alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Lagi, Warga Tiris Gantung Diri, Diduga Akibat Himpitan Ekonomi

TIRIS, Radar Bromo – Kejadian bunuh diri dengan cara kendat kembali terjadi di daerah selatan Kabupaten Probolinggo. Sebelumnya warga lanjut usia (lansia). Nah, Rabu (17/2) warga di Kecamatan Tiris, kembali ada yang gantung diri.

Ia adalah Sp, 30. Korban ditemukan gantung diri di kandang ternaknya oleh istrinya, Ss, 20. Spl nekat bunuh diri diduga karena himpitan ekonomi. Ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang masih berumur 2 tahun.

Kapolsek Tiris Iptu Agus Supriyanto melalui Kanit Reskrim Aiptu Yuniarto mengatakan, korban ditemukan kendat oleh istrinya sekitar pukul 09.00. Sebelum kejadian, sekitar pukul 08.00, korban bersama orang tuanya baru datang menyabit rumput untuk pakan ternak.

Selain untuk menaruh hasil merumput, korban bersama orang tuanya pulang juga untuk sarapan. Selesai sarapan, orang tua korban dan korban kembali hendak menyabit rumput untuk pakan ternaknya. Saat hendak berangkat, korban masuk kandang untuk mengambil tali. Namun korban tak kunjung keluar. “Dari sanalah istrinya menyusul korban ke kandang,” ujarnya.

Saat itulah Ss mendapati pintu kandang terkunci dari dalam. Curiga, Ss mendobrak pintu kandang dan mendapati korban sudah tergantung dengan tali di leher yang diikatkan ke usuk kandang.

Putus Asa Tak Kunjung Sembuh, Lansia di Tiris Gantung Diri

“Mendapati suaminya gantung diri, mungkin karena kaget dan panik, istri korban mengambil sabit dan memotong tambang yang menggantung korban dengan harapan korban bisa tertolong. Ia berteriak meminta tolong, sehingga keluarga dan tetangga berdatangan,” ujarnya.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan keluarga korban, Yuniarto mengatakan, korban nekat mengakhiri hidupnya karena tidak kuat dengan tekanan ekonomi. “Korban tinggal dengan kedua orang tuanya, istri, dan anaknya. Dugaannya lantaran tidak kuat dengan tekanan ekonomi, sehingga putus asa dan nekat mengakhiri hidupnya. Kalau dilihat dari keadaan rumahnya, sepertinya begitu,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan tim medis, Yuniarto mengatakan, korban meninggal dunia dengan kondisi fisik bagian luar tidak ada tanda-tanda kekerasan terhadap korban. Lidahnya juga menjulur ke luar.

“Pihak keluarga korban disarankan agar jenazah diotopsi untuk mendalami penyebab kematian. Namun menolak dan membuat surat pernyataan penolakan otopsi. Tidak akan melakukan penuntutan perkara dan menerima dengan ikhlas kematian korban,” ujarnya.

Sebelumnya, Senin (8/2), Sia, 60, warga Dusun Jambu, Desa/Kecamatan Tiris, juga kendat. Berbeda dengan Sp, Si mengakhiri hidupnya karena sakit yang dideritanya bertahun-tahun tak kunjung sembuh. (mu/rud)

TIRIS, Radar Bromo – Kejadian bunuh diri dengan cara kendat kembali terjadi di daerah selatan Kabupaten Probolinggo. Sebelumnya warga lanjut usia (lansia). Nah, Rabu (17/2) warga di Kecamatan Tiris, kembali ada yang gantung diri.

Ia adalah Sp, 30. Korban ditemukan gantung diri di kandang ternaknya oleh istrinya, Ss, 20. Spl nekat bunuh diri diduga karena himpitan ekonomi. Ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang masih berumur 2 tahun.

Kapolsek Tiris Iptu Agus Supriyanto melalui Kanit Reskrim Aiptu Yuniarto mengatakan, korban ditemukan kendat oleh istrinya sekitar pukul 09.00. Sebelum kejadian, sekitar pukul 08.00, korban bersama orang tuanya baru datang menyabit rumput untuk pakan ternak.

Selain untuk menaruh hasil merumput, korban bersama orang tuanya pulang juga untuk sarapan. Selesai sarapan, orang tua korban dan korban kembali hendak menyabit rumput untuk pakan ternaknya. Saat hendak berangkat, korban masuk kandang untuk mengambil tali. Namun korban tak kunjung keluar. “Dari sanalah istrinya menyusul korban ke kandang,” ujarnya.

Saat itulah Ss mendapati pintu kandang terkunci dari dalam. Curiga, Ss mendobrak pintu kandang dan mendapati korban sudah tergantung dengan tali di leher yang diikatkan ke usuk kandang.

Putus Asa Tak Kunjung Sembuh, Lansia di Tiris Gantung Diri

“Mendapati suaminya gantung diri, mungkin karena kaget dan panik, istri korban mengambil sabit dan memotong tambang yang menggantung korban dengan harapan korban bisa tertolong. Ia berteriak meminta tolong, sehingga keluarga dan tetangga berdatangan,” ujarnya.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan keluarga korban, Yuniarto mengatakan, korban nekat mengakhiri hidupnya karena tidak kuat dengan tekanan ekonomi. “Korban tinggal dengan kedua orang tuanya, istri, dan anaknya. Dugaannya lantaran tidak kuat dengan tekanan ekonomi, sehingga putus asa dan nekat mengakhiri hidupnya. Kalau dilihat dari keadaan rumahnya, sepertinya begitu,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan tim medis, Yuniarto mengatakan, korban meninggal dunia dengan kondisi fisik bagian luar tidak ada tanda-tanda kekerasan terhadap korban. Lidahnya juga menjulur ke luar.

“Pihak keluarga korban disarankan agar jenazah diotopsi untuk mendalami penyebab kematian. Namun menolak dan membuat surat pernyataan penolakan otopsi. Tidak akan melakukan penuntutan perkara dan menerima dengan ikhlas kematian korban,” ujarnya.

Sebelumnya, Senin (8/2), Sia, 60, warga Dusun Jambu, Desa/Kecamatan Tiris, juga kendat. Berbeda dengan Sp, Si mengakhiri hidupnya karena sakit yang dideritanya bertahun-tahun tak kunjung sembuh. (mu/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/