Petani Sayur Minta Pemkab Jangan Hanya Perhatian ke Tembakau

ANGKUT: Petani kubis di kawasan Sukapura. Petani sayur di Kabupaten Probolinggo meminta agar pemerintah tak hanya memperhatikan petani tembakau saja. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

SUMBER, Radar Bromo – Tak hanya petambak garam dan petani tembakau, petani sayur di Kabupaten Probolinggo juga mengeluh. Terutama petani kubis. Sebab, kini harga kubis di tingkat petani hanya dihargai Rp 200 per kilogram. Karenanya, sejumlah petani berharap Pemkab Probolinggo turun tangan.

Petani minta diperhatikan agar permasalahan murahnya harga sayur bisa segera teratasi. Salah seorang tokoh Tengger Kabupaten Probolinggo Joko Wahyudi mengatakan, Pemkab juga harus turun tangan dalam masalah yang dihadapi petani sayur. Serta, tidak hanya fokus terhadap petani tembakau.

“Jangan nyentris ke petani tembakau saja. Coba lihat penderitaan petani kubis dan tomat di Lereng Gunung Bromo dataran Tengger ini,” katanya.

Warga Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, ini mengatakan sejatinya persediaan kubis di dataran Tengger lebih dari 200 ton. Semuanya terancam tidak dipanen karena harganya sangat murah. “Tembakau mungkin tiga batang dibakar. Tapi, kalau warga Tengger suruh dibiarkan, ya dibiarkan beneran. Namun, meski tidak laku dan murah banget, warga Tengger tetap diam dan tidak ramai,” katanya.

Karenanya, pihaknya meminta pemerintah tetap memikirkan nasib para petani di dataran Tengger. “Karena kami juga warga Kabupaten Probolinggo. Tidak hanya petani kubis, petani tomat atau petani yang juga kurang beruntung harus tetap diperhatikan,” harapnya.

Joko mengatakan, biaya atau ongkos produksi tidak sedikit. Namun, setelah memasuki masa panen harganya sangat murah. Karenanya, pihaknya meminta pemkab, memperhatikannya dan mencarikan solusi terkait masalah ini. “Apakah nanti ada ganti bibit atau ada solusi lainnya, yang pasti hal seperti ini hampir setiap tahun terjadi dan dari pemerintah juga belum ada langkah,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo Taufiq Alami mengatakan, murahnya harga sayur karena dampak pandemi Covid-19. Daya beli masyarakat menurun. Stok sayur banyak dan permintaan menurun. “Hukum pasar. Jadi, stok banyak, permintaan menurun,” jelasnya.

Untuk mengatasinya, pihaknya mengaku sudah mempersiapkan bantuan. Salah satunya bantuan alat pembuat tomat menjadi sayur, sehingga ketika harganya murah, bisa diolah menjadi produk jadi. “Ini yang akan kami lakukan tahun depan. Sehingga, masyarakat terutama petani bisa untung nantinya,” ujarnya.

Seperti diketahui, harga kubis di tingkat petani hanya Rp 200 per kilogram. Karenanya, banyak petani yang memilih tidak memanen kubisnya. Alasannya, jika dipaksa dipanen akan rugi dengan ongkos angkut. Harga di tingkat petani ini beda jauh dengan di pasaran. Sejauh ini, harga kubis di pasar masih Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram. (sid/rud/fun)