alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Pucuk Pimpinan Jawa Pos Radar Bromo Berganti

KADEMANGAN, Radar Bromo – Pucuk pimpinan Jawa Pos Radar Bromo beralih. HA Suyuti yang sebelumnya menjabat General Manager (GM) menggantikan Sholihuddin sebagai direktur. Pak Sho –sapaan akrabnya-, memasuki masa pensiun setelah memimpin Jawa Pos Radar Bromo sejak 2017.

Sho dalam acara pisang kenang pada Sabtu (12/6) pagi di kantor Jawa Pos Radar Bromo menekankan pentingnya proses pengkaderan dalam sebuah institusi. Termasuk perusahaan media seperti Jawa Pos Radar Bromo.

Dan pergantian direktur menurutnya, merupakan salah satu proses pengkaderan yang harus dilakukan. “Berjalan atau tidaknya suatu lembaga atau instansi salah satunya tergantung pada proses pengkaderan di internal,” terang wartawan yang pernah meraih penghargaan foto internasional saat menjepret truk angkatan laut yang ditumpangi Bonek terguling itu.

Sho pun berpesan agar Jawa Pos Radar Bromo terus maju dan berkembang mengikuti zaman. “Jadi, bisa mengembangkan web serta teknologi digital lainya. Sehingga, Radar Bromo tetap menguasai pasar meski peminat korannya mulai sedikit. Dan tantangan itu harus dihadapi dengan cara berpikir yang baik, kreatif dan inovatif,” tambahnya.

Sementara direktur baru, H.A Suyuti menyampaikan terima kasihnya pada Sholihudin selama memimpin Jawa Pos Radar Bromo. “Kami menyampaikan terimakasih atas ilmu yang telah diberikan Pak Sho selama ini. Selama menjadi direktur di sini, Pak Sho telah menularkan dasar-dasar dan ilmu penting, terutama tentang seperti apa itu bisnis media,” tuturnya.

Ke depan, Suyut pun optimistis Jawa Pos Radar Bromo akan terus berkembang. Tentu saja dengan semua inovasi dan kreativitas yang harus terus dilakukan.

Yang tidak kalah penting yaitu, dukungan, semangat dan kekompakan semua karyawan dalam menjalankan tugasnya. Ia optimistis dengan soliditas dan loyalitas tinggi, Jawa Pos Radar Bromo akan tetap menjadi media yang punya nilai tawar tinggi.

“Tantangan ke depan akan semakin sulit. Namun, bukan berarti tidak bisa dilakukahn. Saya yakin dengan ilmu yang telah ditularkan Pak Sho, dedikasi dan loyalitas teman-teman, kita akan terus berkembang,” tutur pria yang juga jadi ketua PWI Persiapan Probolinggo itu.

Pisah kenang itu sendiri berjalan santai, namun penuh makna. Semua karyawan Jawa Pos Radar Bromo datang, mengikuti acara mulai pukul 09.00 sampai sekitar pukul 11.00.

Setelah sekelumit kata pamit yang disampaikan Sho, beberapa karyawan pun menyampaikan kesan dan kenangan selama lelaki asal Kediri itu menjabat sebagai direktur. Kemudian, dilanjutkan acara foto bersama dan ramah tamah yang berlangsung akrab, kekeluargaan dan penuh tawa.

Pak Sho sendiri adalah seorang jurnalis senior di Jawa Pos. Dia pernah menjadi pemenang pertama lomba World Press Photo pada 1996. Sebuah lomba foto paling bergengsi dan paling besar di dunia.

Saat itu, Sho memenangkan kategori Spot News Singles. Fotonya bercerita tentang sebuah truk militer yang mengangkut lebih dari 100 suporter sepakbola yang terbalik di Surabaya pada 17 Mei 1996.

