alexametrics
24 C
Probolinggo
Sunday, 28 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Banyak PKL Eratex Masih Bertahan, RTH Brantas Masih Sepi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KANIGARAN, Radar Bromo – Sejak akhir Desember 2020, Dinas Koperasi Usaha Mikro Perdagangan Perindustian (DKUPP) Kota Probolinggo, resmi memindah PKL Eratex di Jalan Supriadi ke RTH Brantas. Namun, sampai Jumat (15/1) masih banyak PKL yang berjualan di lokasi lama.

Mereka tetap berjualan di belakang pabrik PT Eratex Djaja. Ada yang berjualan di tepi jalan. Ada juga yang berjualan di RTH Eratex. Sementara itu, RTH Brantas justru sepi. Tidak ada satu pun PKL pindah ke sana.

Alasannya, berjualan di lokasi lama membuat akses dengan konsumen yaitu karyawan PT Eratex lebih dekat. Sebab, lokasi lama berdekatan dengan pintu keluar dan masuk karyawan PT Eratex.

Seperti yang disampaikan Nuning, 45. Nuning memilih bertahan berjualan di tepi jalan yaitu di belakang pabrik PT Eratex. Menurutnya, lokasi di sana tetap lebih baik daripada lokasi lain.

“Saya tetap jualan di sini saja. Lebih banyak yang beli di sini daripada di RTH Brantas,” ujarnya.

Nuning sendiri selama ini berjualan pentol di belakang PT Eratex. Sejak dilarang berjualan di sana, dia pun mencoba berjualan di sekitar Jalan Brantas, tepatnya di depan SPBE. Namun, pembelinya sedikit. Tidak sebanyak saat berjualan di belakang PT Eratex.

“Sepi pembelinya. Saya sudah pernah coba jualan tiga jam di Jalan Brantas. Cuma dapat Rp 50 ribu. Padahal kalau di belakang Eratex, menunggu 2 jam saat jam pulang karyawan sudah dapat Rp 300 ribuan,” terangnya.

Nuning pun berdalih, dia hanya jualan pentol saat jam pulang karyawan Eratex. Artinya, tidak sepanjang hari dia jualan di tempat itu.

“Saya jualan di sana pas jam pulang karyawan saja. Kalau keramaian karyawan yang pulang sudah reda, ya saya pergi dari sana,” terangnya.

Ibu tiga anak ini pun berharap agar Pemkot Probolinggo lebih bijaksana dengan tidak memindahkan PKL ke lokasi lain. Apalagi lokasinya juga jauh dari pintu keluar masuk karyawan Eratex.

“PKL itu bekerja dengan cara mendatangi konsumen yaitu karyawan PT Eratex. Ini malah kita dijauhkan dari konsumen,” terangnya.

Berdasarkan pengamatan Jawa Pos Radar Bromo, jarak antara lokasi lama dengan RTH Brantas sebenarnya dekat. Sekitar 300 meter saja. Bahkan, RTH Brantas dan lokasi lama PKL berada di satu ruas jalan. Yaitu di Jalan Supriadi.

Di depan RTH Brantas pun berjejer PKL Brantas yang sejak awal berjualan di sana. Para pembeli yang datang ke PKL Brantas pun cukup banyak. Beberapa warung bahkan sering ramai pembeli, terutama saat karyawan Eratex pulang. Seperti warung makan lalapan.

Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriawati saat dikonfirmasi tidak menampik bahwa banyak PKL Eratex yang kembali berjualan di lokasi lama. Fitri –panggilannya- pun menegaskan, DKUPP akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menertibkan PKL Eratex yang tetap berjualan di tepi jalan.

“Titik lokasi relokasi ini yang menentukan memang DKUPP. Namun, penegakan Perda ini berada di bawah kewenangan Satpol PP. Sehingga, perlu dirapatkan lagi soal penataan PKL ini,” terangnya.

