alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

10 Bulan, 54 Kebakaran Ditangani Damkar Kab Probolinggo

KRAKSAAN, Radar Bromo Tahun ini, kasus kebakaran di Kabupaten Probolinggo, cukup banyak. Tercatat ada 54 kejadian. Dari puluhan kasus itu, mayoritas disebabkan human error atau kelalaian warga.

Kasi Pemadaman dan Penyelamatan Pemadam Kebakaran Kabupaten Probolinggo Suud mengatakan, peristiwa kebakaran saat kemarau cenderung lebih banyak. Sumber api dapat berubah menjadi petaka, sebab mudah membakar area kering dan terdapat material yang mudah terbakar.

“Hingga akhir September lalu, ada 54 kejadian yang telah dilaporkan dan ditangani Pemadam Kebakaran. Sejak tiga bulan lalu laporan kebarakan meningkat dari pada bulan-bulan sebelumnya,” katanya.

Dari kejadian yang telah ditangani, Suud mengatakan, 50 persen karena human error atau kelalaian masyarakat. Kebakaran yang seharusnya dapat dihindari justru menjadi petaka. Sehingga, perlu upaya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap titik api yang dapat menyebabkan kebakaran.

“Mayoritas kebakaran terjadi karena api ditinggal begitu saja. Beberapa kebakaran terjadi, karena kompor atau tungku ditinggal begitu saja dalam keadaan menyala,” jelasnya.

Kencangnya embusan angin saat kemarau turut memperparah kebakaran. Beberapa peristiwa kebakaran terjadi karena membakar sampah yang ditinggal begitu saja dan membuang puntung rokok sembarangan.

Ada juga karena korsleting listrik. Karena itu, pengecekan jaringan listrik perlu dilakukan secara berkala. Terutama ketika hendak ke luar rumah dalam waktu lama agar tidak terjadi korsleting. “Namanya musibah atau bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Namun, potensi terjadinya bisa diminimalisir jika masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaannya,” ujarnya. (ar/rud)

KRAKSAAN, Radar Bromo Tahun ini, kasus kebakaran di Kabupaten Probolinggo, cukup banyak. Tercatat ada 54 kejadian. Dari puluhan kasus itu, mayoritas disebabkan human error atau kelalaian warga.

Kasi Pemadaman dan Penyelamatan Pemadam Kebakaran Kabupaten Probolinggo Suud mengatakan, peristiwa kebakaran saat kemarau cenderung lebih banyak. Sumber api dapat berubah menjadi petaka, sebab mudah membakar area kering dan terdapat material yang mudah terbakar.

“Hingga akhir September lalu, ada 54 kejadian yang telah dilaporkan dan ditangani Pemadam Kebakaran. Sejak tiga bulan lalu laporan kebarakan meningkat dari pada bulan-bulan sebelumnya,” katanya.

Dari kejadian yang telah ditangani, Suud mengatakan, 50 persen karena human error atau kelalaian masyarakat. Kebakaran yang seharusnya dapat dihindari justru menjadi petaka. Sehingga, perlu upaya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap titik api yang dapat menyebabkan kebakaran.

“Mayoritas kebakaran terjadi karena api ditinggal begitu saja. Beberapa kebakaran terjadi, karena kompor atau tungku ditinggal begitu saja dalam keadaan menyala,” jelasnya.

Kencangnya embusan angin saat kemarau turut memperparah kebakaran. Beberapa peristiwa kebakaran terjadi karena membakar sampah yang ditinggal begitu saja dan membuang puntung rokok sembarangan.

Ada juga karena korsleting listrik. Karena itu, pengecekan jaringan listrik perlu dilakukan secara berkala. Terutama ketika hendak ke luar rumah dalam waktu lama agar tidak terjadi korsleting. “Namanya musibah atau bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Namun, potensi terjadinya bisa diminimalisir jika masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaannya,” ujarnya. (ar/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/