alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Rajab Menanam, Ramadan Memanen

Oleh: HM Buchori


BULAN Ramadan telah tiba. Bulan di mana umat Islam diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Bulan yang sangat istimewa dibandingkan bulan lainnya. Amalan sunnah pahalanya seperti amalan wajib. Sedangkan ibadah wajib akan dilipatgandakan pahalanya.

Karena banyak keistimewaan itu, sudah seharusnya umat Islam menyiapkan diri sebelum bulan Ramadan tiba. Mulai dari memperbanyak puasa sunnah, hingga ibadah lainnya. Sehingga, ketika tiba Ramadan, baik jasmani maupun rohani, sudah siap melakoni ibadah puasa Ramadan.

Salah satu ulama, Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadan adalah bulan memanen hasil tanaman.” Artinya, sejak sebelum memasuki bulan Ramadan, kita akan mendapatkan hasil yang baik, ketika bulan sebelumnya, sudah menyiapkan diri.

Di saat bulan Rajab misalnya, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Pada bulan ini juga diingatkan, bahwa perbuatan dosa atau maksiat akan mendapatkan ganjaran lebih berat. Sementara amal saleh akan menuai pahala lebih banyak. Hal ini dikatakan Ibnu Abbas,”Allah mengkhususkan empat bulan (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab) sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Lathaif Al-Ma’arif)

Tidak ada ibadah khusus di bulan Rajab ini. Tapi memperbanyak salat sunah dan puasa sunah, tentu lebih baik. Begitu juga dengan amal saleh seperti sedekah, menolong orang lain, membaca dan mengajarkan Alquran, dan lainnya.

Dan yang terpenting adalah belajar menahan diri dari berbagai kemaksiatan atau perbuatan dosa. Jika tidak, semua amalan sunah dapat diraih, maka meninggalkan semua keburukan, itu yang harus terus diupayakan. Misalnya, menahan amarah, mudah memaafkan, menyingkirkan penyakit hati seperti iri, dengki, prasangka buruk, riya’, dan lainnya.

Inilah bulan untuk membiasakan diri dalam ketaatan dan kebaikan serta menjauhkan diri segala kemaksiatan dan perbiatan dosa. Termasuk dosa tangan, telinga, dan mata melalui media sosial (medsos). Tulis, dengar, tontonlah yang baik-baik dan mengedukasi, tinggalkan semua yang merusak iman, hati, akhlak, dan jiwa.

Setelah sebulan penuh menanam, melatih diri, menempa jiwa, membiasakan jasmani dan rohani dalam ibadah dan kebaikan, maka sebulan setelahnya adalah merawat, yaitu dengan masuknya bulan Sya’ban. Ibadah yang dianggap berat, tetapi dipaksakan pada bulan Rajab, maka bulan Sya’ban nanti, tinggal membiasakan. Misalnya, puasa sunnah seperti yang dilakukan Rasulullah. Dalam salah satu hadis, dari Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di bulan ini mulai menyiram, menyuburkan, menumbuhkan, dan membesarkan ibadah dan amal saleh yang telah ditanam pada bulan sebelumnya. Kita merawat ibadah dan amal saleh tersebut dari penyakit riya’, sum’ah (ingin didengar), hawa nafsu, dan rasa berat dan malas.

Kita siram dengan keikhlasan, dipupuk dengan istikamah, diperkuat dengan sabar, dan dipelihara karena Allah SWT semata. Jika itu dilakukan selama sebulan penuh pada bulan Sya’ban, maka begitu Ramadan tiba, semuanya sudah ringan dan semata-mata berharap ridha dari Allah SWT.

Saat Ramadan tiba, tinggal memanen pahala dari ibadah yang telah dilakukan secara istiqamah sebelumnya. Karena, besarnya ganjaran amal ibadah puasa selama sebulan penuh, sayang jika baru mau melatih diri untuk beribadah dan berbuat baik di bulan Ramadan.

