TPS Pedagang Pasar Baru Perlu Ditata Ulang

KANIGARAN, Radar Bromo– Keberadaan tempat penampungan sementara (TPS) pedagang Pasar Baru, Kota Probolinggo, dinilai perlu penataan kembali. Terutama di Jalan Cut Nyak Dien. Sebab, posisi TPS pedagang itu dinilai kurang menguntungkan bagi pedagang maupun pembeli.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo Gatot Wahyudi. “Terkait kondisi TPS di Pasar Baru, saya melihat desainnya kurang pas. Di tengah ada lorong. Lorong itu jarang dilewati. Menurut saya, lorong tengah dihapus saja dijadikan satu,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPRD Kota Probolinggo, Kamis (9/1).

Selain itu, menurut Gatot, bangunan TPS dimampatkan ke tengah, sehingga jalan di kanan dan kiri TPS bisa dilalui masyarakat. Harapannya, masyarakat bisa tetap melakukan jual beli di toko-toko yang berada di sepanjang Jalan Cut Nyak Dien yang selama ini tertutup TPS.

“Selain itu, juga setiap Minggu teman-teman di Pasar Baru selalu melakukan kerja bakti. Sebab, di bawah TPS itu ada rongga antara jalan dengan TPS, ini malah jadi tempat penimbunan sampah. Ini mungkin sebaiknya ditutup rongganya. Pasalnya, setiap banjir sampah banyak yang tersumbat di sana,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPR Perkim) Kota Probolinggo Agus Hartadi menilai masukan itu kemungkinan usulan DKUPP untuk penataan TPS Pasar Baru.

“Sepengetahuan saya untuk pembangunan TPS Pasar Baru itu, DKUPP bukan PUPR. Jadi kemungkinan, itu usulan saja,” ujarnya.

Namun, dari penelusuran Jawa Pos Radar Bromo, pembangunan TPS pedagang ini dilakukan oleh Dinas PUPR Perkim yang saat itu masih bernama Dinas PUPR, pada 2017 silam. Sedangkan, relokasi pedagang Pasar Baru untuk menempati TPS, dilakukan oleh DKUPP.

Warga Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Muhammad Husni Thamrin, 57, mengusulkan TPS Pasar Baru dibongkar saja. Sebab, proyek pembangunan Pasar Baru akan berlangsung sampai beberapa tahun ke depan.

“Adanya TPS ini sangat menganggu aktivitas perdagangan. Bahkan, pedagang yang di sisi barat pindah semua, karena gak ada pembeli yang masuk. Lebih baik bongkar saja,” ujarnya. (put/rud)