Hingga kini, karya foto Sho terus menjadi maha karya foto jurnalistik. Apalagi, sampai saat ini tidak banyak jurnalis Indonesia yang berhasil memenangkan lomba World Press Photo. Selain Sho, jurnalis Indonesia yang pernah menang dalam lomba World Press Photo adalah Kartono Ryadi, wartawan foto harian Kompas. (rpd/hn)

KADEMANGAN, Radar Bromo – Pucuk pimpinan Jawa Pos Radar Bromo beralih. HA Suyuti yang sebelumnya menjabat General Manager (GM) menggantikan Sholihuddin sebagai direktur. Pak Sho –sapaan akrabnya-, memasuki masa pensiun setelah memimpin Jawa Pos Radar Bromo sejak 2017.

Sho dalam acara pisang kenang pada Sabtu (12/6) pagi di kantor Jawa Pos Radar Bromo menekankan pentingnya proses pengkaderan dalam sebuah institusi. Termasuk perusahaan media seperti Jawa Pos Radar Bromo.

Dan pergantian direktur menurutnya, merupakan salah satu proses pengkaderan yang harus dilakukan. “Berjalan atau tidaknya suatu lembaga atau instansi salah satunya tergantung pada proses pengkaderan di internal,” terang wartawan yang pernah meraih penghargaan foto internasional saat menjepret truk angkatan laut yang ditumpangi Bonek terguling itu.

Sho pun berpesan agar Jawa Pos Radar Bromo terus maju dan berkembang mengikuti zaman. “Jadi, bisa mengembangkan web serta teknologi digital lainya. Sehingga, Radar Bromo tetap menguasai pasar meski peminat korannya mulai sedikit. Dan tantangan itu harus dihadapi dengan cara berpikir yang baik, kreatif dan inovatif,” tambahnya.

Sementara direktur baru, H.A Suyuti menyampaikan terima kasihnya pada Sholihudin selama memimpin Jawa Pos Radar Bromo. “Kami menyampaikan terimakasih atas ilmu yang telah diberikan Pak Sho selama ini. Selama menjadi direktur di sini, Pak Sho telah menularkan dasar-dasar dan ilmu penting, terutama tentang seperti apa itu bisnis media,” tuturnya.

Ke depan, Suyut pun optimistis Jawa Pos Radar Bromo akan terus berkembang. Tentu saja dengan semua inovasi dan kreativitas yang harus terus dilakukan.

Yang tidak kalah penting yaitu, dukungan, semangat dan kekompakan semua karyawan dalam menjalankan tugasnya. Ia optimistis dengan soliditas dan loyalitas tinggi, Jawa Pos Radar Bromo akan tetap menjadi media yang punya nilai tawar tinggi.

“Tantangan ke depan akan semakin sulit. Namun, bukan berarti tidak bisa dilakukahn. Saya yakin dengan ilmu yang telah ditularkan Pak Sho, dedikasi dan loyalitas teman-teman, kita akan terus berkembang,” tutur pria yang juga jadi ketua PWI Persiapan Probolinggo itu.

Pisah kenang itu sendiri berjalan santai, namun penuh makna. Semua karyawan Jawa Pos Radar Bromo datang, mengikuti acara mulai pukul 09.00 sampai sekitar pukul 11.00.

Setelah sekelumit kata pamit yang disampaikan Sho, beberapa karyawan pun menyampaikan kesan dan kenangan selama lelaki asal Kediri itu menjabat sebagai direktur. Kemudian, dilanjutkan acara foto bersama dan ramah tamah yang berlangsung akrab, kekeluargaan dan penuh tawa.

Pak Sho sendiri adalah seorang jurnalis senior di Jawa Pos. Dia pernah menjadi pemenang pertama lomba World Press Photo pada 1996. Sebuah lomba foto paling bergengsi dan paling besar di dunia.

Saat itu, Sho memenangkan kategori Spot News Singles. Fotonya bercerita tentang sebuah truk militer yang mengangkut lebih dari 100 suporter sepakbola yang terbalik di Surabaya pada 17 Mei 1996.

Hingga kini, karya foto Sho terus menjadi maha karya foto jurnalistik. Apalagi, sampai saat ini tidak banyak jurnalis Indonesia yang berhasil memenangkan lomba World Press Photo. Selain Sho, jurnalis Indonesia yang pernah menang dalam lomba World Press Photo adalah Kartono Ryadi, wartawan foto harian Kompas. (rpd/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/