Bulan Ramadan adalah bulan yang seharusnya diisi dengan ibadah dan amalan imaanan wahtisaban (atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah). Dan itu bisa diraih setelah membiasakan diri sebelum memasuki bulan Ramadan. “Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam. (*)

Oleh: HM Buchori


BULAN Ramadan telah tiba. Bulan di mana umat Islam diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Bulan yang sangat istimewa dibandingkan bulan lainnya. Amalan sunnah pahalanya seperti amalan wajib. Sedangkan ibadah wajib akan dilipatgandakan pahalanya.

Karena banyak keistimewaan itu, sudah seharusnya umat Islam menyiapkan diri sebelum bulan Ramadan tiba. Mulai dari memperbanyak puasa sunnah, hingga ibadah lainnya. Sehingga, ketika tiba Ramadan, baik jasmani maupun rohani, sudah siap melakoni ibadah puasa Ramadan.

Salah satu ulama, Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadan adalah bulan memanen hasil tanaman.” Artinya, sejak sebelum memasuki bulan Ramadan, kita akan mendapatkan hasil yang baik, ketika bulan sebelumnya, sudah menyiapkan diri.

Di saat bulan Rajab misalnya, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Pada bulan ini juga diingatkan, bahwa perbuatan dosa atau maksiat akan mendapatkan ganjaran lebih berat. Sementara amal saleh akan menuai pahala lebih banyak. Hal ini dikatakan Ibnu Abbas,”Allah mengkhususkan empat bulan (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab) sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Lathaif Al-Ma’arif)

Tidak ada ibadah khusus di bulan Rajab ini. Tapi memperbanyak salat sunah dan puasa sunah, tentu lebih baik. Begitu juga dengan amal saleh seperti sedekah, menolong orang lain, membaca dan mengajarkan Alquran, dan lainnya.

Dan yang terpenting adalah belajar menahan diri dari berbagai kemaksiatan atau perbuatan dosa. Jika tidak, semua amalan sunah dapat diraih, maka meninggalkan semua keburukan, itu yang harus terus diupayakan. Misalnya, menahan amarah, mudah memaafkan, menyingkirkan penyakit hati seperti iri, dengki, prasangka buruk, riya’, dan lainnya.

Inilah bulan untuk membiasakan diri dalam ketaatan dan kebaikan serta menjauhkan diri segala kemaksiatan dan perbiatan dosa. Termasuk dosa tangan, telinga, dan mata melalui media sosial (medsos). Tulis, dengar, tontonlah yang baik-baik dan mengedukasi, tinggalkan semua yang merusak iman, hati, akhlak, dan jiwa.

Setelah sebulan penuh menanam, melatih diri, menempa jiwa, membiasakan jasmani dan rohani dalam ibadah dan kebaikan, maka sebulan setelahnya adalah merawat, yaitu dengan masuknya bulan Sya’ban. Ibadah yang dianggap berat, tetapi dipaksakan pada bulan Rajab, maka bulan Sya’ban nanti, tinggal membiasakan. Misalnya, puasa sunnah seperti yang dilakukan Rasulullah. Dalam salah satu hadis, dari Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di bulan ini mulai menyiram, menyuburkan, menumbuhkan, dan membesarkan ibadah dan amal saleh yang telah ditanam pada bulan sebelumnya. Kita merawat ibadah dan amal saleh tersebut dari penyakit riya’, sum’ah (ingin didengar), hawa nafsu, dan rasa berat dan malas.

Kita siram dengan keikhlasan, dipupuk dengan istikamah, diperkuat dengan sabar, dan dipelihara karena Allah SWT semata. Jika itu dilakukan selama sebulan penuh pada bulan Sya’ban, maka begitu Ramadan tiba, semuanya sudah ringan dan semata-mata berharap ridha dari Allah SWT.

Saat Ramadan tiba, tinggal memanen pahala dari ibadah yang telah dilakukan secara istiqamah sebelumnya. Karena, besarnya ganjaran amal ibadah puasa selama sebulan penuh, sayang jika baru mau melatih diri untuk beribadah dan berbuat baik di bulan Ramadan.

Bulan Ramadan adalah bulan yang seharusnya diisi dengan ibadah dan amalan imaanan wahtisaban (atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah). Dan itu bisa diraih setelah membiasakan diri sebelum memasuki bulan Ramadan. “Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/