alexametrics
25.9 C
Probolinggo
Wednesday, 18 May 2022

Mayoritas Nakes di Probolinggo Tertular Covid di Luar RS

MAYANGAN, Radar Bromo – Banyaknya tenaga kesehatan (nakes) di Kota Probolinggo yang terpapar Covid-19 mengundang tanda tanya. Ada yang menyebut mereka terpapar virus asal Wuhan, Tiongkok, itu di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) tempat mereka bekerja. Namun mayoritas mereka terpapar di luar fasyankes atau RS.

Hal itu diungkapkan Plt Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo dr. Abraar HS Kuddah. Ia membantah banyaknya nakes terpapar Covid-19 karena bekerja di fasyankes. Berdasarkan tracing yang dilakukan terhadap nakes yang terpapar, justru banyak yang bekerja di luar ruang isolasi Covid-19.

“Mungkin saya anulir. Garda terdepan dalam pandemi Covid-19 ini adalah masyarakat, anggota dewan, dan media. Tenaga kesehatan adalah garda terakhir,” ujar Abraar dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPRD Kota Probolinggo, Kamis (12/2).

Rapat ini juga dihadiri Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Probolinggo Nurul Hasanah Hidayati.

Abraar mengatakan, tenaga kesehatan yang terpapar di RSUD dr. Mohamad Saleh, tidak sampai seperlima dari tenaga kesehatan di RSUD. Yang terbanyak, justru bukan yang bekerja di ruang isolasi.

“Karena yang bekerja di ruang isolasi selama bertugas tidak boleh kembali ke rumah dan dilakukan rolling. Tetapi kami tempatkan di tempat karantina di PPI. Sebelum pulang dilakukan pemeriksaan. Saat kembali ke ruang isolasi, mereka juga diperiksa kembali,” jelasnya.

Sejauh ini, diketahui nakes yang terpapar korona kebanyakan bertugas di luar ruang isolasi. Sehingga, ada kemungkinan mereka terpapar bukan dari rumah sakit.

“Karena penyebaran virus korona itu tidak murni dari rumah sakit. Dari masyarakat juga bisa jadi vektor. Contohnya, saat di rumah sakit menggunakan APD (alat pelindung diri) lengkap. Tetapi ketika nakes ke pasar, kemungkinan terpapar. Namun Peraturan Kemenkes yang baru, mengharuskan untuk rutin dilakukan PCR. Jika ada nakes ruang isolasi yang terpapar Covid, maka langsung diisolasi di PPI,” ujarnya.

Pernyataan Abraar dikuatkan oleh Nurul Hasanah Hidayati. Menurutnya, nakes yang terpapar dari ruang isolasi tidak sampai 20 persen. “Tetapi yang melekat nakes juga individu. Karena setelah dilakukan tracing, nakes di luar ruang-ruang isolasi atau RSUD setelah di-tracing bukan masuk klaster nakes. Melainkan, masuk kluster lainnya. Berarti nakes ini adalah profesinya, tapi masuk kluster perjalanan,” jelasnya.

Diketahui, jumlah pasien positif Covid-19 di Kota Probolinggo terus bertambah. Kemarin bertambah 21 orang, sehingga total ada 2.081 pasien. Dari jumlah itu, 1.818 dinyatakan sembuh dan 142 pasien meninggal dunia. Dari ratusan pasien yang meninggal dunia, 5 orang bekerja di RSUD dr. Mohamad Saleh. Meliputi, seorang bidan, dua perawat, dan seorang dokter. Serta, seorang penunjang kesehatan. Yakni, sopir direktur RSUD. (put/rud)

MAYANGAN, Radar Bromo – Banyaknya tenaga kesehatan (nakes) di Kota Probolinggo yang terpapar Covid-19 mengundang tanda tanya. Ada yang menyebut mereka terpapar virus asal Wuhan, Tiongkok, itu di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) tempat mereka bekerja. Namun mayoritas mereka terpapar di luar fasyankes atau RS.

Hal itu diungkapkan Plt Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo dr. Abraar HS Kuddah. Ia membantah banyaknya nakes terpapar Covid-19 karena bekerja di fasyankes. Berdasarkan tracing yang dilakukan terhadap nakes yang terpapar, justru banyak yang bekerja di luar ruang isolasi Covid-19.

“Mungkin saya anulir. Garda terdepan dalam pandemi Covid-19 ini adalah masyarakat, anggota dewan, dan media. Tenaga kesehatan adalah garda terakhir,” ujar Abraar dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPRD Kota Probolinggo, Kamis (12/2).

Rapat ini juga dihadiri Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Probolinggo Nurul Hasanah Hidayati.

Abraar mengatakan, tenaga kesehatan yang terpapar di RSUD dr. Mohamad Saleh, tidak sampai seperlima dari tenaga kesehatan di RSUD. Yang terbanyak, justru bukan yang bekerja di ruang isolasi.

“Karena yang bekerja di ruang isolasi selama bertugas tidak boleh kembali ke rumah dan dilakukan rolling. Tetapi kami tempatkan di tempat karantina di PPI. Sebelum pulang dilakukan pemeriksaan. Saat kembali ke ruang isolasi, mereka juga diperiksa kembali,” jelasnya.

Sejauh ini, diketahui nakes yang terpapar korona kebanyakan bertugas di luar ruang isolasi. Sehingga, ada kemungkinan mereka terpapar bukan dari rumah sakit.

“Karena penyebaran virus korona itu tidak murni dari rumah sakit. Dari masyarakat juga bisa jadi vektor. Contohnya, saat di rumah sakit menggunakan APD (alat pelindung diri) lengkap. Tetapi ketika nakes ke pasar, kemungkinan terpapar. Namun Peraturan Kemenkes yang baru, mengharuskan untuk rutin dilakukan PCR. Jika ada nakes ruang isolasi yang terpapar Covid, maka langsung diisolasi di PPI,” ujarnya.

Pernyataan Abraar dikuatkan oleh Nurul Hasanah Hidayati. Menurutnya, nakes yang terpapar dari ruang isolasi tidak sampai 20 persen. “Tetapi yang melekat nakes juga individu. Karena setelah dilakukan tracing, nakes di luar ruang-ruang isolasi atau RSUD setelah di-tracing bukan masuk klaster nakes. Melainkan, masuk kluster lainnya. Berarti nakes ini adalah profesinya, tapi masuk kluster perjalanan,” jelasnya.

Diketahui, jumlah pasien positif Covid-19 di Kota Probolinggo terus bertambah. Kemarin bertambah 21 orang, sehingga total ada 2.081 pasien. Dari jumlah itu, 1.818 dinyatakan sembuh dan 142 pasien meninggal dunia. Dari ratusan pasien yang meninggal dunia, 5 orang bekerja di RSUD dr. Mohamad Saleh. Meliputi, seorang bidan, dua perawat, dan seorang dokter. Serta, seorang penunjang kesehatan. Yakni, sopir direktur RSUD. (put/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/