alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 28 May 2022

Motif 2 Tersangka Korupsi Retribusi Pasar untuk Memperkaya Diri

KANIGARAN, Radar Bromo – Dua tersangka kasus dugaan korupsi retribusi pasar sudah dititipkan kejaksaan di Lapas IIB Probolinggo. Keduanya yang merupakan ASN di UPT pasar, ditahan untuk kepentingan penyidikan. Atas perbuatan tersangka, negara diduga mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

Adapun kedua ASN tersebut yakni Moch Arif Billah (MAB) selaku mantan Kepala UPT Pasar dan juga Didik Djoko Winarno (DDW) selaku pemungut retribusi di Pasar Baru. Kejaksaan menduga, perbuatan keduanya melakukan korupsi retribusi pasar untuk memperkaya diri.

Hal ini ditegaskan Kasi Intel Kejaksaan Negeri Kota Probolinggo Benny Bryandono. Dia menerangkan bahwa kasus penyelewengan retribusi Pasar Wonoasih dan juga penjualan bedak atau petak di Pasar Kronong, ada dua orang yang dianggap paling bertanggung jawab. Oleh karenanya usai dilakukan kajian mendalam dan pencarian fakta, maka keduanya ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan di Lapas IIB Probolinggo.

Modusnya jelas, yakni untuk memperkaya diri sendiri dengan cara tidak menyetorkan sebagian pendapatan retribusi. Akibatnya negara mengalami kerugian sebesar Rp 426 juta atas retribusi dan juga penjualan bedak tersebut.

Menurut Benny untuk Didik Djoko Winarno yang merupakan staf Moch Arif Billah (MAB) di bagian pungutan. Dia merupakan bawahan MAB. Pria yang akrab disapa Didik Tambeng itu juga menyetorkan kepada MAA.

“Jadi dia (Didik Tambeng) bagian yang memungut uangnya. Dia juga nyetor ke atasannya (MAB),” singkat Benny.

Usai penahanan kedua tersangka, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kota Probolinggo, langsung melakukan evaluasi. Bahkan dijadikan bahan pelajaran, agar kasus serupa tidak terulang.

Kepala DKUPP Kota Probolinggo Firiawati Jufri membenarkan, jika Didik Tambeng merupakan staf bagian pungutan di Pasar Baru. Didik Tambeng juga tercacat sebagai ASN, sama seperti Moch Arif Billah yang sebelumnya menjabat sebagai kepala UPT Pasar.

“Jadi untuk Didik ini bertugas sebagai pemungut retribusi di Pasar Baru. Tiap pasar ada pemungutnya sendiri dan jumlahnya berbeda, tergantung besar kecilnya pasar,” katanya.

Atas kasus yang menimpa dua ASN yang berada di UPT Pasar yang berada di bawah DKUPP, menjadikan pembelajaran tersendiri bagi lainnya. Selain itu juga saat ini pihaknya sedang melakukan sejumlah pembenahan. Termasuk menggandeng pihak ketiga agar pembayaran retribusi dilakukan secara nontunai.

Kasus Korupsi Retribusi Pasar Probolinggo, 2 PNS Tersangka

“Ini jadi pembelajaran bagi kami semua. Serta saat ini kami juga sedang melakukan pembenahan,” katanya.

Ditanya masalah kinerja UPT pasca ditinggalkan dua ASN, perempuan yang akrab disapa Fitri itu menerangkan bahwa tidak menjadi persoalan yang besar. Pasalnya setelah MAB dinonaktifkan, maka jabatan sementara diisi oleh PLH yakni Dwi Yani yang juga menjabat sebagai Kasubbag Keuangan DKUPP pada 25 September lalu. Sementara untuk pemungut di Pasar Baru sendiri bisa digantikan pemungut lainnya. Mengingat di Pasar Baru sendiri ada sekitar 5 pemungut.

“Untuk kinerja UPT yang membawahi 11 pasar, saya pikir tidak ada masalah sebab sudah ada PLH-nya. Selain itu untuk bagian pemungutan bisa digantikan dengan lainnya. Mengingat pemungut di Pasar Baru ada beberapa,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kejari Kota Probolinggo menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi retribusi pasar Wonoasih dan penjualan bedak di Pasar Kronong. Keduanya berstatus PNS Pemkot Probolinggo. Salah satu tersangkanya yaitu Mantan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar berinisial MAB, dan satu lagi DDW.

Keduanya diperiksa dan langsung ditetapkan sebagai tersangka, Selasa (16/2). Mereka diperiksa di ruangan Kasi Pidsus di lantai 2 kantor Kejari, sejak pukul 12.00 sampai 18.30. Begitu selesai diperiksa, keduanya digiring ke mobil tahanan Kejari dengan tangan diborgol dan memakai rompi tahanan kejari berwarna merah. Mereka lantas ditahan di Lapas IIB Probolinggo sebagai tahanan titipan kejaksaan.

