alexametrics
27.5 C
Probolinggo
Saturday, 28 May 2022

Siswa MI Muhammadiyah Raih 3 Medali Kompetisi Sains Internasional

NAMA MI Muhammadiyah 1 Kota Probolinggo dalam berbagai kompetisi sains mulai tercium di kancah internasional. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tiga prestasi luar biasa berhasil diraih salah satu siswa terbaik MI Muhammadiyah 1, Kota Probolinggo, Azkiano Kenzo Nawafa.

Siswa kelas IV ini berhasil mengharumkan nama Indonesia setelah menyisihkan peserta dari berbagai belahan dunia dengan meraih High Distinction dalam HOTS Science Competition 2020 (Middle Primary) pada Desember 2020. Kian -panggilan akrab Azkiano Kenzo Nawafa- juga berhasil meraih Silver Medal Category Level 2 (Grade 3-4) dalam International Science Contest 2020 (ISC 2020) yang berlangsung Oktober 2020.

Serta, Bronze Medal dalam Vanda International Science Competition Grade 4 yang berlangsung pada Desember 2020. Ketiga penghargaan sekaligus medali ini diterima Azkiano pada awal Februari 2020. Tiga prestasi internasional yang berhasil diukirnya, semakin menambah panjang daftar prestasi yang diraih siswa-siswinya MI Muhammadiyah 1, Kota Probolinggo.

Madrasah yang mengemban visi “Tangguh dalam Imtaq, Unggul dalam Iptek, Mandiri dan Berwawasan Lingkungan,” ini telah membuktikan diri sebagai sekolah berkualitas. “Luar biasa. Ini adalah pertama kalinya putra terbaik MI Muhammadiyah 1, Kota Probolinggo, berhasil di ajang sains tingkat internasional,” ujar Kepala MI Muhammadiyah 1 Kota Probolinggo Hanafi, M.Pd., kemarin.

Munurutnya, seperti siswa-siswi berprestasi lainnya, perjuangan Kian untuk mencapai prestasi ini tidak mudah. Siswa yang sudah hafal 3 juz Alquran ini harus melewati seleksi berbagai olimpiade sains sejak tingkat kota, regional, hingga nasional.

“Di mulai tahun lalu. Saat ada kompetisi KSMO, ananda Kian kami coba ikutkan. Kami optimistis karena biasanya pesertanya kan kelas 5 dan 6. Alhamdulillah, Kian langsung juara II saat itu. Sejak saat itulah setiap ada kompetisi sains selalu ikut dan hasilnya alhamdulillah. Bahkan, Maret lalu dapat juara I olimpiade sains tingkat nasional,” jelasnya.

Hanafi mengatakan, Kian masih kelas IV. Masa depannya masih panjang. Pihaknya berharap Kian mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasinya. Ia juga mengapresiasi peran orang tuanya, sehingga prestasi yang diraih bisa maksimal.

Menghadapi kompetisi sain tingkat internasional, menurut Kian, sangat berbeda. Putra pasangan Lutfi Indrianto (guru fisika SMAN 1 Dringu) dan Issi Anissa (guru fisika SMAN 1 Probolinggo) ini mengatakan soalnya lebih berat dari biasanya.

“Yang lebih susah lagi soalnya tidak pakai bahasa Indonesia. Sebanyak 30 soal harus selesai dalam satu setengah jam. Tapi senangnya bisa bertemu peserta lain dari negara-negara lain dan dapat medali,” ujarnya, dengan polosnya.

Sedangkan, Issi Anisa yang kemarin mendampingi Kian, mengungkapkan perjuangan putranya hingga berhasil meraih prestasi tak lain berkat dukungan sekolah. “Kian ikut ekstrakurikuler MIPA sejak kelas 3. Kalau mau ikut olimpiade atau kompetisi sains pembekalannya dari ustad-ustadah lebih intensif. Bahkan, dilakukan setiap hari menjelang kompetisi digelar. Ini keberhasilan bersama. Tanpa dukungan sekolah tidak akan mungkin prestasi ini bisa diraih,” ujarnya sambil tersenyum. (el/adv)

NAMA MI Muhammadiyah 1 Kota Probolinggo dalam berbagai kompetisi sains mulai tercium di kancah internasional. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tiga prestasi luar biasa berhasil diraih salah satu siswa terbaik MI Muhammadiyah 1, Kota Probolinggo, Azkiano Kenzo Nawafa.