Fitri juga menambahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo telah bersurat kepada paguyuban PKL yang berjualan di RTH Eratex, di belakang pabrik Eratex. DLH minta para PKL itu pindah dari sana. (put/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

KANIGARAN, Radar Bromo – Sejak akhir Desember 2020, Dinas Koperasi Usaha Mikro Perdagangan Perindustian (DKUPP) Kota Probolinggo, resmi memindah PKL Eratex di Jalan Supriadi ke RTH Brantas. Namun, sampai Jumat (15/1) masih banyak PKL yang berjualan di lokasi lama.

Mereka tetap berjualan di belakang pabrik PT Eratex Djaja. Ada yang berjualan di tepi jalan. Ada juga yang berjualan di RTH Eratex. Sementara itu, RTH Brantas justru sepi. Tidak ada satu pun PKL pindah ke sana.

Alasannya, berjualan di lokasi lama membuat akses dengan konsumen yaitu karyawan PT Eratex lebih dekat. Sebab, lokasi lama berdekatan dengan pintu keluar dan masuk karyawan PT Eratex.

Mobile_AP_Half Page

Seperti yang disampaikan Nuning, 45. Nuning memilih bertahan berjualan di tepi jalan yaitu di belakang pabrik PT Eratex. Menurutnya, lokasi di sana tetap lebih baik daripada lokasi lain.

“Saya tetap jualan di sini saja. Lebih banyak yang beli di sini daripada di RTH Brantas,” ujarnya.

Nuning sendiri selama ini berjualan pentol di belakang PT Eratex. Sejak dilarang berjualan di sana, dia pun mencoba berjualan di sekitar Jalan Brantas, tepatnya di depan SPBE. Namun, pembelinya sedikit. Tidak sebanyak saat berjualan di belakang PT Eratex.

“Sepi pembelinya. Saya sudah pernah coba jualan tiga jam di Jalan Brantas. Cuma dapat Rp 50 ribu. Padahal kalau di belakang Eratex, menunggu 2 jam saat jam pulang karyawan sudah dapat Rp 300 ribuan,” terangnya.

Nuning pun berdalih, dia hanya jualan pentol saat jam pulang karyawan Eratex. Artinya, tidak sepanjang hari dia jualan di tempat itu.

“Saya jualan di sana pas jam pulang karyawan saja. Kalau keramaian karyawan yang pulang sudah reda, ya saya pergi dari sana,” terangnya.

Ibu tiga anak ini pun berharap agar Pemkot Probolinggo lebih bijaksana dengan tidak memindahkan PKL ke lokasi lain. Apalagi lokasinya juga jauh dari pintu keluar masuk karyawan Eratex.

“PKL itu bekerja dengan cara mendatangi konsumen yaitu karyawan PT Eratex. Ini malah kita dijauhkan dari konsumen,” terangnya.

Berdasarkan pengamatan Jawa Pos Radar Bromo, jarak antara lokasi lama dengan RTH Brantas sebenarnya dekat. Sekitar 300 meter saja. Bahkan, RTH Brantas dan lokasi lama PKL berada di satu ruas jalan. Yaitu di Jalan Supriadi.

Di depan RTH Brantas pun berjejer PKL Brantas yang sejak awal berjualan di sana. Para pembeli yang datang ke PKL Brantas pun cukup banyak. Beberapa warung bahkan sering ramai pembeli, terutama saat karyawan Eratex pulang. Seperti warung makan lalapan.

Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriawati saat dikonfirmasi tidak menampik bahwa banyak PKL Eratex yang kembali berjualan di lokasi lama. Fitri –panggilannya- pun menegaskan, DKUPP akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menertibkan PKL Eratex yang tetap berjualan di tepi jalan.

“Titik lokasi relokasi ini yang menentukan memang DKUPP. Namun, penegakan Perda ini berada di bawah kewenangan Satpol PP. Sehingga, perlu dirapatkan lagi soal penataan PKL ini,” terangnya.

Fitri juga menambahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo telah bersurat kepada paguyuban PKL yang berjualan di RTH Eratex, di belakang pabrik Eratex. DLH minta para PKL itu pindah dari sana. (put/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2