Atas dugaan pelanggaran itu, keduanya diancam kurungan 4 tahun dan satu tahun. untuk pelanggaran pasal 2 dan 12(e), ancaman hukumannya 4 tahun penjara. Sedangkan melanggar pasal 3, diancam kurungan 1 tahun penjara. (rpd/fun)

KANIGARAN, Radar Bromo – Dua tersangka kasus dugaan korupsi retribusi pasar sudah dititipkan kejaksaan di Lapas IIB Probolinggo. Keduanya yang merupakan ASN di UPT pasar, ditahan untuk kepentingan penyidikan. Atas perbuatan tersangka, negara diduga mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

Adapun kedua ASN tersebut yakni Moch Arif Billah (MAB) selaku mantan Kepala UPT Pasar dan juga Didik Djoko Winarno (DDW) selaku pemungut retribusi di Pasar Baru. Kejaksaan menduga, perbuatan keduanya melakukan korupsi retribusi pasar untuk memperkaya diri.

Hal ini ditegaskan Kasi Intel Kejaksaan Negeri Kota Probolinggo Benny Bryandono. Dia menerangkan bahwa kasus penyelewengan retribusi Pasar Wonoasih dan juga penjualan bedak atau petak di Pasar Kronong, ada dua orang yang dianggap paling bertanggung jawab. Oleh karenanya usai dilakukan kajian mendalam dan pencarian fakta, maka keduanya ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan di Lapas IIB Probolinggo.

Modusnya jelas, yakni untuk memperkaya diri sendiri dengan cara tidak menyetorkan sebagian pendapatan retribusi. Akibatnya negara mengalami kerugian sebesar Rp 426 juta atas retribusi dan juga penjualan bedak tersebut.

Menurut Benny untuk Didik Djoko Winarno yang merupakan staf Moch Arif Billah (MAB) di bagian pungutan. Dia merupakan bawahan MAB. Pria yang akrab disapa Didik Tambeng itu juga menyetorkan kepada MAA.

“Jadi dia (Didik Tambeng) bagian yang memungut uangnya. Dia juga nyetor ke atasannya (MAB),” singkat Benny.

Usai penahanan kedua tersangka, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kota Probolinggo, langsung melakukan evaluasi. Bahkan dijadikan bahan pelajaran, agar kasus serupa tidak terulang.

Kepala DKUPP Kota Probolinggo Firiawati Jufri membenarkan, jika Didik Tambeng merupakan staf bagian pungutan di Pasar Baru. Didik Tambeng juga tercacat sebagai ASN, sama seperti Moch Arif Billah yang sebelumnya menjabat sebagai kepala UPT Pasar.

“Jadi untuk Didik ini bertugas sebagai pemungut retribusi di Pasar Baru. Tiap pasar ada pemungutnya sendiri dan jumlahnya berbeda, tergantung besar kecilnya pasar,” katanya.

Atas kasus yang menimpa dua ASN yang berada di UPT Pasar yang berada di bawah DKUPP, menjadikan pembelajaran tersendiri bagi lainnya. Selain itu juga saat ini pihaknya sedang melakukan sejumlah pembenahan. Termasuk menggandeng pihak ketiga agar pembayaran retribusi dilakukan secara nontunai.

Kasus Korupsi Retribusi Pasar Probolinggo, 2 PNS Tersangka

“Ini jadi pembelajaran bagi kami semua. Serta saat ini kami juga sedang melakukan pembenahan,” katanya.

Ditanya masalah kinerja UPT pasca ditinggalkan dua ASN, perempuan yang akrab disapa Fitri itu menerangkan bahwa tidak menjadi persoalan yang besar. Pasalnya setelah MAB dinonaktifkan, maka jabatan sementara diisi oleh PLH yakni Dwi Yani yang juga menjabat sebagai Kasubbag Keuangan DKUPP pada 25 September lalu. Sementara untuk pemungut di Pasar Baru sendiri bisa digantikan pemungut lainnya. Mengingat di Pasar Baru sendiri ada sekitar 5 pemungut.

“Untuk kinerja UPT yang membawahi 11 pasar, saya pikir tidak ada masalah sebab sudah ada PLH-nya. Selain itu untuk bagian pemungutan bisa digantikan dengan lainnya. Mengingat pemungut di Pasar Baru ada beberapa,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kejari Kota Probolinggo menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi retribusi pasar Wonoasih dan penjualan bedak di Pasar Kronong. Keduanya berstatus PNS Pemkot Probolinggo. Salah satu tersangkanya yaitu Mantan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar berinisial MAB, dan satu lagi DDW.

Keduanya diperiksa dan langsung ditetapkan sebagai tersangka, Selasa (16/2). Mereka diperiksa di ruangan Kasi Pidsus di lantai 2 kantor Kejari, sejak pukul 12.00 sampai 18.30. Begitu selesai diperiksa, keduanya digiring ke mobil tahanan Kejari dengan tangan diborgol dan memakai rompi tahanan kejari berwarna merah. Mereka lantas ditahan di Lapas IIB Probolinggo sebagai tahanan titipan kejaksaan.

Atas dugaan pelanggaran itu, keduanya diancam kurungan 4 tahun dan satu tahun. untuk pelanggaran pasal 2 dan 12(e), ancaman hukumannya 4 tahun penjara. Sedangkan melanggar pasal 3, diancam kurungan 1 tahun penjara. (rpd/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/