untuk membahas uang nasabah bersama,” ujarnya.

Sesuai putusan MA, total duit yang harus dibayarkan Zulkifli mencapai Rp 146.984.403.734,00. Dari angka itu ditambahkan 6 persen selama dua tahun perkara ini berlangsung. “Jika kami hitung tambahnya sekitar Rp 14 miliar. Jadi, kurang lebih sekitar Rp 155 miliar sekian,” ujarnya.

Welly mengatakan, jika memang Zulkifli tidak berkenan, pihaknya akan tetap melanjutkan ke ranah hukum. “Seandainya ajakan duduk bareng ditolak, terserah. Upaya hukum adalah upaya yang terakhir. Jika memang tidak bisa duduk bersama dengan kreditur, saya akan melanjutkan sesuai hukum,” katanya. (rpd/rud)

KANIGARAN, Radar Bromo – Polemik yang melanda KSU Mitra Perkasa, Kota Probolinggo, tak kunjung rampung. Terutama terkait posisi duit nasabah. Meski sudah ada putusan Mahkamah Agung (MA) bernomor 576K/Pdt/2020.

Sejumlah nasabah berharap pihak KSU Mitra Perkasa bisa duduk bareng Ketua KSU Mitra Perkasa Welly Sukarto dan Zulkifli Chalik. Tujuannya, agar duit nasabah bisa kembali meski tidak sepenuhnya. Hal itu disampaikan dalam pers rilis Ketua KSU Mitra Perkasa Welly Sukarto bersama sejumlah perwakilan kreditur di rumah Welly, di Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Rabu (17/2).

Seperti yang diungkapkan Yunus, 45, nasabah asal Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Menurutnya, dari total 5,7 ribu nasabah atau kreditur di KSU Mitra Perkasa, masalah keinginan agar pihak yang melakukan pailit mencabut atau segera bertindak agar kurator dapat segera bertugas menyelesaikan perkara atau segera dilakukan eksekusi, terbagi menjadi tiga kelompok.

“Ada kelompok yang menolak agar kepalitan ini dicabut. Ada kelompok yang mendukung agar segera selesai. Juga ada kelompok yang tidak percaya kedua belah pihak. Karena menganggap pihak Welly dan Zul (Zulkifli) bekerja sama atau bersandiwara agar uang nasabah tidak kembali,” ujarnya.

Namun, ia mengaku mendukung agar kepailitan ini segera ditindaklanjuti, sehingga kurator bisa bekerja dan segera dieksekusi. Sebab, hasil putusan MA jelas. “Pak Zul punya tagihan. Yang terpenting bagi saya uang saya kembali, itu saja,” katanya.

Menurutnya, daripada menunggu lama, sedangkan putusan MA sudah jelas, pihaknya berharap pihak kreditur, ketua, dan Zulkifli, segera duduk bersama. Menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.

“Jika masih menunggu PK (peninjauan kembali) akan lama. Misalkan, PK Pak Zul menang, maka Pak Welly juga PK, Ini tidak ada habisnya. Jadi, punya uang berapa, biar dibagi meski seluruh kreditur tidak menerima uangnya seratus persen,” jelasnya.

Ketua KSU Mitra Perkasa Welly Sukarto mengakui bersama kreditur berharap bisa duduk bersama. “Saya bersedia yang penting utang tetap dibayar. Saya bersedia duduk bersama untuk membahas uang nasabah bersama,” ujarnya.

Sesuai putusan MA, total duit yang harus dibayarkan Zulkifli mencapai Rp 146.984.403.734,00. Dari angka itu ditambahkan 6 persen selama dua tahun perkara ini berlangsung. “Jika kami hitung tambahnya sekitar Rp 14 miliar. Jadi, kurang lebih sekitar Rp 155 miliar sekian,” ujarnya.

Welly mengatakan, jika memang Zulkifli tidak berkenan, pihaknya akan tetap melanjutkan ke ranah hukum. “Seandainya ajakan duduk bareng ditolak, terserah. Upaya hukum adalah upaya yang terakhir. Jika memang tidak bisa duduk bersama dengan kreditur, saya akan melanjutkan sesuai hukum,” katanya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/