Siswa kelas IV ini berhasil mengharumkan nama Indonesia setelah menyisihkan peserta dari berbagai belahan dunia dengan meraih High Distinction dalam HOTS Science Competition 2020 (Middle Primary) pada Desember 2020. Kian -panggilan akrab Azkiano Kenzo Nawafa- juga berhasil meraih Silver Medal Category Level 2 (Grade 3-4) dalam International Science Contest 2020 (ISC 2020) yang berlangsung Oktober 2020.

Serta, Bronze Medal dalam Vanda International Science Competition Grade 4 yang berlangsung pada Desember 2020. Ketiga penghargaan sekaligus medali ini diterima Azkiano pada awal Februari 2020. Tiga prestasi internasional yang berhasil diukirnya, semakin menambah panjang daftar prestasi yang diraih siswa-siswinya MI Muhammadiyah 1, Kota Probolinggo.

Madrasah yang mengemban visi “Tangguh dalam Imtaq, Unggul dalam Iptek, Mandiri dan Berwawasan Lingkungan,” ini telah membuktikan diri sebagai sekolah berkualitas. “Luar biasa. Ini adalah pertama kalinya putra terbaik MI Muhammadiyah 1, Kota Probolinggo, berhasil di ajang sains tingkat internasional,” ujar Kepala MI Muhammadiyah 1 Kota Probolinggo Hanafi, M.Pd., kemarin.

Munurutnya, seperti siswa-siswi berprestasi lainnya, perjuangan Kian untuk mencapai prestasi ini tidak mudah. Siswa yang sudah hafal 3 juz Alquran ini harus melewati seleksi berbagai olimpiade sains sejak tingkat kota, regional, hingga nasional.

“Di mulai tahun lalu. Saat ada kompetisi KSMO, ananda Kian kami coba ikutkan. Kami optimistis karena biasanya pesertanya kan kelas 5 dan 6. Alhamdulillah, Kian langsung juara II saat itu. Sejak saat itulah setiap ada kompetisi sains selalu ikut dan hasilnya alhamdulillah. Bahkan, Maret lalu dapat juara I olimpiade sains tingkat nasional,” jelasnya.

Hanafi mengatakan, Kian masih kelas IV. Masa depannya masih panjang. Pihaknya berharap Kian mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasinya. Ia juga mengapresiasi peran orang tuanya, sehingga prestasi yang diraih bisa maksimal.

Menghadapi kompetisi sain tingkat internasional, menurut Kian, sangat berbeda. Putra pasangan Lutfi Indrianto (guru fisika SMAN 1 Dringu) dan Issi Anissa (guru fisika SMAN 1 Probolinggo) ini mengatakan soalnya lebih berat dari biasanya.

“Yang lebih susah lagi soalnya tidak pakai bahasa Indonesia. Sebanyak 30 soal harus selesai dalam satu setengah jam. Tapi senangnya bisa bertemu peserta lain dari negara-negara lain dan dapat medali,” ujarnya, dengan polosnya.

Sedangkan, Issi Anisa yang kemarin mendampingi Kian, mengungkapkan perjuangan putranya hingga berhasil meraih prestasi tak lain berkat dukungan sekolah. “Kian ikut ekstrakurikuler MIPA sejak kelas 3. Kalau mau ikut olimpiade atau kompetisi sains pembekalannya dari ustad-ustadah lebih intensif. Bahkan, dilakukan setiap hari menjelang kompetisi digelar. Ini keberhasilan bersama. Tanpa dukungan sekolah tidak akan mungkin prestasi ini bisa diraih,” ujarnya sambil tersenyum. (el/adv)

MOST READ

BERITA TERBARU

/